KOMENTAR

Dia pun berkata, “Keponakanku, pergilah dan katakan apa saja yang engkau kehendaki, karena sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun.”

Lalu sang paman merangkai bait puisi:

Demi Allah! Mereka semua tidak akan dapat menjamahmu

Hingga aku terkubur berbantalkan tanah

Berterang-teranganlah dengan urusanmu, tiada cela bagimu

Bergembira dan bersuka-citalah dengan hal itu.

Kian bertambahlah kegeraman pihak musyrikin terhadap Abu Thalib yang bukannya mengendalikan sang keponakan, malahan memberikan pembelaan. Para bangsawan Quraisy menyadari betapa mendalamnya cinta Abu Thalib terhadap Nabi Muhammad, yang elok rupanya dan baik pekertinya.

Mereka pun berupaya mengalihkan cinta itu dengan menghadirkan sosok pemuda yang dapat menggantikan sang keponakan. Secara baik-baik mereka datang memboyong Imarah bin Al-Walid yang tampan rupawan serta punya kekuatan. Tawaran barter pun dinegosiasikan disertai harapan Abu Thalib berkenan pindah hati.

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri dalam bukunya Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam Jilid 1 (2020: 223) menceritakan:

Mereka berkata kepadanya, “Hai Abu Thalib, inilah Imarah bin Al-Walid. Ia anak muda Quraisy yang paling kuat dan paling tampan. Lindungi dia dan belalah dia. Ambillah dia sebagai anak, karena ia menjadi milikmu. Sebagai gantinya serahkan kepada kami keponakanmu yang menentang agamamu dan agama nenek moyang kita, memecah-belah persatuan kaummu, dan membodoh-bodohkan mimpi-mimpi kita kemudian akan kami bunuh dia. Satu orang diganti dengan satu orang pula.”

Cinta yang berakar mendalam itu yang membuat hati Abu Thalib tidak goyah. Tidaklah mungkin dirinya menyerahkan Nabi Muhammad lalu digantikan anak muda yang lain. Karena dia paham sekali apa yang akan terjadi jika menyerahkan keponakannya.

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri (2020: 223) menerangkan:

Sang paman yang lembut pun bisa berkata tegas, “Demi Allah, sungguh jelek apa yang kalian tawarkan kepadaku. Kalian memberiku anak kalian yang aku beri makan dan aku berikan anakku kepada kalian kemudian kalian membunuhnya? Ini, demi Allah, sampai kapan pun tidak akan terjadi.”

Al-Muth’im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf bin Qushai berkata, “Demi Allah, hai Abu Thalib, sungguh kaummu telah berbuat adil kepadamu, dan mereka berupaya keras untuk bisa keluar dari apa yang mereka benci selama ini, namun aku lihat engkau tidak menerima apa pun dari mereka.”

Abu Thalib berkata kepada Al-Muth’im, “Demi Allah, mereka tidak berbuat adil kepadaku. Justru mereka sepakat meninggalkanku, dan mendukung orang-orang untuk melawanku. Lakukan apa saja yang engkau inginkan—atau seperti yang ia katakan.”

Patahlah harapan pihak Quraisy mendapatkan Nabi Muhammad, bukannya menyerahkan keponakannya malahan Abu Thalib membelanya, bukannya menghentikan malahan dia mendukung dakwahnya. Mereka pun pergi dengan berton-ton amarah membara di dada.

Kepergian dedengkot Quraisy bukanlah pertanda baik, Abu Thalib menyadari keamanan Nabi Muhammad samakin terancam. Sebelumnya beberapa orang Quraisy secara pribadi berinisiatif hendak membunuh keponakannya, kini sang paman menilai ancaman terhadap keponakannya jauh lebih besar, karena melibatkan suku Quraisy dalam jumlah banyak.

Berkat pemantauannya terhadap perkembangan situasi di Mekah, maka Abu Thalib merasa perlu melakukan langkah-langkah strategis. Jelas sekali ada upaya kaum musyrikin hendak membunuh Nabi Muhammad.

Keluarlah himbauan Abu Thalib agar keluarga Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib berkumpul membahas ancaman nyawa yang mengintai Nabi Muhammad. Karena Abu Thalib tokoh terkemuka di kaumnya dan pribadi Rasulullah yang terpuji, segenap keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib berikrar siap membela nyawa Nabi Muhammad.

Bahkan keluarga Abu Thalib yang belum beragama Islam pun menyatakan kesiapannya membela sepenuh jiwa raga. Hanya Abu Lahab yang notabene masih paman Nabi menolak bergabung bahkan menyatakan diri menentang dakwah Islam.

Hingga akhir hayatnya Abu Thalib tidak pernah goyah membuktikan cintanya pada Nabi Muhammad, setia dalam setiap duka lara yang menimpanya.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah