Ilustasi tidur disaat puasa Ramadan membantu menjaga kesehatan mental/Net
Ilustasi tidur disaat puasa Ramadan membantu menjaga kesehatan mental/Net
KOMENTAR

ADA yang janggal ketika kita berbicara tentang stres saat Ramadan. Seketika muncul pertanyaan, bagaimana mungkin bulan yang suci dan penuh berkah ini bisa membuat seseorang tertekan dan stres?

Bagaimana jika kenyataannya memang demikian? Allah menciptakan Ramadan untuk menghadirkan stres, di mana ketika manusia dengan perilaku menyimpang harus mengubah tingkah lakunya menjadi lebih baik, untuk meraih berkahnya bulan suci. Sungguh suatu tekanan yang bisa berujung pada stres.

Atau ketika pengeluaran membengkak untuk memenuhi kebutuhan berbuka dan sahur, betul-betul menguras tenaga dan kekhususkannya. Belum lagi deretan panjang kebutuhan Lebaran, bisa saja menguras emosi siapapun yang tidak siap. Lucunya, hanya disebabkan kondisi lapar dan dahaga membuat jiwa seseorang labil dan gampang meledak-ledak.

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan, stres selama Ramadan muncul karena kita yang menciptakannya. Jika demikian, kita pulalah yang berkewajiban mencari obatnya.

Dalam buku Puasa Sebagai Terapi karya Dyayadi MT, sebuah riset kedokteran menyebutkan stres telah memicu timbulnya berbagai penyakit berat, seperti cardiovascular (pembuluh darah dan jantung), hipertensi, ginjal, tumor, kanker, diabetes, insomnia dan lain-lain. Tak heran jika WHO menyebutkan stres merupakan pembunuh terbesar di dunia dan menjadi penyebab kematian 40-50% penderitanya.

Puasa yang baik akan memberi manfaat besar bagi kesehatan mental yang menjalankannya, demikian yang diungkap dalam buku Puasa Sebagai Terapi. Puasa juga bisa mengendapkan konflik-konflik kejiwaan yang timbul akibat stres keseharian yang menumpuk. Selama berpuasa, emosi seseorang menjadi lebih terkendali sehingga konflik-konflik bisa diselesaikan dengan pikiran yang jernih. 

Jadi, hentikanlah pemakaian obat-obat penenang dalam rangka mengendalikan stres, karena sedikit banyaknya selalu menghasilkan efek samping. Dengan motivasi yang benar, puasa sesungguhnya tantangan sekaligus kesempatan besar menjernihkan pikiran dan melapangkan hati guna menaklukkan peliknya kehidupan. 

Tokoh-tokoh besar dunia seperti Mahatma Gandhi, amat gemar berpuasa. Tujuannya menjernihkan pikiran dan mengendalikan diri. Jika orang-orang hebat itu mampu mengendalikan stres berkat puasa, alangkah lucunya bila kita justru stres gara-gara tidak bijaksana mengelola permasalahan yang muncul selama Ramadan. 

Abdul Jawwad ash-Shawi dalam bukunya Terapi Puasa (2006: 93-95) menguraikan: Pada 1990, Dr Shabah al-Baqir dan kawan-kawan dari Fakultas Kedokteran Universitas King Saud melakukan sebuah studi mengenai pengaruh puasa bulan Ramadan pada hormon prolaktin, insulin, dan cortezol. Penelitian melibatkan tujuh orang laki-laki berpuasa. Hasilnya, terjadi peningkatan hormon prolaktin, insulin, dan cortesol pada pukul 09.00, 16.00, 21.00 dan 04.00.

Sebagai perbandingan, pengukuran serupa dilakukan pada hari-hari biasa. Dan dari studi dinyatakan, tidak ada perubahan signifikan pada jumlah sel darah putih (indikator stres) pada orang-orang tersebut selama hari pertama puasa maupun selanjutnya, meskipun sel darah putih jenis tersebut akan meningkat tajam ketika menghadapi ketegangan emosi atau saraf.

Ini semakin menegaskan, bahwa puasa bukanlah salah satu bentuk tekanan mental atau saraf yang mengakibatkan penderitanya mengalami beberapa gangguan mental dengan segala bentuk dan tingkatan kualitatifnya.

Berulangkali Nabi Muhammad Saw diserbu musuh bersenjata di bulan Ramadan. Ketika itu beliau berjuang didampingi hanya oleh sedikit sahabat dan persenjataan yang minim. Pada perang Badar Rasulullah diperkuat 313 pasukan muslimin, sedangkan laskar musyrikin Quraisy 1.000 prajurit.

Hebatnya, beliau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda stres. Justru berkah Ramadan beserta orang-orang beriman. Rasulullah dan umat Muslim berhasil meraih kemenangan berlipatganda, mengalahkan musuh Allah dan menaklukkan tekanan stres di dalam diri sendiri.




Innallaha Ma'ashobirin

Sebelumnya

Sebutlah Tuhanmu dalam Jiwamu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur