post image
KOMENTAR

YANG paling utama dan jangan pernah disepelekan adalah support fisik. Mengapa harus fisik dahulu yang diperhatikan? Jawabannya tentu saja mental yang bagus akan terbentuk dari kondisi kesehatan fisik yang prima. Anak-anak harus dibiasakan sarapan dan pastikan mereka tidak mengkonsumsi makanan yang dapat memancing reaksi kurang baik bagi kesehatan. Jangan sampai ketika anak sedang mengisi soal, perutnya lapar atau bahkan sakit perut yang dapat mengganggu konsentrasi. Selain itu pastikan anak cukup tidur dan istirahat sebelum ujian. Jadi hindari tidur larut apapun alasannya. “Misalnya ujian dimulai hari Senin, pada Minggu malam pastikan bahwa anak cukup beristirahat”, ujar Psikolog Eko Handayani, M.Psi atau yang biasanya disapa Ani.

Kemudian, jika ujian menggunakan sistem penilaian berbasis komputer, pastikan si anak sudah terbiasa dengan itu. Misalnya cara melingkari jawaban yang tepat menggunakan pensil, pastikan juga membawa pensil cadangan. Intinya adalah, utamakan yang fisik-fisik dulu dipersiapkan dengan baik, setelah itu baru ke persiapan mental. Menurut Ani, mental itu tidak bisa dipersiapkan instan dalam satu hari. Jika si anak sudah terbiasa mengikuti les dan latihan ujian (try out), tugas orangtua lebih pada mempertahankan kepercayaan diri anak, jangan menambah kegelisahan anak misalnya dengan kalimat “Siap tidak nak ? besok ujian lho..” atau “Jangan santai-santai besok ujian”. Lebih baik katakan dengan nada tenang “ Sudah biasa kok, sudah sering try out, besok tinggal ujian saja.”  Pun ketika orangtua menyuruh anak-anak untuk tidur, tidak perlu dengan nada tinggi maupun dengan intonasi yang justru membuat anak cemas dan akhirnya akan menjatuhkan mental mereka hingga keesokan hari.

“Bagi saya, kalau sudah detik-detik terakhir (seminggu) sebelum ujian, sudah tidak ada gunanya lagi mengevaluasi kekurangan atau kelemahan si anak di dalam bidang mata pelajaran tertentu. Evaluasi harus dilakukan jauh-jauh hari.” Memang, pada sebagian anak, membuka buku atau membaca-baca buku satu hari sebelum ujian dapat menambah kepercayaan dirinya, jadi biarkan saja. Intinya jauhi sikap ‘ngotot’. Kalaupun si anak tidak menguasai di salah satu BAB pelajaran, biarkan saja, dan pelajari apa yang mereka bisa. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, jangan pernah memaksakan anak untuk ‘mengejar’ pelajaran yang mereka tidak kuasai,” jelas Ani.

Beda Penanganan Anak Usia SD-SMP-SMA

Berbedakah penanganan setiap anak ? Menurut Ani, perbedaannya hanya terletak pada cara berpikir. Anak-anak SD cara berpikirnya masih sangat konkrit-operasional. Mengajari anak SD tidak bisa hanya menyuruh mereka untuk membaca apa yang tertera di buku tetapi harus menterjemahkan hal abstrak tersebut menjadi hal yang konkrit. Mereka juga bisa dengan mudah terpengaruh oleh lingkungan, misal ibunya yang uring-uringan saat anak akan menghadapi ujian akhir, maka anaknya pun akan uring-uringan. Untuk membuat santai anak, ibunya pun harus menciptakan suasana santai. Mencoba pahami ketakutan anak-anak dengan mengajaknya berbicara dari hati kehati.

Ujian akhir itu laksana ‘berperang’, anak-anak harus tetap dipersiapkan senjatanya (fisik dan mental) dengan baik, baru dapat menghadapi ujian dengan ‘santai’. Sesungguhnya bagi anak, ujian itu bukan hal yang baru, karena sebelumnya anak-anak sudah terlatih mengerjakan soal-soal, persepsi orangtualah yang menjadikan itu sebagai hal yang baru.

Mengapa dahulu anak-anak bisa santai menghadapi ujian? Menurut Ani, karena dulu ujian dianggap hal yang biasa saja dan semuanya dijalani santai, berbeda dengan sekarang yang kerap membuatkan moment khusus, misalnya sungkem pada orangtua sebelum ujian yang diselenggarakan di sekolah. Memang harus meminta izin kepada orangtua agar ujian berjalan lancar, tetapi tidak hanya saat mau UN misalnya, setiap mau ujian semester pun harus meminta izin dan doa kepada orangtua di rumah.

Dalam beberapa kasus, ada siswa yang harus melaksanakan ujian di luar sekolahnya sehari-hari. Misal untuk sekolah yang gedungnya dalam tahap renovasi. Sehingga mereka akan mengalami stres dua kali lebih besar. Untuk menanganinya, pihak sekolah dan orangtua harus aktif melakukan observasi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menuju kesana, posisi ruang kelas, fasilitas kamar mandi, sehingga ketika anak berada di tempat baru, dia tidak akan terlalu canggung. Berikan gambaran pada anak meskipun nanti yang mengawas bukan gurunya, tetapi mereka akan baik-baik saja.

Untuk anak SMP dan SMA. Kelebihannya mereka sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi ujian sebelumnya, tetapi hal itu bisa juga mempengaruhi bagaimana ketika dia ujian sebelumnya. Misal, Ujian Nasional sebelumnya terasa ‘mengancam’ lantaran nilai yang kurang memenuhi standar, maka ketakutan itu akan muncul lagi.

Waspada, Mom. Siblings Rivalry Terjadi Pada Anak-anak Anda

Sebelumnya

The Play Years, Mengajari Anak dengan Bahagia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Parenting World