post image
Indahnya persahabatan/ Agung Hadiawan
KOMENTAR

MEMILIH sahabat itu susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Tricky. Ibarat memilih jodoh.

Ada yang berteman hingga puluhan tahun tapi tetap berstatus teman biasa, hanya sekadar teman satu jurusan di kampus atau rekan kerja satu kantor. Tidak lebih. Namun silaturahmi selalu terjalin baik.

Ada pula yang jatuh hati sejak kali pertama berjumpa. Merasa klik, sama-sama terkesima dengan attitude satu sama lain, lalu bersahabat hingga usia senja.

Namun memang, persahabatan biasanya teruji oleh waktu. Semakin lama hubungan pertemanan terbina, semakin intensif komunikasi terjalin, semakin eratlah bonding antarsahabat.

Saling memaklumi kekurangan masing-masing. Memuji kelebihan masing-masing tanpa ada rasa iri atau cemburu. Tidak ada baper, tidak ada sakit hati. Saling mendukung, meski mungkin raga tak bisa berjumpa setiap hari.

Rasulullah saw. dalam sebuah riwayat Muslim pernah mengatakan tentang pentingnya persahabatan.

"Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal menimbulkan perselisihan."

Sahabat memang menjadi orang nomor satu yang mendukung keputusan kita. Tapi sahabat sejati bukanlah orang yang tak pernah bersikap berlawanan dengan kita.

Sahabat sejati tidak hanya dia yang mengatakan "kamu pasti bisa" tapi juga dia yang mengatakan "ingat kesehatanmu, jangan memaksakan diri".

Sahabat sejati bukan hanya dia yang mengucapkan "barakallah fii umrik" di hari kelahiran kita, melainkan dia yang mengingatkan kita untuk bisa salat tepat waktu dan rajin bersedekah, menjaga mulut kita dari keusilan membicarakan aib orang lain, juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga kemuliaan diri.

Seperti yang disebutkan dalam sebuah ungkapan Arab, "Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka" yang artinya "Sahabat sejatimu adalah siapa yang senantiasa jujur (mengingatkan jika kita salah), bukan yang senantiasa membenarkanmu."

Persahabatan menjadi indah bila di dalamnya tak hanya diisi persamaan. Persahabatanlah yang membuat kita menghargai pemikiran berbeda yang ada di setiap kepala. Dalam persahabatan, kita belajar untuk bisa menekan ego, mengutamakan kepentingan bersama, tanpa harus kehilangan jati diri.

Jika kita memiliki circle positif seperti itu, beruntunglah kita. Karena yang kita punya bukan sekadar persahabatan, itulah persaudaraan till jannah. Insya Allah.




Air Mata Syukur untuk Imas, Azka, dan Gempita Shalihah Kamil

Sebelumnya

Deretan Tenda Merah Putih dan Senyum yang Melahirkan Kekuatan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur