KOMENTAR

Pertanyaan macam itu berlaku supaya otak umat tidak membeku, melainkan terus hangat dalam diskusi yang brilian. Karena dicantumkannya kisah Nabi Yahya dalam Al-Qur’an hakikatnya adalah untuk menyibak hikmah, bahwa seburuk apapun kondisi yang namanya kebenaran berlandaskan titah Tuhan mestilah dibela.

Sekiranya konspirasi pembunuhan atas Nabi Yahya juga melibatkan perempuan, maka di sini dituntut kebijakan dalam mencermatinya. Tidak ada pencelaan Al-Qur’an terhadap kaum hawa, sebab pelaku kejahatan itu tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Siapa pun yang tunduk kepada hawa nafsu, maka bisa saja berbagai kekejian mengalir dari dirinya.

Akhirnya, lelaki atau perempuan muslim hendaknya mencermati diri masing-masing supaya meraih kebaikan dalam tiga fase penting dan genting, yakni kelahiran atau kehidupan, kematian dan kebangkitan kembali di akhirat. Jika salah satu saja dijalani dengan cara buruk, maka kehinaan akan menjadi beban luar biasa berat di mahkamah Tuhan.




Pantaskah Bagi Allah Anak Perempuan?

Sebelumnya

Betapa Lembutnya Al-Qur’an Menerangkan Surga Adalah Hak Perempuan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir