post image
Pada surat An-Nisa tersimpan misi besar tentang keadilan dan kasih sayang, sehingga surat ini akan senantiasa menjadi kajian yang menyentuh kalbu/ Net
KOMENTAR

DARI kitab-kitab suci berbagai agama yang pernah lahir di dunia ini, hanya Al-Qur’an yang memiliki An-Nisa, cuma kitab suci umat Islam yang mengkhususkan adanya surat perempuan. Pada saat bersamaan, tidak ada dalam Al-Qur’an surat Ar-Rijal (laki-laki). Dan pastinya ini bukanlah suatu kebetulan, karena apa yang terdapat dalam Al-Qur’an merupakan basyiran (kabar gembira) dan juga nazhiran (pemberi peringatan), bahkan menyeru kepada kebenaran.

Melabelkan An-Nisa menjadi nama surat pada sebuah kitab suci bukannya tanpa risiko, mengingat di masa dahulu kala,  perempuan dipandang nista, bahkan sebagian peradaban menyebutnya bukanlah manusia yang seutuhnya. Dan tiba-tiba saja kitab suci agama Islam mengukuhkan perempuan demikian agung, bahkan tanpa tedeng aling-aling tidak mencantumkan surat Ar-Rijal. Kalau pakai istilah sekarang, apa kata dunia?

Terserahlah dunia mau berkata apa, tapi sampai detik ini tidak ada pergantian nama surat An-Nisa, yang tetap anggun bertengger menjadi bagian dari kitab suci, dan insyallah akan abadi hingga akhir masa, Aamiin.

Al-Qur’an memang tidak tunduk dengan, apa kata dunia? Melainkan, dunialah yang harus mengikuti, menaati hingga memetik saripati hikmah dari kitab suci. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang tiada pernah ragu mengukuhkan perempuan di singgasana kemuliaan.

Syaikh Adil Muhammad Khalil dalam buku Tadabur Al-Qur'an menerangkan, surat ini dinamakan denga An-Nisa Al-Kubra; agar membedakannya dengan surat Ath-Thalaq yang dinamakan juga dengan An-Nisa Al-Qushra.

Sebab penamaan surat an-Nisa; Allah memilih salah satu dari jenis orang-orang yang lemah, yaitu wanita; agar seorang pemimpin dan seseorang yang memikul tanggung jawab dapat mendahulukan untuk merealisasikan keadilan dan kasih sayang kepada keluarganya. Jika ia dapat melakukannya, maka ia akan dapat merealisasikannya kepada masyarakat.

Kebanyakan orang berpikir dinamakan surat An-Nisa disebabkan banyak pembahasan mengenai perempuan di dalam surat ini. Pendapat tersebut ada benarnya, tetapi perlu juga diketahui, tema-tema di luar masalah kewanitaan juga banyak dibahas dalam surat An-Nisa. Lagi pula, surat-surat Al-Qur’an lainnya juga banyak membahas urusan perempuan. Lantas mengapa perlu ada secara khusus surat bernama An-Nisa?

Oleh sebab itu Syaikh Adil Muhammad Khalil berpendapat, pembahasan utama surat An-Nisa, tema utama surat ini adalah perkara keadilan dan kasih sayang. Ulama ini menerangkan maksudnya dengan terperinci, bahwa tema surat An-Nisa, di antaranya: seluruh hukum dari syari'at ini sejatinya adalah kasih sayang yang tujuannya adalah mengangkat kesusahan dari kaum muslimin dan meringankan beban mereka; menegakkan keadilan di antara manusia, khususnya kepada para minoritas dan orang-orang yang lemah; kedudukan wanita di dalam Islam sangatlah tinggi, ia memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal warisan, bahkan terkadang haknya lebih banyak dari laki-laki dalam beberapa kondisi; dan begitu pula kemuliaan dan kasih sayang yang diberikan oleh Islam kepadanya sangatlah agung.

Jadi ringkasnya begini, pembahasan tentang keadilan itu mestilah dalam ruang lingkup kasih sayang dan diterangkan di dalam surat An-Nisa, artinya konsep keadilan yang berkasih sayang itu berada dalam ruang lingkup perempuan.

Mengapa keadilan itu harus disertai dengan kasih sayang? Sayyid Quthb dalam kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur`an menerangkan, demikianlah tampak jelas bahwa mencari keadilan merupakan manhaj ini dan sasaran dari setiap bagiannya. Keadilan ini lebih tepat untuk dipelihara pada tempat pemeliharaan keluarga, yang merupakan batu pertama bangunan seluruh jamaah, dan sebagai titik tolak kehidupan sosial secara umum, tempat tumbuh berkembangnya generasi.  Jika hal ini tidak ditegakkan atas keadilan, kasih sayang, dan kedamaian, maka tidak ada keadilan, kasih sayang, dan kedamaian di dalam masyarakat.

Dengan tegas disampaikan konsep keadilan yang berkasih sayang ini hendaklah dimulai dari rumah tangga, barulah efek positifnya akan melebar kepada lingkungan, hingga berpengaruh dalam kehidupan yang lebih luas. Makanya, perempuan sebagai madrasah pertama dalam rumah tangganya mengemban misi mulia agar keluarganya tegak di atas sikap adil dan juga kasih sayang.

Apabila istri mencurahkan kasih sayang, maka suami akan berani menghadapi dunia, apapun rintangannya atau risikonya. Ketika ibu mencurahkan kasih sayangnya, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kuat dalam menghadapi deru debu kehidupan. Ketika suami mencurahkan kasih sayang, maka istrinya akan lebih berdaya dalam melimpahkan segenap cinta. Maka keluarga adalah tempat utama dalam menegakkan keadilan yang berlimpa kasih sayang itu.

Namun penting pula diingat, keadilan itu tidak boleh pilih kasih, atau kasih sayang itu jangan sampai membuat kita berlaku tidak adil. Jangan sampai atas alasan kasih sayang kita membela keluarga yang jelas-jelas salah. Jangan pula kebencian terhadap seseorang membuat kita tidak berlaku adil.

Ulama kontemporer semacam Yusuf Qardhawi juga membahas surat An-Nisa dari dimensi keadilan yang berkasih sayang. Pada buku Berinteraksi Dengan Al-Qur’an diterangkan, Allah memerintahkan kaum mukminin agar berlaku adil dan menjadi saksi bagi Allah dan agar sikap adil itu tidak didistorsi oleh kasih sayang kepada keluarga dekat, atau kebencian kepada seseorang.

Keadilan harus berada di atas ikatan kekerabatan, baik jauh maupun dekat, di atas perasaan senang atau benci, dan harus karena Allah. Perintah berlaku adil terhadap orang yang engkau kasihi, meskipun ia adalah orangtuamu, keluarga yang paling dekat, atau dirimu sendiri. Keadilan dan kasih sayang itu tidak dapat dipisahkan, itulah spirit surat An-Nisa yang perlu diresapi.

Akhirnya, siapapun yang mengkaji dan meresapi surat An-Nisa, akan menemukan bahwa itu bukan sekadar pelabelan nama belaka, bukan pula hanya menyematkan nama perempuan dalam kitab suci. Pada surat An-Nisa tersimpan misi besar tentang keadilan dan kasih sayang, sehingga surat ini akan senantiasa menjadi kajian yang menyentuh kalbu.

 

Close X

Komunitas Muslim Ditekan Untuk Teken Piagam Nilai-Nilai Prancis?

Sebelumnya

Di Atas Sajadah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam