post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

MENJADI generasi pertama dalam Islam memang berlimpah keberkahan, sekaligus pula memikul risiko yang amat berat. Karena pihak musyrikin Quraisy bukan hanya mempertahankan status quo mereka dengan menolak ajaran suci yang didakwahkan oleh Rasulullah, tetapi juga menindas generasi pertama agama Islam tersebut.

Namun cahaya hidayah telah menerangi hati-hati generasi pertama ini sehingga dengan kesadaran penuh mereka memeluk akidah tauhid tanpa gentar dengan intimidasi. Menariknya, generasi pertama Islam ini bagaikan paket komplit yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat.

Ibnu Katsir pada bukunya Abu Bakar Ash-Shiddiq; Biografi dan Pengangkatan Beliau Sebagai Khalifah (2021: 3) menerangkan Abu Bakar adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah lebih dahulu masuk Islam daripadanya, adapun dari golongan anak-anak, Ali adalah yang pertama kali memeluk Islam, sementara Zaid bin Haritsah adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan budak.

Orang-orang yang serba pertama menjadi pemeluk Islam dari latar belakang masing-masing ini, kemudian hari memegang peran penting dalam sejarah. Zaid bin Haritsah adalah panglima besar yang dahsyat keberaniannya. Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah yang disegani.

Sedangkan Khadijah dari awal keislaman  hingga akhir hayatnya tiada henti berjuang dan berkorban.

Dan yang tak dapat dipungkiri, karakter mulia yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad dan Khadijah selama ini menjadi modal besar dalam dakwah.

Tidak akan pernah mudah mengajak orang-orang memeluk suatu ajaran baru yang terang-terangan menolak tradisi jahiliah, yang terlanjur menggurita dalam masyarakat. Tentulah diperlukan suatu kesan menarik sebagai pembuka mata hati mereka tentang cahaya kebenaran.      

Duet Nabi Muhammad dan Khadijah mampu menunjukkan kelasnya sebagai magnet dari agama Islam. Pasangan suami istri ini sama-sama memiliki kharisma kebaikan yang menebar pesona.

Dan yang mengagumkan Rasulullah mendakwahkan agama Islam dengan memberikan keteladanan, sesuatu yang lebih mengesankan daripada omongan lisan. Di antara kisah yang layak dikenang adalah perihal keislaman Ali bin Abi Thalib.   

Ahmad Abdul Al-Thahtawi dalam buku 150 Kisah Ali bin Abi Thalib (2015: 17-18) menceritakan:

Ali bin Abi Thalib datang ke rumah Nabi Muhammad ketika beliau dan istrinya Khadijah sedang shalat. Seusai shalat, Ali bertanya, “Apakah yang engkau lakukan itu?”

Nabi menjawab, “Inilah agama Allah dan untuk itu Dia mengutus utusan-Nya. Aku mengajak engkau untuk masuk ke jalan Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Ali berkata, “Sesungguhnya ajakan ini sama sekali belum pernah aku dengar sampai hari ini. Karena itu, aku harus berunding dengan ayahku, Abu Thalib. Sebab, aku tidak dapat memutuskan sesuatu tanpa dia.”

Suatu malam Allah membukakan pintu hati Ali untuk masuk Islam. Dia segera menemui Nabi dan berkata, “Bagaimana ajaran yang engkau tawarkan itu?”

Nabi menjawab, “Hendaklah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” Ali pun menerima Islam, tetapi masih merahasiakan kepada ayahnya.

Demikianlah, dengan praktek shalat Nabi Muhammad dan Khadijah makanya Ali bin Abi Thalib menemukan ketertarikan terhadap Islam. Hebatnya, bocah lelaki itu membuat keputusan mandiri, tidak bergantung kepada siapapun termasuk itu orangtuanya sendiri.

Bukan hanya sekadar bersyahadat, Ali bin Abi Thalib juga mengikuti ibadah yang diajarkan dalam Islam, terkhususnya shalat. Berhubung dakwah masih di fase sembunyi-sembunyi, maka peribadatan pun dilaksanakan di luar Mekah, agar tidak mendapat gangguan.

Siapa sangka seorang anak laki-laki ikhlas menempuh perjalanan menegangkan demi menegakkan shalat. Kendati akhirnya Ali bin Abi Thalib ketahuan juga oleh ayahandanya, keimanan yang teguh membuat anak lelaki itu memiliki alasan yang mengharukan batin orangtuanya.

Ahmad Abdul Al-Thahtawi dalam bukunya 150 Kisah Ali bin Abi Thalib (2015: 18-19) menguraikan:
Apabila telah datang waktu shalat, Rasulullah keluar menuju Syi’b kota Mekah. Ali bin Abi Thalib pun turut bersama beliau. Dia keluar dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir diketahui oleh ayahnya, Abu Thalib, paman-pamannya, dan warga lainnya. Di sana mereka berdua melakukan shalat. Jika waktu petang tiba, mereka kembali ke sana dan berdiam selama beberapa waktu.

Suatu hari, Abu Thalib memergoki mereka tengah melakukan shalat. Lalu Abu Thalib bertanya kepada Ali, “Anakku, agama apa yang engkau anut ini?”

Ali menjawab, “Wahai Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku telah membenarkan apa yang dibawanya. Aku telah mengikutinya dan shalat bersamanya.”

Mendengar itu, Abu Thalib berkata, “Wahai Anakku, Muhammad tidak akan mengajakmu, kecuali pada kebaikan. Maka ikutlah dengannya!”

Dari ungkapan Abu Thalib tergambar tingkat kepribadian luhur Nabi Muhammad yang merupakan kunci dari syiar Islam. Karena masyarakat mengakui pribadi baik beliau, yang tentunya hanya akan menyampaikan kebaikan pula. Sehingga tidak ada yang perlu dicemaskan oleh Abu Thalib melihat putranya memeluk agama baru, sebab ajaran tersebut disampaikan oleh manusia mulia akhlaknya.

Dalam keislaman mereka, generasi pertama itu bukan hanya bersyahadat, tetapi telah melaksanakan ibadah shalat, yang merupakan pondasi agama. Sehingga mereka dapat memperkokoh keimanan melalui ibadah yang  merupakan hubungan dengan Ilahi.




Dilema Keindahan Wanita

Sebelumnya

Korban Bullying

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah