post image
KOMENTAR

DI selatan Spanyol terbentang sebuah kota bernama Granada. Kota yang berada di kaki pegunungan Sierra Nevada ini akan membawa kita bernostalgia tentang kejayaan Islam di Spanyol. Cahaya Islam pernah menyinari negeri Matador tersebut selama kurang lebih 700 tahun. Granada menjadi benteng Islam terakhir sebelum diambil alih oleh penguasa Katolik di penghujung abad ke-15.

Keinginan untuk melihat jejak-jejak peninggalan Islam tersebut membawa saya ke kota yang berada di wilayah Andalusia ini. Saya menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam dengan menumpang bis malam dari Madrid. Menjelang subuh, saya sudah menjejakkan kaki di Granada.

Alhambra

Istana Alhambra menjadi tujuan pertama saya ketika menapaki Granada. Kata Alhambra berasal dari bahasa Arab “Al-Hamra” yang berarti merah, sesuai dengan warna tembok-tembok istana tersebut. Istana yang berdiri di atas bukit Al-Sabika ini semula hanya berupa benteng pertahanan sampai datangnya Muhammad bin Al-Ahmar (atau lebih dikenal sebagai Muhammad I) yang kemudian memugarnya menjadi sebuah istana.

Cara praktis menuju Alhambra adalah dengan menaiki sebuah minibus C3 yang berangkat dari Plaza Isabel La Catolica. Sangat disarankan untuk membeli tiket masuknya secara online beberapa hari sebelum kunjungan. Tiket masuk istana merah ini sering habis karena minat yang sangat tinggi dari para wisatawan. Kalau tidak sempat membeli online, datanglah lebih pagi seperti yang saya lakukan.

Ketika saya sampai di gerbang masuk Alhambra, sudah ada antrean pembeli tiket meskipun loket masih tutup. Alhambra buka setiap hari mulai pukul 8:30 dengan harga tiket masuk sebesar 14 euro. Tempat-tempat yang dapat dikunjungi di Alhambra antara lain Nasrid Palace, Alcazaba, dan Generalife.

Perlu diperhatikan, khusus Nasrid Palace hanya dapat diakses pada waktu yang tertera pada tiket. Pada tiket saya tertulis jam 9, sehingga istana tersebut menjadi tempat pertama yang saya masuki di Alhambra.

Memasuki Nasrid Palace, bersiaplah untuk terpukau dengan maha karya arsitektur khas Islam yang tersaji di dalamnya. Ukiran-ukiran indah yang cukup rumit dan detail menghiasi dinding-dinding istana termasuk kaligrafi bertuliskan “Wa laa ghaalib Ilallah”. Tulisan yang berarti “Tidak ada kemenangan selain milik Allah” tersebut menghiasi hampir setiap dinding istana dalam berbagai bentuk seperti horizontal, vertikal, maupun lengkungan. Sungguh menakjubkan!

Berbagai macam ruangan terdapat di dalam Nasrid Palace. Salah satu yang cukup menarik adalah Court of The Myrtles, sebuah ruangan terbuka yang di tengahnya terdapat sebuah kolam bentuk persegi. Sisi panjang kolam tersebut dipagari tanaman myrtles. Bayangan dari bangunan di sekitarnya nampak terpantul di kolam tersebut. Indah sekali.

Melangkah ke utara dari Court of The Myrtles, berdiri Hall of Ambassadors. Tempat ini berfungsi sebagai ruang tahta sekaligus tempat menerima tamu dari luar. Di langit-langit ruangan ini terhampar ukiran tujuh lapisan bintang-bintang yang konon katanya menggambarkan tujuh tingkatan surga seperti yang digambarkan dalam Al Quran. Tepat di bawahnya di masing-masing sisi kubahnya, terdapat lima buah jendela sebagai simbol shalat lima waktu yang menjadi syarat untuk mencapai tujuh tingkatan surga tersebut.

Salah satu ruangan yang tak boleh dilewatkan adalah Patio of the Lions, sebuah ruangan terbuka yang berada di sisi timur Court of The Myrtles. Pada saat saya berkunjung ke sana, bagian tengah ruangan tersebut ditutupi karena sedang direnovasi. Padahal di sana terdapat semacam bak berbentuk lingkaran yang ditopang oleh 12 patung singa dan saya sangat ingin melihatnya langsung.

Menurut sejarah, setiap patung singa ini mengalirkan air mancur dari mulutnya sesuai dengan urutan jam yang berlaku dan digunakan untuk berwudhu. Sungguh mahakarya yang tak ternilai! Sayangnya, fungsinya sebagai penunjuk waktu sudah tidak dapat dinikmati lagi. Setelah Alhambra jatuh hingga sekarang, belum ada satu pun yang bisa mengembalikan fungsi air mancur tersebut seperti semula.

Di sisi selatan Patio of the Lions, terdapat sebuah ruang bernama Hall of Abencerrajes. Memandang ke langit-langit ruangan tersebut, mata dibuat terpana menyaksikan keindahan kubahnya. Kubah berbentuk bintang tersebut dihiasi oleh ornamen-ornamen menyerupai stalaktit dan dipagari oleh rangkaian kaligrafi. Sangat cantik!


Setelah puas mengitari Nasrid Palace, saya melanjutkan tur Alhambra menuju Alcazaba. Alcazaba merupakan bangunan tertua di Alhambra dan semula raja bermukim di sini. Setelah Nasrid Palace dibangun, Alcazaba hanya digunakan untuk keperluan militer dan benteng pertahanan. Salah satu yang bisa dilihat di Alcazaba adalah sisa-sisa reruntuhan dari markas sekaligus tempat tinggal para prajurit Moor yang terdapat di Arms Square.

Alcazaba juga memiliki beberapa menara, salah satunya yang cukup menarik adalah The Watch Tower (menara lonceng). Anda bisa naik ke menara lonceng tersebut, dari sana tersaji pemandangan memukau kota Granada dari ketinggian 26 meter yang didominasi rumah-rumah bercat putih dengan pepohonan hijau di sekitarnya.

Generalife menjadi tempat terakhir yang saya kunjungi di Alhambra. Penamaan Generalife berasal dari bahasa Arab “Jannat Al-Arif” yang berarti taman arsitek. Konon, taman tersebut dirancang untuk merefleksikan keindahan taman surga. Sepanjang taman ini terdapat pohon-pohon hijau, bunga aneka warna, serta kolam-kolam dengan air mancur yang sungguh menyejukkan mata. Di tempat inilah para raja menghabiskan waktu untuk rehat sejenak.

Perkampungan Tua Albaycin

Belum sah ke Granada kalau belum mengunjungi Albaycin, sebuah perkampungan tua bangsa Moor. Jalan-jalan sempit berbatu yang diapit rumah-rumah bercat putih menjadi ciri khasnya. Untuk mencapai perkampungan ini, saya menaiki minibus C1 yang berangkat dari Plaza Nueva.

Albaycin berada di bukit yang berseberangan langsung dengan Alhambra, hingga keindahan istana merah tersebut secara keseluruhan dapat dinikmati dari sini. Sebuah lapangan bernama Mirador de San Nicolas menjadi tempat terbaik untuk mengagumi istana hasil karya bangsa Moor ini. Sungguh menyenangkan bersantai sambil duduk-duduk di salah satu bangku yang tersebar sambil disuguhi pemandangan Alhambra yang memukau.  

Tak jauh dari Mirador de San Nicolas, berdiri Masjid Agung Granada. Rasa haru meliputi diri ketika bisa mendengar suara adzan secara langsung untuk pertama kalinya setelah lebih dari sebulan berada di Spanyol. Saya pun menuju tempat berwudhu dan kemudian menunaikan sholat Ashar.

Desain masjid Agung Granada ini sangat sederhana, lebih menyerupai bangunan rumah. Tidak seperti kebanyakan masjid yang berkubah setengah lingkaran, masjid ini memiliki kubah berbentuk piramida. Masjid bercat putih ini hanya dibuka pada waktu sholat saja.


Plaza Nueva

Mengintip Playlist Musim Panas Barack Obama

Sebelumnya

Kental Akan Budaya Dan Romantika, Film Dokumenter Bali: Beats of Paradise Tuai Apresiasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga