KOMENTAR

ANEKA cara kekerasan telah dipakai oleh musyrikin Quraisy, akan tetapi Nabi Muhammad tidak mundur sedikit pun. Cacian, makian, hinaan hingga penyiksaan yang keji tidak membuat beliau goyah dalam syiar Islam.

Mereka juga sudah melakukan persekusi terhadap para penganut Islam, tetapi mereka makin istikamah sebagai muslim sejati.

Pihak musyrikin lalu mengalihkan sasaran terhadap kaum wanita yang dipandang lemah, bahkan sudah jatuh korban jiwa hingga seorang muslimah menjadi syuhada pertama. Namun, barisan muslimah malahan semakin mencintai agama Ilahi dan siap berkorban jiwa dan raga.           

Pemuka Quraisy kemudian berkumpul menyusun siasat dan memutuskan fokus terhadap Nabi Muhammad saw. Intinya, jika ingin membinasakan agama Islam, caranya adalah dengan mematahkan semangat dakwah Rasulullah.

Mereka memahami beliau mempunyai seorang paman yang amat dihormati. Nah, Abu Thalib inilah yang dinilai sebagai kelemahan Nabi Muhammad. Setelah cara kekerasan dan kekejian tak kunjung berhasil, pihak musyrikin pun beralih kepada cara yang halus sekaligus licik.

Rombongan pemuka Quraisy itu dipimpin langsung oleh tokoh paling disegani Mekah, yaitu Abu Sufyan bin Harb. Mereka berupaya melakukan negosiasi dengan Abu Thalib agar menghentikan dakwah Islam keponakannya.

Mahdi Rizqullah Ahmad dalam bukunya Biografi Rasulullah Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik (2017: 195-196) menguraikan:

Suatu hari, beberapa pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib dan berkata kepadaya, “Abu Thalib, anak saudaramu itu telah berani mencaci tuhan-tuhan kita, mencela agama kita, mengolok-olok harapan-harapan kita, dan menganggap sesat moyang kita. Engkau harus mencegah dia agar tidak berdakwah lagi kepada kita, atau engkau tetap membiarkan perselisihan di antara kami dan Muhammad. Ketahuilah, sesungguhnya engkau terhadap dia sama dengan kami terhadap dia. Maka, dalam hal ini kami cukup memercayakan urusan ini kepadamu!”

Cinta Abu Thalib sangatlah besar terhadap Nabi Muhammad, dan perasaan itulah yang mereka mainkan guna menggoyahkan hati sang paman. Abu Sufyan tidak lupa menyelipkan ancaman yang membahayakan keselamatan keponakannya itu.

Respons yang lemah lembut disampaikan oleh Abu Thalib demi mendinginkan suasana yang panas. Sehingga rombongan Abu Sufyan pun beranjak pergi mengira misi mereka sudah sesuai harapan. 

Pada hari-hari berikutnya Nabi Muhammad malah semakin gencar mengajak umat manusia menjadi pemeluk agama Islam. Kehebohan kembali melanda kota Mekah, yang membelah penduduknya antara yang pro dan kontra.

Geramlah Abu Sufyan dan para dedengkot Quraisy, terbukti Abu Thalib tidak melakukan apapun terkait dengan tuntutan mereka. Sikap diam paman Nabi itu dipandang sebagai bentuk dukungan dan juga perlindungan terhadap Islam.

Untuk kali kedua mereka datang dan menegaskan, “Hai Abu Thalib, sesungguhnya engkau mempunyai kedewasaan, kehormatan, dan kemuliaan di kalangan kami. Sungguh kami telah memintamu melarang keponakanmu, namun engkau tidak melarangnya. Kita tidak bisa bersabar atas penghinaan terhadap nenek moyang kita, pembodoh-bodohan mimpi-mimpi kita, dan pelecehan agama kita. Silakan pilih! Kami menghentikan semua tindakan keponakanmu atau kami terjun berhadapan dengannya hingga salah satu dari dua pihak ada yang binasa, dan jagalah dirimu dalam masalah ini!”

Kepergian mereka menggoreskan kepedihan di hati Abu Thalib, sulit baginya bermusuhan dengan kaumnya yang memegang kuasa Mekah, dan mustahil baginya menyerahkan keponakan terkasih kepada pihak yang jahiliah.

Demi mencari kompromi atas dua kepentingan yang berseberangan, Abu Thalib pun bicara empat mata dengan Nabi Muhammad, “Hai keponakanku, sesungguhnya kaummu belum lama datang kepadaku dan berkata begini dan begitu kepadaku. Oleh karena itu, tetaplah engkau bersamaku, jagalah dirimu, dan jangan seret aku ke dalam persoalan yang tidak sanggup aku pikul!”

Berlinanglah air mata Rasulullah mendengar tutur kata halus pamannya. Beliau tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya perjuangan dirinya tanpa dukungan Abu Thalib. Pihak musyrikin tahu betul titik kelemahan Nabi Muhammad, dengan mematahkan perlindungan Abu Thalib maka Rasulullah akan kehilangan kekuatan terbesarnya.

Beliau memahami betapa pelik dilema yang membebani pemikiran pamannya, dan Nabi Muhammad membuat keputusan cepat, bahwa dirinya tidak akan mundur dari amanah Ilahi apapun risikonya. Kemudian keluarlah ucapan Rasulullah yang sangat melegenda.

Mahdi Rizqullah Ahmad (2017: 196-197) mengungkapkan:

Maka beliau berkata kepadanya, “Demi Allah, Paman, seandainya mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud supaya aku meninggalkan tugasku (berdakwah menyiarkan agama Allah ini sampai tersiar di muka bumi) atau sampai aku binasa di dalamnya, niscaya aku tetap tidak akan meninggalkannya.”

Giliran Abu Thalib yang terpaku dibingkai haru. Dia seorang lelaki berhati lembut yang hidupnya bertabur kasih. Pahamlah dirinya tekad membaja yang terpatri di sanubari keponakannya.

Abu Thalib memahami bahwa Rasulullah berada di posisi yang benar, bahkan sedari kecil pun Nabi Muhammad saw. sudah memperlihatkan amanah kebenaran akan diembannya.

Namun, besarnya cinta membuat sang paman khawatir dengan keselamatan sang keponakan, sebab kebrutalan pihak kaum jahiliah yang mengerikan akan berdampak buruk padanya.

Melihat keteguhan keponakannya, Abu Thalib pun membuktikan cintanya dengan berada di posisi Rasulullah.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri pada bukunya Periode Mekkah (2021: 27) menerangkan:




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah