Ilustrasi/Getty Images
Ilustrasi/Getty Images
KOMENTAR

BETAPA optimisnya Nabi Ibrahim dan pasangannya Sarah, juga Nabi Zakaria dan istrinya. Hingga rambut memutih, kedua pasangan itu tiada henti memanjatkan doa memohon keturunan. Mereka tidak pernah kecewa dalam berdoa, karena sangat percaya dengan keagungan Allah.

Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (Qs Maryam: 4)

M Quraish Shihab pada buku Doa dalam Al-Quran dan Sunnah (2022: 40-41) memaparkan doa Nabi Zakaria As yang bisa ditemukan pada pembukaan surah Maryam. Di sana dijelaskan bahwa Nabi Zakaria As berdoa menyeru Tuhan pemeliharanya dengan seruan yang sangat halus/lemah lembut sehingga tersembunyi, yakni tidak didengar kecuali oleh Allah Swt dan hati kecil Nabi Zakaria As.

Doa Nabi Zakaria As di atas sungguh mengagumkan! Beliau memulai dengan menampakkan kelemahannya, sambil mengakui bahwa beliau tidak pernah dikecewakan Allah. Beliau sadar, Allah Maha Kuasa sehingga kendati telah tua dan istri beliau mandul, dan menurut ukuran manusia sangat mustahil mendapat keturunan, namun itu tidak menghalangi beliau bermohon. Terbukti, doa-doanya diterima Allah.

Nabi Zakaria adalah contoh umat Allah yang tidak pernah sekalipun kecewa dalam doa-doanya. Kekuatan iman yang membuatnya tidak pernah memiliki rasa kecewa kepada Allah Swt.

Sementara, banyak sekali manusia yang kecewa dalam berdoa, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sebab tidak kunjung dikabulkan Allah. Mereka memaksakan doa-doa tersebut agar cepat dikabulkan.

Kebanyakan orang berpikir, doa itu bagaikan ucapan pemintaan terhadap lampu Aladin. Begitu disampaikan, akan langsung dikabulkan. Tapi, tidak demikian! Pikiran seperti itulah yang menimbulkan kekecewaan. Keajaiban lampu Aladin hanyalah dongeng, sedangkan mukjizat doa bekerja bersama rahasia Ilahi.

Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia (Allah) menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Kun fayakun (Jadilah!’ Maka, jadilah [sesuatu] itu).” (Qs Yassin: 82)

Kalimat kun fayakun ini sungguh menarik diamati. Kun adalah kata amr (perintah) dari Allah, yang artinya jadilah! Dan fayakun adalah kata berbentuk mudhari’ (maka jadilah sesuatu itu). Berhubung fayakun bentuknya fi’il mudhari’ (present), maka dibutuhkan proses dari terwujudnya perintah Allah tersebut.

Apabila kita berdoa agar diberi keturunan, ketika Allah kabulkan, ada proses dalam rangka mewujudkannya. Dalam menjalani proses itulah yang kebanyakan manusia kurang sabar. Bayangkan, Nabi Muhammad yang notabene kekasih Allah (habibullah),harus berjuang di fase Makkah dan Madinah sekitar 23 tahun dengan pengorbanan yang luar biasa. Padahal, kurang apa doa yang dipanjatkan Rasulullah. Namun beliau tidak pernah kecewa dan yakin jika suatu saat janji kebenaran itu akan nyata.

Ada banyak alasan bagi kita untuk kecewa di dunia ini. Di dalam rumah, kita kecewa dengan keluarga. Di jalanan kecewa dengan polisi, di kantor kecewa dengan bawahan, di pasar kecewa dengan pemerintah. Lama kelamaan kita kecewa dengan diri sendiri dan berujung kecewa pada Tuhan. Muaranya, kita akan semakin dibuat tidak berdaya oleh rasa kecewa.

Lucunya, kekecewaan itu tidak berbanding lurus dengan banyaknya usia. Kematangan mental tidak pernah terhubung baik dengan bertambahnya umur seseorang. Idealnya, semakin tua seseorang semakin sabar dan optimis.

Setangkup doa yang sangat sulit dinalarkan oleh akal manusia kebanyakan, tetapi akhirnya dikabulkan oleh Allah. Nabi Ibrahim mendapatkan putra, yakni Ismail dan Ishak. Sedangkan Nabi Zakaria memperoleh putra yang santun bernama Yahya.

Betapa mendalamnya perkataan Nabi Zakaria, bahwa dirinya tidak pernah kecewa dalam berdoa. Inilah bahan renungan yang layak kita teladani di setiap bait-bait doa.  Berhati-hatilah dengan rasa kecewa, salah-salah rasa kecewa dalam doa membuat kita mengingkari kebesaran Ilahi.




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur