post image
Tak perlu berpikir apakah langkah kecil yang kita lakukan berpengaruh pada lingkungan atau tidak. Just do it. Karena semua berawal dari tindakan nyata untuk menyelamatkan bumi tercinta/ Net
KOMENTAR

MASIH ingat kebahagiaan kita di awal kisah lockdown akibat Covid-19? Saat itu polusi udara diberitakan menurun tajam.

Langit jernih. Udara segar. Kebisingan seolah menghilang dari jalan-jalan raya. Data NASA menyebutkan tingkat polusi di beberapa episentrum Covid-19 yaitu Wuhan, Italia, Amerika Serikat, dan Spanyol turun 30%.

Sayangnya, lockdown alias PSBB yang mengharuskan kita di rumah saja selama lebih dari setengah tahun ini, lambat laun justru membawa kerusakan lebih berbahaya bagi bumi. Yang menjadi perhatian utama adalah melonjaknya jumlah sampah plastik.

Pertama, sampah plastik yang meningkat jumlahnya akibat kebiasan 'order online' yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mulai dari pemesanan makanan siap saji, membeli sembako dan makanan ringan di marketplace, membeli obat-obatan dan kebutuhan kesehatan lain, hingga kebutuhan teknologi informasi, semua dilakukan secara online.

Sistem belanja online ini sebenarnya sudah sejak awal menimbulkan keresahan terkait penggunaan plastik untuk pengirimannya. Belum lagi polusi udara yang ditimbulkan akibat banyaknya penggunaan motor, mobil, dan pesawat (kargo). Dan ketika pandemi, semua itu menjadi berlipat-lipat angkanya.

Kedua, sampah plastik dalam bentuk masker, alat kesehatan, serta APD sekali pakai (berikut kemasannya) yang digunakan para tenaga medis juga masyarakat umum. Tidak dapat dipungkiri, semua itu merupakan kebutuhan mendasar untuk kita menghindari penyebaran Covid-19. Namun tanpa disadari, kita menghadirkan 'pandemi' baru yaitu sampah plastik.

Tidak hanya plastik, nun jauh di Amerika Selatan, data satelit INPE (Instituto Nacional de Pesquisas Espaciais alias National Institute for Space Research) Brazil menunjukkan bahwa 64% lahan hutan hujan Amazon telah ditebang selama pandemi. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 yang tercatat sebagai tahun deforestasi terburuk selama satu dekade.

Saat ini, ketika negara-negara di dunia mulai memberlakukan new normal, kondisi bumi pun berangsur 'normal' seperti dulu. Kemacetan di mana-mana. Pabrik-pabrik mulai beroperasi kembali bahkan bekerja lebih keras untuk mengganti kerugian yang diderita selama pandemi.

Tingkat polusi mulai beranjak ke angka sebelum pandemi. Emisi karbon misalnya, data Integrated Carbon Observation System (ICOS) menunjukkan bahwa emisi karbon pada pertengahan Juni 2020 hanya 4,7% lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Padahal, mengambil contoh di Indonesia, penggunaan angkutan umum, work from office, hingga kapasitas pengunjung mal umumnya masih dibatasi kuota 50%. Kondisi ini bahkan lebih berbahaya karena polusi sudah kembali 'normal' meskipun belum separuh penduduk bumi beraktifitas kembali seperti dulu.

Ya, dampak pandemi memang sungguh terasa di segala aspek kehidupan manusia, termasuk urusan plastik. Sangat ironis, di saat pemerintah sedang menggalakkan kebijakan retail bebas plastik, pandemi Covid-19 justru menjadikan 2020 seolah bukan tahun yang tepat untuk hidup tanpa plastik.

Adakah cara untuk menjaga kesehatan kita (menaati aturan PSBB dan social distancing) sekaligus mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan hidup?

Profesor epidemiologi dan pengendalian penyakit Infeksi di University of New South Wales, Australia, Mary-Louise McLaws, menyatakan bahwa semua bisa dimulai dari hal kecil—yang sebenarnya sudah mulai kita jalankan sebelum pandemi. Tidak ada alasan untuk menunda salah satunya, baik itu menjaga kesehatan maupun berkontribusi positif bagi lingkungan.

Optimisme juga disuarakan ahli ekonomi perilaku Colin Ashton-Graham yang banyak bekerja sama dengan Plastic Free Foundation. Pandemi justru menjadi satu kekuatan karena masyarakat bisa bahu-membahu untuk mengurangi limbah plastik karena kita semua semakin sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan dan pengaruh lingkungan terhadap kesehatan manusia.

Setidaknya, menurut Colin, masyarakat bisa mengganti "the top four" yaitu botol plastik, kantong plastik, wadah plastik makanan, dan sedotan. Dimulai dengan langkah sederhana: membawa tumbler, membawa tempat makanan dari rumah untuk take away, membawa tas belanja dari rumah, juga membeli sedotan berbahan bambu atau stainless steel.

Memusatkan segala kegiatan di rumah seharusnya juga bisa menjadi satu jalan mengurangi limbah plastik.

Ibu bisa lebih banyak memasak di rumah dengan bahan-bahan alami, keluarga mulai bercocok tanam dan membuat kompos sederhana, mulai memisahkan sampah organik dan anorganik, juga mulai memakai sikat gigi yang terbuat dari bambu dan memilih sabun batangan berbahan organik yang biasanya dibungkus dengan bahan nonplastik. Dan usahakan memesan barang secara online dari satu tempat untuk mengurangi polusi udara dan limbah plastik.

Partisipasi aktif masyarakat untuk mengurangi limbah plastik harus didukung kebijakan pemerintah yang berpihak pada masyarakat. Pemerintah harus siap dengan regulasi ramah pengusaha dan ramah rakyat sebagai konsumen. Jangan sampai para pengusaha mengeluhkan mahalnya bahan baku pengganti plastik yang reusable hingga mereka kukuh memertahankan wadah plastik dalam operasional mereka.

Aturan plastic free yang dijalankan dengan konsisten pada akhirnya akan menumbuhkan kreativitas para pengusaha. Misalnya saja pengusaha restoran dan kafe, mereka bisa membuat program diskon bagi pelanggan yang membawa tumbler dan wadah makanan sendiri. Dan tentu saja yang selama ini masih sulit dijalankan, kita sangat ingin melihat pemerintah menindak tegas para pengusaha nakal yang tidak mengolah dengan baik limbah plastik mereka.

Tak perlu berpikir apakah langkah kecil yang kita lakukan berpengaruh pada lingkungan atau tidak. Just do it. Karena semua berawal dari tindakan nyata untuk menyelamatkan bumi tercinta. (F)

 

Close X

Kabar Baik! Afghanistan Putuskan Nama Ibu Berhak Dicantumkan Di Kartu Identitas Anak

Sebelumnya

Bandara Italia Ini Katongi Penghargaan Anti-Covid Bintang Lima Pertama Di Dunia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah News