KOMENTAR

KEMATIAN Nabi Yahya termasuk di antara yang paling berliku teka-tekinya, terlebih berbagai versi yang bermunculan acap kali menghubungkannya dengan muslihat seorang perempuan muda. Namun, hadirnya kisah Nabi Yahya dalam Al-Qur’an menuntun supaya umat Islam menyibak hakikat kebenaran.

Sebagai utusan Allah, Nabi Yahya tentunya istikamah dalam menyampaikan dan menegakkan kebenaran. Meskipun prinsip yang dipegang dirinya bertentangan dengan kehendak pihak kerajaan, dan sekalipun nyawanya yang menjadi taruhan, Nabi Yahya teguh mengatakan bahwa seorang keponakan diharamkan menikah dengan pamannya. Begitulah aturan perkawinan yang ditetapkan Tuhan demi kemaslahatan umat manusia.

Fatwa itu pula yang membuat mendidih amarah seorang gadis yang tengah dibutakan oleh cinta, yang mana lelaki yang ingin dinikahinya adalah pamannya sendiri, seorang raja. Menikah dengan raja memberikan limpahan kemegahan hidup bagi dirinya, daya tarik duniawi itu tidak membuatnya gentar melanggar aturan Ilahi.

Sedangkan Nabi Yahya tidak goyah sedikitpun, pantang baginya mengubah aturan dari Tuhan hanya disebabkan desakan hawa nafsu perempuan atau dikarenakan rasa gentar atas bengisnya raja.

Adil Musthafa Abdul Halim dalam bukunya Kisah Bapak dan Anak Dalam Al-Qur'an (2007: 143) menceritakan:

Sedangkan riwayat yang paling benar tentang terbunuhnya Nabi Yahya adalah riwayat Ibnu Abbas bahwa Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya dibangkitkan dengan ditemani oleh dua belas orang pengikut setianya yang membantunya untuk memberikan dakwah bagi manusia. Di antara larangan mereka kepada manusia adalah menikahi anak perempuan saudara (keponakan).

Raja Bani Israel memiliki seorang keponakan perempuan yang menyukainya dan ingin dinikahi oleh pamannya. Setiap hari, si keponakan tersebut selalu memiliki satu permintaan yang harus dipenuhi oleh pamannya.

Ketika sampai ke telinga ibu si keponakan perempuan tersebut bahwa seorang paman dilarang menikahi keponakan perempuannya, dia berkata kepada anak perempuannya, “Jika raja bertanya kepadamu tentang permintaanmu hari ini, katakanlah kepadanya, permintaanku hari ini adalah agar kamu menyembelih Yahya bin Zakaria.”

Ketika dia datang menemui raja dan meminta agar disembelihkan Nabi Yahya untuknya, jawaban yang diberikan oleh si raja adalah, “Mintalah permintaan selain ini.”

Akan tetapi dia menjawab, “Aku hanya meminta agar disembelihkan kepala Yahya bin Zakaria.”

Tatkala keponakannya tersebut terus bersikeras agar dipenuhi permintaannya, dia panggil Nabi Yahya ke Thasat, dan dia membunuhnya di tempat itu.

Ada muslihat keji dari seorang gadis yang pernikahannya melanggar aturan Tuhan. Buruknya lagi, gadis itu bersekongkol dengan ibunya dalam mendesak raja untuk pembunuhan terhadap manusia suci.

Semula sang raja enggan disebabkan pembunuhan terhadap seorang nabi jelas dosa yang sangat dimurkai Tuhan. Akan tetapi mata batinnya telah dibutakan oleh muslihat seorang perempuan yang hendak dikawininya. Akhirnya, tragedi menyedihkan itu terjadi, di mana seorang raja bertekuk lutut atas hawa nafsu perempuan.

Demikianlah kejadiannya dapat saja terus berulang, siapapun itu tak terkecuali perempuan, apabila sudah dikuasai oleh hawa nafsu maka dirinya akan tega melakukan hal-hal yang hina.

Surah Ali Imran ayat 15, yang artinya, “Kesejahteraan baginya (Yahya) pada hari dia dilahirkan, hari dia wafat, dan hari dia dibangkitkan hidup kembali.

Sebagai korban dari kejahatan, justru Nabi Yahya mendapatkan penghormatan sehingga di dalam Al-Qur’an pun kemuliaan dirinya diabadikan. Sebagai insan agung, Nabi Yahya sudah meraih kesempurnaan; selamat sejahtera saat dilahirkan, saat diwafatkan dan saat kelak dibangkitkan kembali.

M. Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al-Mishbah Jilid 7 (2011: 419-420) menjelaskan:

Kata salam terambil dari akar kata salima yang maknanya berkisar pada keselamatan, dan keterhindaran dari segala yang tercela. Kata salam digunakan untuk menggambarkan bahwa tempat di mana seseorang berada selalu ditemukannya dalam keadaan yang sesuai dan menyenangkan.

Tiga tempat keselamatan yang disebut ayat 15 di atas merupakan tiga tempat penting lagi genting dalam kehidupan manusia. Saat kelahiran karena, jika seseorang lahir cacat, kehidupannya di dunia akan terganggu. Selanjutnya jika ia meninggal dunia dalam keadaan su’ al-khatimah (kesudahan buruk) kesengsaraan ukhrawi akan menyertainya. Adapun di Padang Mahsyar, ini adalah keterhindaran dari rasa malu dan takut yang mencekam.

Kebenaran yang dibela oleh Nabi Yahya menjadikan hidupnya mulia dan juga membuat kematiannya demikian agung sebagai syuhada. Dampak terbaiknya kelak di akhirat nanti, saat seluruh manusia dibangkitkan di Padang Mahsyar maka Nabi Yahya tampil sebagai pengusung panji-panji kebenaran.

Lain halnya dengan sang gadis yang menghinakan dirinya, menjalani hidup sebagai hamba syahwat rendahan, dan terpedaya dalam muslihat keji menghabisi nyawa seorang nabi. Dia adalah perempuan tidak bermoral yang kelak akan dibangkitkan di akhirat menanggung malu teramat sangat akibat dosa yang tak terperikan.

Lebih lanjut M. Quraish Shihab (2011: 420) menerangkan: Sementara ulama berpendapat bahwa pembubuhan kata hayyan/hidup ketika melukiskan kebangkitan Nabi Yahya di Padang Mahsyar adalah isyarat tentang wafatnya beliau di dunia sebagai seorang yang terbunuh dan syahid. Ini karena para syuhada tidak mati tetapi tetap hidup sebagaimana ditegaskan oleh QS. Ali Imran ayat 169.

Pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena seperti akan terbaca pada ayat 33 yang akan datang, ketika berbicara tentang Nabi Isa, kata hayyan/hidup ditemukan juga di sana, sedang tidak seorang muslim pun yang percaya bahwa Nabi Isa wafat terbunuh sebagaimana halnya Nabi Yahya.

Kematian Nabi Yahya masih akan terus menjadi misteri hingga terkuak yang sebenarnya di akhirat kelak. Perbedaan pendapat akan terus menghangatkan dinamika intelektual; apakah Nabi Yahya memang terbunuh sebagai syuhada dan akan dibangkitkan di Padang Mahsyar, ataukah Nabi Yahya tidak diselamatkan dari konspirasi itu oleh Tuhan sebagaimana yang dialami Nabi Isa?




Pantaskah Bagi Allah Anak Perempuan?

Sebelumnya

Betapa Lembutnya Al-Qur’an Menerangkan Surga Adalah Hak Perempuan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir