Terlalu memikirkan pendapat orang lain, seberapa bahaya?/Freepik
Terlalu memikirkan pendapat orang lain, seberapa bahaya?/Freepik
KOMENTAR

DI zaman now, semakin banyak istilah yang menggambarkan fenomena anak muda.

Dari penelusuran Farah.id, selama ini kita mengenal istilah FOMO yaitu Fear of Missing Out yang membuat anak-anak muda sangat menggilai tren karena tidak ingin ketinggalan dengan teman-teman sebayanya. Salah satunya adalah dengan eksis di media sosial, bahkan terkesan mau melakukan apa saja demi terlihat eksis.

Selanjutnya ada pula YOLO alias You Only Live Once yang ibarat pisau bermata dua, memiliki dampak positif dan dampak negatif. Remaja yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya serta menjaga kepercayaan orang tua dan keluarga, menjalani filosofi YOLO untuk mengukir prestasi, melakukan hal-hal positif yang sebelumnya tidak berani ia coba.

Namun bagi remaja yang menyalahgunakan makna YOLO, filosofi ini justru dijadikan penyemangat untuk mencoba hal-hal negatif, hal-hal yang dilarang, karena toh hidup hanya sekali.

Namun tahukah Sahabat Farah, akhir-akhir ini juga semakin berkembang istilah FOPO.

Dan menurut Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari, FOPO menjadi sangat berbahaya, terlebih lagi karena menyangkut masalah keuangan. Istilah ini bahkan telah ditelaah dalam riset Universitas Harvard.

“FOPO ini menurut saya yang paling bahaya, FOPO itu Fear of People Opinion. Ini yang merusak anak-anak muda karena kalian jadi peduli sama omongan orang lain tentang diri kalian. (Misalnya), Ih kamu kok celana jeansnya itu-itu saja… atau kok handphone-mu kayak jadul gitu sih…” ujar perempuan yang akrab disapa Kiki itu dalam sebuah talk show bareng anak-anak muda, dikutip dari Instagram @kontannews.

“FOPO ini yang membuat anak-anak muda jadi bersikap konsumtif. Itu yang bahaya. Jadi tidak boleh berutang untuk hal-hal yang konsumtif,” tegas Kiki.

Kiranya, fenomena FOPO ini salah satu yang bisa menyebabkan seseorang tercekik utang pinjol. Dan anak-anak muda harus terus diberi edukasi untuk tidak melakukan (dan mengulangi) kesalahan tersebut. Ingat, kualitas diri seseorang tidak semata ditentukan dengan apa yang dikenakannya.




Ciptakan Sendiri Hormon Serotonin, Si Penstabil Suasana Hati

Sebelumnya

Masuk Pertengahan Tahun, Saatnya Memperkuat Kembali Self-Improvement

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Family