post image
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

RUMAH yang ditinggali oleh multi-generasi di dalamnya bukan lagi hal yang aneh saat ini. Fenomena semacam itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di mancanegara.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan asuransi Aviva tahun 2016 lalu bahkan memperkirakan bahwa fenomena multi-generasi hidup dalam satu atap akan semakin marak di masa depan. Penelitian itu memperkirakan bahwa jumlah rumah tangga yang memiliki dua keluarga atau lebih akan meningkat drastis pada tahun 2025 mendatang.

Meski tampak ramai, namun bukan hal yang mudah untuk bisa hidup rukun di dalam satu rumah yang berisi kakek-nenek, orangtua dan anak-anak. Potensi konflik akan sangat mungkin terjadi.

Clare Badham, salah satunya. Wanita 53 tahun asal Inggris itu tinggal di rumah bersama dengan pasangannya, Rob Breeze yang berusia 45 tahun, dan putranya Jove yang berusia 13 tahun, serta kedua orangtuanya, yakni Roy dan Oriel Simpson yang masing-masing berusia 84 dan 83 tahun.

Dia mengaku, tinggal bersama tiga generasi dalam satu atap bukan perkara mudah. Banyak masalah umum yang timbul, seperti kurangnya privasi, pertengkaran karena uang dan hal-hal kecil lainnya di dalam rumah.

Meski begitu, seperti dikabarkan BBC, dia menekankan bahwa bukan tidak mungkin untuk hidup rukun dalam satu atap. Kuncinya adalah pengaturan domestik yang baik. Hal itulah yang dia jalankan bersama keluarganya.

Mengutip pengalaman Clare, setidaknya ada lima tips yang bisa diterapkan untuk bisa hidup rukun dengan multi generasi di dalam satu rumah.

1. Memiliki kamar sendiri

Salah satu hal yang menurut Clare akan sangat membantu menjaga ketentraman dalam satu atap adalah memiliki kamar pribadi.

"Pastikan Anda memiliki ruang dan privasi Anda sendiri," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa di dalam rumahnya, kedua orang tuanya memiliki ruang tamu yang terpisah. Hal itu membantu mengurangi ruang untuk pertengkaran tentang apa yang harus ditonton di televisi.

Selain itu, mereka juga memiliki kamar pribadi masing-masing untuk tetap menjaga privacy. Dan hanya berbagi area dapur serta ruang makan bersama.

2. Jangan menyimpan keluhan

Salah satu hal yang kerap menjadi sumber pertengkaran ketika tiga generasi tinggal dalam satu atap adalah pengaturan rumah. Banyak kepala berarti banyak ide serta keinginan akan pengaturan rumah yang berbeda.

Hal itu juga dirasakan oleh Clare. Dia mengaku bahwa dia dan pasangannya cenderung lebih berantakan, namun kedua orangtuanya jauh lebih rapih dan terorganisir.

Pada awalnya Clare sering mendapati dirinya terperangkap di tengah.

"Semua orang mengeluh.Pasangan saya mengeluh kepada saya tentang mereka (orangtua) dan mereka (orangtua) mengerang kepada saya tentang dia," ujarnya.

Untuk menyiasati permasalahan tersebut dia menekankan pentingnya sikap saling terbuka. Clare mendorong agar semua orang yang tinggal di dalam rumah untuk jujur dan terbuka tentang segala masalah atau keluhan yang mereka miliki.

"Salah satu ide yang dilakukan adalah duduk bersammma untuk berkumpul setiap bulan, sehingga ada momen untuk mengutarakan perasaan yang terpendam atau keluhan," jelasnya.

3. Sepakati masalah keuangan

Dalam kasus Clare, dia dan pasangannya memiliki hak pada sepertiga properti tersebut. Sedangkan orangtuanya, memiliki dua pertiga sisanya. Dengan demikian, Clare harus menerima bahwa kedua orangtuanya memiliki ruang yang lebih besar pada rumah tersebut.

Selain itu, dia juga menekankan pentingnya pengaturan keuangan yang sehat. Di keluarganya, dia dan orang tuanya berbagi tanggungan akan biaya pajak dan tagihan dewan.

Pengaturan keuangan itu dilakukan oleh pasangan Clare, Roy. Dia bertanggung jawab atas keuangan dan merencanakan anggaran rumah tangga tahunan yang uangnya berasal dari semua orang dewasa yang tinggal di rumah tersebut.

4. Pembagian tugas yang jelas

Viral Kisah Pilu Rumah Tangga Layangan Putus, Begini Cerita Lengkapnya

Sebelumnya

Tiga Tips Jitu Kurangi Stres Ala Marie Kondo

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Family World