post image
Aksi protes menolak Islamophobia di Perancis/Reuters
KOMENTAR

LEBIH dari 10 ribu orang turun ke jalanan utama ibukota Perancis, Paris pada Minggu (10/11). Sambil bergandengan tangan, mereka menyuarakan protes untuk menentang Islamophobia.

Aksi itu dilakukan setelah serangan terjadi di sebuah masjid di kota Bayonne, selatan Perancis selatan pada bulan lalu. Serangan itu dilakukan oleh seorang pria berusia 84 tahun yang merupakan seorang mantan aktivis sayap kanan. Bukan hanya merusak masjid, dia juga menembak dan melukai dua pria di masjid tersebut.

Dalam aksi unjuk rasa tersebut, banyak dari para peserta yang membawa spanduk dan slogan yang mengecam serangan terhadap warga Islam.

Sejumlah wanita yang ikut dalam aksi tersebut banyak yang mengenakan kerudung, beberapa di antaranya bahkan mengenakan kerudung dengan warna biru-putih-merah khas warna bendera Perancis.

Aksi itu digelar oleh sejumlah individu dan organisasi, termasuk Kolektif melawan Islamofobia di Perancis (CCIF).

"Kami ingin didengar, tidak didorong ke tepi masyarakat," kata salah seorang peserta aksi, Asmae Eumosid.

"Anda mendengar banyak omong kosong tentang Islam dan tentang wanita berkerudung hari ini," kata wanita berusia 29 tahun itu, yang bekerja sebagai insinyur di industri mobil.

"Dengan atau tanpa cadar, kami muak menjadi yang terakhir dalam barisan," kata peserta lainnya yang merupakan seorang perawat, Nadjet Fella.

"Saya memilih untuk tidak memakainya, tetapi itu menyakitkan saya bahwa mereka yang memakainya dipilih," tambahnya seperti dimuat Reuters.

Peserta aksi lainnya, Claudine Rodinson, yang merupakan seorang pensiunan berusia 76 tahun mengatakan bahwa Islam tidak sama dengan aksi radikal.

"Ada propaganda skandal yang dilancarkan terhadap umat Islam," katanya, seraya menambahkan bahwa terorisme jihad sengaja disamakan dengan Islam.

Saat ini diperkirakan ada antara lima hingga enam juta warga muslim yang tinggal di Perancis. Hal itu menjadikannya agama terbesar kedua di negara itu dan komunitas Muslim terbesar di Eropa.

Tetapi Prancis sangat melindungi prinsip sekuler konstitusinya, serta melarang pemakaian simbol-simbol agama di sekolah-sekolah negeri. (F)

Penderita Deformitas Ini Akhirnya Temukan Kebahagiaan

Sebelumnya

Ternyata Ular Tidak Pernah Ada di Beberapa Negara Ini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News World