Seorang anak laki-laki menangisi saudaranya yang menjadi korban serangan Israel di Rafah/AFP
Seorang anak laki-laki menangisi saudaranya yang menjadi korban serangan Israel di Rafah/AFP
KOMENTAR

SERANGAN udara Israel pada Jumat malam (19/4) terhadap sebuah rumah di kota Rafah paling selatan Gaza menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk enam anak-anak, kata otoritas rumah sakit.

Pemakaman diadakan pada hari Sabtu (20/4) bagi mereka yang meninggal dunia dalam serangan mematikan di lingkungan Tal as-Sultan tersebut.

Di Rumah Sakit al-Najjar, lokasi kamar mayat utama di kawasan itu, para kerabat menangis dan memeluk jenazah anak-anak yang diselimuti kain putih.

Korban tewas termasuk Abdel-Fattah Sobhi Radwan, istrinya Najlaa Ahmed Aweidah dan ketiga anak mereka, menurut saudara iparnya Ahmed Barhoum. Sedangkan Barhoum kehilangan istrinya, Rawan Radwan, dan putri mereka yang berusia lima tahun, Alaa.

“Ini adalah dunia yang tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan moral,” kata Barhoum kepada The Associated Press sambil menangis seraya menggoyang tubuh Alaa dengan lembut.

“Mereka mengebom sebuah rumah yang penuh dengan pengungsi, perempuan dan anak-anak. Satu-satunya martir adalah perempuan dan anak-anak.”

Adegan pemindahan jenazah dari Rumah Sakit al-Najjar ke pemakaman terakhirnya sungguh memilukan, seperti dilaporkan Al Jazeera dari Rafah.

Mayoritas adalah anak-anak, terbungkus kain putih berlumuran darah. Dokter dari rumah sakit menggambarkan mereka mengalami luka parah, berlumuran darah.

Luka bakar anak-anak itu sangat parah bahkan jika mereka berhasil sampai ke rumah sakit hidup-hidup, mereka akan segera kehilangan nyawa karena tidak mungkin luka seperti itu dapat segera diobati mengingat situasi saat ini.

Wartawan Al Jazeera mengatakan militer Israel melanjutkan serangannya ke kota itu pada hari Sabtu. Dan pertempuran tidak pernah berhenti.

Israel sebelumnya memang telah menyatakan siap melakukan invasi besar-besaran ke Rafah, yang menampung lebih dari separuh populasi Gaza yang berjumlah sekitar 2,3 juta jiwa, dan merupakan satu-satunya wilayah yang sejauh ini luput dari serangan pasukan darat Israel.

Menurut dua pemantau perang Gaza, Institute for the Study of War (ISW) dan Critical Threats Project (CTP), para pejabat Amerika Serikat dan Israel mengadakan pertemuan virtual tingkat tinggi pada hari Kamis lalu untuk membahas serangan Rafah.




Lonjakan Kasus COVID-19 di Singapura, Menkes Budi Gunadi Sadikin: Jangan Panik, Tingkat Penularan dan Angka Kematian Sangat Rendah

Sebelumnya

Tegaskan Kenaikan UKT Hanya untuk Mahasiswa Baru, Nadiem Makarim: Yang Lebih Mampu Bayar Lebih Besar, Yang Tidak Mampu Bayar Lebih Sedikit

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News