Hidup bersahaja adalah salah satu ciri manusia tangguh/ SyauqiFillah-Pixabay
Hidup bersahaja adalah salah satu ciri manusia tangguh/ SyauqiFillah-Pixabay
KOMENTAR

ADA yang melegakan hati, ketika melihat para publik figur yang mempertontonkan gaya hidup sederhana; makan di tempat murah meriah, memakai pakaian yang biasa saja, berpenampilan cukup bersahaja, dan sebagainya.

Apalagi kalau yang bergaya sederhana itu adalah pejabat negara, yang insya Allah akan memberi dampak positif, karena bagaikan oasis penyejuk bagi masyarakat yang tengah dihimpit beratnya kondisi perekonomian.

Dan marilah sejenak kita menepikan dulu beragam prasangka tentang pencitraan, karena kesederhanaan itu hendaklah menjadi gaya hidup bersama.

Kesederhanaan yang ditampilkan itu diharapkan dapat mengimbangi para crazy rich yang doyan pamer kemewahan hidup yang glamor dan tidak jarang mengarah pada foya-foya. Meskipun banyak juga yang bertanya-tanya, crazy rich itu benar-benar kaya atau pamer-pamer doang untuk sesuatu yang tidak dimilikinya?

Semoga publik figur atau pejabat atau pemimpin negeri ini tetap istikamah memberikan teladan kesederhanaan, sehingga gaya yang demikian diberkahi tersebut menjadi bagian melekat dalam kehidupan berbangsa.

Lagi pula, sepanjang hayatnya Rasulullah saw. adalah tokoh yang teramat dihormati dalam kesederhanaan hidupnya. Beliau tidak tertarik hidup bermegah-megah layaknya raja, kaisar, kaum bangsawan dan sebagainya, melainkan Nabi Muhammad memilih hidup sama seperti yang dijalani oleh rakyat jelata.

Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali pada buku Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 2 (2005: 338) mengungkapkan:

Dari Abu Musa al-Asy’ari bercerita, Aisyah pernah mengeluarkan kain dan sarung yang tebal kepada kami seraya berkata, “Rasulullah saw. meninggal dunia dalam keadaan memakai kain dan sarung ini.” (Muttafaqalaih)

Perintah untuk bersikap sederhana dalam hidup serta memakai pakaian tebal (kasar), karena yang demikian itu termasuk dalam bab Ikhsyausyinuu fa’inna an-ni’am laa tadum (hidup sederhanalah, karena kenikmatan itu tidak pernah langgeng). Kezuhudan, kerendahan hati, dan kepuasan Rasulullah saw. di mana beliau memakai pakaian yang sesuai dengan kebutuhan tanpa berlebihan dan sombong.

Hingga akhir hayatnya, Nabi Muhammad saw. tetap setia dalam prinsip kesederhanaan, pakaian yang dikenakan tetap saja berbahan kasar, tidak ada kain-kain mahal yang megah. Dari itulah, sudah terang-benderang petunjuk beliau agar segenap umat Islam senantiasa istikamah dalam bersikap sederhana.

Karena gaya hidup bermegah-megah itu hanyalah menambah berat beban batin, terlebih lagi nikmat itu tidak ada yang langgeng. Begitu terbiasa dengan kemegahan dunia, begitu roda nasib lagi di bawah, jangan-jangan kita malah tidak siap menjalani hidup yang berubah pahit itu.

Dan menjadi tidak mengenakkan saat menyaksikan orang-orang yang jatuh di jurang kemalangan dan mengalami perihnya kehidupan. Oleh sebab itu, siapa pun butuh penolong agar terhindar dari bencana yang menyedihkan tersebut.

Syaikh Mahmud al-Mishri pada Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 (2018: 345-346) menerangkan:

Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal yang dapat menjadi penolong (bagi seorang hamba); takut karena Allah dalam keramaian maupun kesunyian, tetap bersikap adil dalam keadaan marah ataupun tidak, serta bersikap sederhana ketika kaya atau miskin.”

Menarik sekali pesan Nabi Muhammad saw. di atas, bersikap sederhana itu dijalankan di masa kaya ataupun miskin. Secara umum, orang lagi miskinlah yang mestinya hidup sederhana, tetapi dalam hadis disebutkan mau kaya atau miskin tetaplah sederhana. Kenapa? 

Kaya itu tidak pernah abadi, esok hari boleh jadi bersalin nasib menjadi miskin. Demikianlah dinamisnya dunia ini, nasib orang bisa jungkir balik dalam sekejap. Maka betapa berharganya nasihat Rasulullah, di masa kaya hendaknya menjaga diri, memperkuat bekal agar siap tatkala masa sulit itu menerjang.

Lantas, apakah ada orang miskin yang bukannya hidup sederhana tapi malahan bermegah-megah?

Jika mau jeli, siapa pun dapat menemukan kejadian aneh tapi nyata tersebut. Malangnya  lagi, karena tidak terbiasa hidup sederhana, begitu sudah jelas-jelas miskin masih saja bermegah-megah, yang membuat mereka makin terjerumus ke jurang utang.

Ada sebuah kejadian menarik tentang sebuah pasar yang binasa dilalap si jago merah. Seorang pedagang yang mendadak jatuh miskin akibat beberapa tokonya habis terbakar, dia kembali berjuang meski menjadi pedagang gorengan di pinggir jalan. Katanya, “Kami sudah biasa hidup sederhana.”

Jadi dia dan keluarganya bersegera bangkit tatkala kemiskinan itu menimpa dalam tempo semalam saja. Kesederhanaan membuatnya punya mental baja untuk kembali berjuang dan tidak ada beban batin untuk memulai lagi dari nol.

Sementara itu beberapa rekannya yang ikut terkena kemalangan akibat kebakaran banyak pula yang jatuh sakit, tidak kuat menanggung beban derita, dan ada pula yang berujung ke rumah sakit jiwa dikarenakan stres dihantam gelombang hidup.

Demikianlah Rasulullah menasihati dalam hadisnya yang mulia, kaya ataupun miskin tetaplah setia dalam kesederhanaan. Demikian pula tergambar dahsyatnya kecintaan beliau terhadap umatnya, sehingga jauh-jauh hari sebelum terjerumus di jurang kebinasaan, beliau telah mengingatkan pentingnya bersikap sederhana.

Dan siapa sangka pula kalau kesederhanaan itu erat hubungannya dengan kemerdekaan. Ya, orang yang benar-benar merdeka hidupnya senantiasa berkomitmen dengan pola sederhana. 

Imam Syafi’i pada bukunya Kata; Kekuatan Kata yang Akan Merubah Hidup Anda (2013: 141) menjelaskan:




Memberi Utang atau Bersedekah, Mana yang Lebih Besar Pahalanya?

Sebelumnya

Tidak Ada Istilah Memberi Terlalu Banyak untuk Sebuah Pertolongan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur