post image
Doa itu menunjukkan kekuatan jiwa, karena tergambar optimisme untuk bangkit dan pantang menyerah/ Net
KOMENTAR

LARA sepedih apa yang mendera Nabi Ya’kub hingga airmatanya berujung kepada kebutaan. Bukan hanya perih kehilangan Yusuf tercinta, tetapi konspirasi keji yang dilakukan anak-anaknya yang lain dengan menjerumuskan Yusuf ke dalam sumur bagaikan memercikkan cuka di atas luka.

Dengan berselimutkan lara itu pula Nabi Ya’kub memanjatkan sebait doa, seperti yang tercantum dalam surat Yusuf ayat 86, yang artinya, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.“

Kemudian Yusuf dipungut oleh bangsawan Mesir, Qithfir, hingga dirinya tumbuh menjadi pemuda yang sedap dipandang mata. Tiba-tiba istri Qithfir diamuk gelora asmara, lalu Zulaikha menggoda Yusuf untuk berbuat nista. Ketika kebusukannya terbongkar, malah Yusuf yang menjadi terdakwa dan berujung penjara.

Dalam laranya, Yusuf berdoa, seperti yang tercantum pada surat Yusuf ayat 33, yang artinya, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”

Baik Nabi Zakaria telah renta, istrinya selain tua juga divonis mandul, dan mereka belum juga memperoleh anak. Tidak memiliki keturunan dapat berujung lara yang teramat panjang masanya. Namun keyakinan atas kebesaran Allah tiada pernah sirna. Maka Nabi Zakaria memanjatkan doa yang menyentuh, seperti tercantum pada surat Ali Imran ayat 38, yang artinya, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

Kalau ada manusia yang ditimpa kemalangan bertubi-tubi, maka Nabi Ayyub salah satunya yang paling dramatis; istananya runtuh oleh gempa, pertanian binasa, perdagangan hancur, anak-anak mati, tubuhnya dihinggapi penyakit kulit yang menjijikkan, lalu ditinggal pergi pula oleh sang istri.

Dalam laranya, Nabi Ayyub memanjatkan doa yang amat lembut, tercantum dalam surat Al-Anbiya’ ayat 83, yang artinya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Mereka yang memanjatkan doa-doa di atas bukanlah sembarangan manusia, Tuhan yang memilih mereka mengemban risalah ilahiah, sekaligus memikul berbagai beratnya risiko perjuangan. Dan, apakah mereka itu lemah karena ketika mendapatkan cobaan amat berat malah mengadukan lara kepada Tuhannya?

Terlebih dulu mari disimak penjelasan Ibnu Taimiyah mengenai doa dalam buku Untaian Nasihat Ibnu Taimiyah, bahwa doa itu ada dua macam: doa ibadah dan doa meminta. 

Doa dalam Al-Qur’an itu kadang dimaksudkan sebagai doa yang pertama dan kadang yang kedua. Kadang juga dimaksudkan untuk keduanya, dan keduanya saling melekat.

Doa meminta adalah meminta apa yang bermanfaat bagi orang yang berdoa dan memintanya untuk dihilangkan dan ditolaknya sesuatu yang membahayakan terhadapnya.

Maka seorang hamba berdoa demi mendapat manfaat dan menghindari bahaya, sebagai doa meminta. Dan ia berdoa dengan takut dan berharap, sebagai doa ibadah.  Jadi jelaslah bahwa dua macam doa ini saling melekat satu sama lain, karena setiap doa ibadah itu mengharuskan doa meminta, dan setiap doa meminta itu mengandung doa ibadah.

Akan ada masanya setiap kita akan melalui masa-masa yang teramat berat, yang airmata tak kuasa menceritakan segala keperihannya. Dan ada baiknya kita memanjatkan doa-doa pelipur lara, boleh dengan meniru doa-doa para nabi atau berdoa dengan bahasa kita sendiri.

Mengapa doa pelipur lara ini penting? (Jawaban dari pertanyaan ini akan ikut menjelaskan pertanyaan sebelumnya)

Pertama, dengan memanjatkan doa, kekuatan batin akan berlipat ganda dan ketenangan jiwa akan diperoleh. Kemudian ufuk-ufuk baru akan terlihat dalam langkah menuju solusi masalah. Dengan demikian, doa itu sendiri merupakan obat dari lara.

Kedua, doa itu perintah Allah, artinya kita wajib menaatinya dan hanya manusia sombong yang tidak berdoa. Karena doa itulah yang menghubungkan kita dengan Tuhan secara langsung. Dari itu, berhati-hatilah dengan doa orang yang tertindas, sebab tiada lagi batas antara dirinya dengan Tuhan.

Ketiga, doa itu merupakan tameng rahasia orang beriman. Inilah kekuatan pamungkas yang memiliki keampuhan digdaya. Buktinya, Nabi Zakaria memperoleh anak dari istri yang telah renta bahkan mandul. Nabi Ayyub sembuh dengan cara yang ajaib. Nabi Ya’kub malah bertemu dengan Nabi Yusuf, saat putranya menjadi penguasa hebat di Mesir. Tiada yang mustahil apabila doa telah dikabulkan Allah.

Dalam buku Al-Qur'an for Life Excellence dikutip, Imam Al-Ghazali berkata, “Doa menjadi penyebab seseorang dijauhkan dari musibah dan seseorang didekatkan dengan rahmat. Doa dapat diibaratkan sebagai perisai yang menjadi tameng agar senjata tidak dapat menembus badan.”

Tidak ada manusia yang lemah hanya karena memanjatkan doa, malahan doa itulah yang menunjukkan kekuatan jiwa, karena tergambar optimisme untuk bangkit dan pantang menyerah. Berdoa dimulai!

 

Close X

Komunitas Muslim Ditekan Untuk Teken Piagam Nilai-Nilai Prancis?

Sebelumnya

Di Atas Sajadah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam