post image
KOMENTAR

TAHUN bisa baik dan buruk tergantung pada laku lampah manusianya. Zaman bisa edan atau waras tergantung penghayatnya.

Kita kerapkali mengutuk waktu. Kita acapkali merutuk tahun dengan senarai pernyataan yang  memilukan dan atau mengenaskan. "Tahun 2018 adalah tahun malapetaka", misalnya. Atau "Tahun ini benar-benar tahun fitnah," contohnya. Atau bisa juga, "Tahun yang nggak asyik buat bisnis." Dan seterusnya. Dan macam-macam ujaran serupa lainnya.

Di sana, dalam cacian dan rutukan terhadap tahun yang pilu atau tahun yang celaka atau tahun yang nahas itu ada ikhtiar pemakzulan waktu dengan subjek, dengan sosok yang mengalaminya, dengan kita: manusia. Adilkah? Elokkah?

Tahun bencana. Tahun sejahtera. Diworo-woro di penghujung tahun untuk memuluskan langkah dan memastikan arah di tahun sesudahnya. Menjadi bekal untuk melangkah dan menggapai impian dan harapan penuh asa. Dan kala tujuan tak tergapai, kembali kita merutuki zaman. Menyalahkan waktu.

Bila kita merenung, menapak tilas semua kejadian dalam hidup kita, pada akhirnya—semestinya—kita mengerti bahwa tidak ada peran zaman di dalamnya. Bukan zaman yang memilih langkah keliru. Bukan waktu yang berbuat jahat melawan peradaban. Karena zaman diwarnai oleh penghuninya. Manusia. Kita. Masih adilkah menyalahkan waktu?

Kawan, waktu cuma potongan angka, cuma nomor yang tanggal satu per satu dari kalender kita. Ia bukan apa-apa tanpa Anda, tanpa saya, tanpa kita. Zaman yang kita tuding-tuding kelam dan berjelaga itu bakal kosong melompong tanpa kita terlibat di dalamnya. Tahun bisa baik dan buruk tergantung pada laku lampah manusianya. Zaman bisa edan atau waras tergantung penghayatnya.  

Kita, para penghayat zaman, asyik mengutuk zaman tanpa menyadari bahwa apa yang kita perbuat tak jarang menodai dan mengotori zaman. Kita, asyik masyuk dengan segala kepentingan diri sendiri, enggan menoleh dan bertoleransi pada kepentingan orang lain. Kita, berkutat pada bagaimana memakmurkan diri, kepala ditegakkan setinggi-tingginya tanpa menengok kesusahan yang lain. Dan tetap, kita tak jua puas mencela zaman.

Syahdan, Imam Syafi'i dalam kitab Diwan-nya pernah mendedah begini:

"Kita sering mencela zaman, padahal zaman tidak bersalah. Kitalah sesungguhnya yang salah. Kita telah menyalahgunakan zaman. Kita sering mencaci zaman yang tak berdosa. Seandainya zaman bisa bicara, ia pun akan mencaci kita."

Jangan Mudah Merendahkan Orang Lain

Sebelumnya

Doa Saat Kita Dipuji

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Islamic World