post image
KOMENTAR

PEREMPUAN cantik asal Iran ini mampu memikat perhatian dunia, saat ia muncul sebagai kandidat terbaik dalam kompetisi yang diadakan oleh Sparrho, perusahaan analisis tingkat tinggi asal Inggris.  Ia pun  kemudian disebut-sebut sebagai Einstein Perempuan Masa Kini.

Saat itu, Sparrho menatang para ilmuwan di seluruh dunia untuk membuat suatu karya tulis dengan topik yang serupa dengan teori yang dijabarkan oleh Einstein. Nama Zahra Haghani ternyata begitu mendominasi penilaian yang diajukan pihak Sparrho. Perempuan muslim asal Iran ini membuat kejutan besar.

Karya ilmiahnya, Matter May Matter, teori yang mengupas tentang penelitian terhadap Relavitas General dan Kosmologi Kuantum, berhasil memikat pihak Sparrho. Sparrho berpandangan ia adalah salah satu dari beberapa penulis yang secara statistik paling mirip dengan Einstein.

Tak hanya jenius, Zahra dianggap unik karena ia adalah satu-satunya peserta perempuan  dan muslim.

“Saya rasa pemikirannya mampu untuk mencapai kepintaran Einstein, prediksinya mengenail materi memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi. Bahkan pemikirannya melampaui apa yang sebelumnya kami targetkan,” ungkap Vivian Chan, pimpinan Sparrho dalam sebuah pertemuan dengan media.

Empat orang lainnya yang mengekor kesuksesaan Zahra ialah, Nikoden Poplaski (39), professor yang mencari cara agar manusia tidak menua, Hjime Sotani (36) yang kesehariannya berprofesi sebagai professor di bidang Astronomi, Shinji Tsujikawa (39), professor di bidang Sains, dan yang terakhir J. Brian Pitts (40) dosen dari Universitas Cambridge yang membidangi Biometric Gravitasi.

Zahra adalah seorang asisten professor di Damghan University of Iran. Gelar doktoralnya diraih saat usia24 tahun, tepatnya di universitas local Shadid Behesti University. Zahra mengakui bahwa ia termasuk anak yang sejak kecil tumbuh dengan rasa keingintahuan yang begitu besar.

“Waktu kecil, saya sangat sering melakukan eksperimen ilmu Fisika secara sederhana seperti kapal uap, ilusi mata, dan banyak lagi. Semuanya begitu mengasah kemampuan dan sangat mengasyikan,” ujar Zahra.

Sejak kecil ia bercita-cita ingin menjadi guru. Ayahnya adalah buruh di pabrik tepung dan ibunya adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya menjaga adik-adiknya. Kondisi negaranya yang selalu dalam konflik membuat Zahra harus mengubur impiannya. Sepulang sekolah ia hanya bisa melakukan segala sesuatunya di rumah.

Cristiano Ronaldo Sumbang 1,5 Juta Dolar AS untuk Warga Jalur Gaza di Bulan Ramadhan

Sebelumnya

Festival Budaya “Jelajah Nusantara” Meriah Dan Pikat Hati Warga Tiongkok

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News World