Ilustrasi FOMO/Net
Ilustrasi FOMO/Net
KOMENTAR

MARI bayangkan kita kembali ke era tanpa media sosial! Kehidupan berjalan dengan dinamis dan dalam kendali hati manusia. Tidak ada notifikasi yang mengejutkan dan tidak ada aplikasi chat yang menyita perhatian. Di masa itu, hati manusia yang mengendalikan kehidupan.

Patrick McGinnis dalam bukunya FOMO-Fear of Missing Out (2020: 31) mengungkapkan, ada tiga kekuatan besar yang mengubah hubungan manusia dengan teknologi dan manusia dengan manusia secara fundamental.

Pertama, kita hidup di era dengan akses informasi yang tanpa henti. Kedua, kehidupan kita diubah oleh interkonektivitas ekstrem yang dihadirkan oleh media sosial. Ketiga, informasi dan interkonektivitas itu membuat kita sangat mudah membandingkan diri dengan orang lain, baik tetangga sebelah maupun orang yang tinggal di belahan lain dunia. 

Konsekuensinya adalah reference anxiety, atau kecemasan yang timbul dan pengaruh orang lain. Dampak negatif ini terjadi secara bertahap, khususnya dalam konteks dunia media sosial yang sangat terkurasi.

Fear of Missing Out atau FOMO adalah keadaan di mana seseorang dilanda kecemasan atau kekhawatiran jika melewatkan suatu kegiatan atau peristiwa. Pengidap FOMO sering kali memeriksa semua media sosial yang diikuti, supaya dirinya tetap tersambung dengan keadaan teman atau pengikutnya. 

Akibat FOMO terciptalah suasana hati yang rendah, yang berujung pada menurunnya kepuasan hidup, disebabkan tingkat keterlibatan yang sangat tinggi dalam media sosial. Jangan heran melihat pengidap FOMO mengalami tekanan psikologis, kecemasan dan kesepian, belum lagi perasaan tidak berdaya melihat kenyataan.

Budi Gunawan dalam buku Medsos di Antara Dua Kutub (2021: 61-62) menjelaskan, FOMO mengacu pada pemahaman bahwa seseorang tidak tahu atau melewatkan informasi, peristiwa, pengalaman, atau keputusan yang dapat membuat hidup mereka lebih baik. 

Ketika media sosial mulai menunjukkan efek negatifnya, istilah itu dirujukkan pada keadaan pengguna media sosial yang memiliki perasaan atau persepsi bahwa orang lain mengalami kehidupan lebih menyenangkan, atau mengalami hal yang lebih baik dibanding dirinya.

Ada juga yang menyebutkan, FOMO mengacu pada keadaan seseorang yang cemas atau khawatir jika suatu kegiatan atau peristiwa berlangsung tanpa kehadirannya. Ini ditandai dengan terus-menerus dirinya memeriksa media sosial yang diikuti untuk mengetahui apa yang dilakukan teman atau follower, agar tidak ketinggalan. 

Oleh karena itu, penting untuk mengenali adanya FOMO. Lebih penting lagi, mengambil langkah-langkah untuk mengelola pengaruh negatif dari kecemasan tersebut dalam penggunaan media sosial.

Muhammad Iqbal dalam buku Psikologi Konflik Ketika Ujian Melanda Rumah Tangga (2022: 159) menerangkan, kesehatan mental memiliki tiga dimensi, yaitu pikiran yang terlihat dari kejernihan berpikir dan mampu mengambil keputusan yang baik, emosional yang dapat dilihat dari cara seseorang menyikapi masalah dan mengekpresikan suasana hati, dan spiritual yang terlihat dari hubungannya dengan manusia, Tuhan, dan alam semesta. 

Mental yang sehat ditandai dengan adanya percaya diri, berpikir positif, bekerja keras, tahan banting, rileks, tidur nyenyak, dan mudah beradaptasi. Begitu pun, bersikap fleksibel juga akan berdampak pada kesehatan fisik.

Dengan menjaga keseimbangan ketiga dimensi kesehatan mental ini, individu dapat menghadapi tantangan yang timbul dari penggunaan media sosial. Menerapkan solusi yang melibatkan pikiran positif, pengelolaan emosi yang sehat, dan pengembangan dimensi spiritual akan membantu individu dalam mengatasi gangguan mental yang rentan timbul akibat medsos.

Surat Yunus ayat 62, yang artinya:

Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih.”

Meskipun medsos dapat menjadi sumber stres, kecemasan, dan perasaan negatif lainnya, kita dapat mencari kekuatan dalam keyakinan kepada Allah. Dengan memperkuat hubungan spiritual dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya, kita dapat menemukan ketenangan dan keberanian dalam menghadapi tantangan yang timbul dari penggunaan medsos.

Selain itu, penting bagi kita untuk mengembangkan kesadaran diri tentang pengaruh medsos terhadap kesehatan mental. Kita perlu belajar untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain dan tidak terjerat dalam siklus kecemasan dan ketakutan yang ditimbulkan oleh dunia maya.

Mengatur waktu dan membatasi paparan kita terhadap medsos juga merupakan langkah yang bijaksana untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan mental.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur