Ilustrasi padang pasir/Freepik
Ilustrasi padang pasir/Freepik
KOMENTAR

KAUM Yahudi bukan hanya berhasil menggaet suku Quraisy, tetapi juga menghimpun suku-suku Arab lainnya yang terkenal doyan perang, karena itulah mereka disebut pasukan Ahzab (atau berhimpunnya suku-suku Arab).

Sepuluh ribu pasukan musuh bergerak serempak menuju Madinah, yang hanya dipertahankan oleh Rasulullah bersama tiga ribu muslimin. Mudah ditebak, pasukan Ahzab sudah seperti menyongsong kemenangan gemilang.

Salamah Muhammad Al-Harafi pada Buku Pintar Sejarah & Peradaban Islam (2011: 561) menjelaskan:

Perang Ahzab, nama lainnya adalah perang Khandaq, berlangsung pada bulan Syawal 5 H/Februari 626 M. Panglima pasukan kaum muslimin; Rasulullah. Jumlah pasukan kaum muslimin tiga ribu prajurit.

Panglima tertinggi pasukan musyrikin; Abu Sufyan Shakhr bin Harb. Jumlah pasukan Ahzab yang terdiri dari aliansi kabilah Ghathafan, Quraisy dan Yahudi, sepuluh ribu prajurit. Pencetus ide dan penggagas perang ini adalah Yahudi Bani Nadhir dan Yahudi Khaibar.

Pihak yang paling menonjol tentulah kaum Yahudi Bani Nadhir yang berambisi membalaskan dendam setelah diusir dari Madinah. Huyay bin Akhtab sebagai kepala suku Bani Nadhir mengajak pula suku Yahudi Bani Quraizhah yang masih bermukim di Madinah untuk berkhianat. Akibatnya, Rasulullah beserta umat Islam harus berhadapan dengan serangan dari luar dan juga dalam.

Rencana kaum Yahudi memang licik, tetapi rencana Allah jauh lebih dahsyat. Terlebih dulu hidayah Allah menuntun Salman al-Farisi untuk berkelana dari Persia hingga sampai di Madinah. Demi menjadi seorang muslim, dirinya dirampok, dirantai, dan diperbudak.

Setelah berhasil memerdekakan diri, Salman menemui Rasulullah mengikrarkan syahadat dan melepaskan agama Majusi. Siapa sangka perjalanan beratnya mendapatkan cahaya Islam justru menjadikan Salman al-Farisi sosok yang dikenang sepanjang sejarah sebagai aktor penting perang Ahzab.

“Wahai Rasulullah, dahulu jika kami orang-orang Persia sedang dikepung musuh, kami membuat parit di sekitar kami,” ungkap Salman.

Cepat sekali Nabi Muhammad mencerna ide brilian itu. Madinah dikelilingi Gunung al-Wabrah dan Gunung Sala di sisi barat serta sebuah gunung lagi di sisi timur, serta di belakangnya adalah Gunung Asir. Tersisalah hamparan dataran sempit sebelum bersambung lagi dengan gunung di sebelah kanan tersebut.

Koalisi pasukan musyrikin Quraisy Mekah, Arabia dan Yahudi akan berada dekat Gunung Uhud. Pasukan Ahzab akan dengan mudah menyerang dari arah utara menerjang Madinah. Rasulullah memerintahkan supaya digali parit pertahanan di antara Gunung al-Wabrah dan Gunung Sala hingga gunung di sebelah kanan.

Abdul Syukur al-Azizi dalam buku Sejarah Terlengkap Peradaban Islam (2017: 51) menerangkan:

Kisah heroik dalam Perang Khandaq bermula dari ide brilian Salman al-Farisi yang kepada Nabi untuk membangun parit. Ide itu sesungguhnya berlatarkan kebiasaan orang-orang di kampung halamannya, Persia. Mereka akan membangun parit pertahanan ketika dalam situasi takut diserang, terutama oleh pasukan berkuda. Itulah pula yang dialami oleh muslimin saat itu.

Pembangunan parit seperti itu sebenarnya tidak dikenal dalam strategi perang orang Arab. Mereka hanya mengenal teknik maju, mundur, gempur, atau lari. Meskipun demikian, Nabi Muhammad saw. sepakat dengan usul Salman. Bahkan, beliau pulalah yang membuat peta penggalian, memanjang dari utara ke selatan.

Waktu itu, setiap sepuluh orang diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter (lebar 4,62 meter dan dalam 3,234 meter). Setelah enam hari (dalam riwayat lain, 10 hari), panjang parit yang berhasil digali mencapai 5.544 meter.        

Nabi Muhammad memimpin langsung penggalian parit bersama penduduk Madinah. Masalahnya penggalian terkendala bebatuan keras, suhu yang sangat ekstrim dinginnya, dan yang terparah adalah serangan lapar yang perih.

Sebelum perang Ahzab terjadi, penduduk Madinah sudah menghadapi krisis pangan yang teramat berat, penyebabnya musim panen yang tidak mencukupi. Situasi Madinah semakin parah mengingat perang Ahzab membuat Rasulullah harus memenuhi konsumsi untuk ribuan penduduk.

Seluruh penggali parit hanya mendapatkan jatah ransum berupa gandum seukuran telapak tangan. Kemudian gandum itu dicampur dengan minyak. Itulah jatah yang dinikmati saat bekerja keras menggali parit.

Kontan saja para sahabat mengeluhkan kelaparan yang luar biasa. Saking beratnya situasi, demi menahan lapar mereka mengikatkan batu di perut. Keluhan mereka tidak dijawab dengan perkataan, Rasulullah menyingkap pakaian sehingga terlihat dua batu yang mengganjal perutnya.

Abul Hasan al-Ali Hasani an-Nadwi dalam buku Sirah Nabawiyah (2020: 392) mengisahkan:

Rasulullah saw. ikut bekerja menggali parit sambil mendorong umat Islam untuk mencari pahala. Umat Islam pun bekerja menggali parit bersama Rasulullah saw. Mereka bekerja keras melakukan penggalian. Saat itu suasana sangat dingin. Mereka tidak mendapatkan makanan berlebih, kecuali sekadar menutup hajat untuk mengganjal perut. Dan, kadang, mereka tidak mendapatkannya sama sekali.

Abu Thalhah pernah mengatakan, “Kami mengeluhkan rasa lapar kepada Rasulullah saw., dan kami melepaskan satu batu yang kami ganjalkan ke perut kami. Ternyata, Rasulullah saw. mengganjal perutnya dengan dua buah batu.”

Dalam situasi yang sangat sulit, Rasulullah memilih jalan terjal perjuangan dan merasakan yang kelaparan lebih berat. Beliau benar-benar pemimpin sejati.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah