post image
Di era Vietnam modern, perempuan dapat memilih untuk menjadi ibu rumah tangga maupun perempuan berkarir. Partisipasi perempuan dalam bidang ekonomi, pemerintahan, dan masyarakat terus meningkat/ F
KOMENTAR

SEPERTI kita ketahui, Vietnam tumbuh menjadi kekuatan baru ekonomi dan pariwisata di Asia. Tak heran jika Indonesia dan negara yang resmi menjadi anggota ASEAN tahun 1995 itu berkompetisi dalam berbagai lini industri untuk membuktikan siapa yang lebih baik.

Vietnam dan Indonesia sama-sama anggota ASEAN, sama-sama negara berkembang yang kuat secara agraris, dan sama-sama menjadi primadona di ASEAN untuk lokasi PMA dari perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa.

Dengan berbagai kesamaan di atas,  geliat perekonomian Indonesia dan Vietnam menunjukkan angka yang saling bersaing.

Dengan bergantung pada ekspor impor, total perdagangan Vietnam terakhir menunjukkan angka 518 milyar USD, jauh meninggalkan Indonesia yang ‘hanya’ mengumpulkan 400 milyar USD.
 
Sebaliknya, pendapatan per kapita rakyat Indonesia tercatat 4000 USD per tahun, jauh mengungguli Vietnam di angka 2800 USD. Artinya, rata-rata penduduk Indonesia lebih sejahtera dibandingkan Vietnam. Ditambah lagi, Indonesia memiliki kekuatan pasar domestik yang sangat kuat untuk menarik minat para investor asing.

Penjelasan di atas disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam, Y. M. Ibnu Hadi, dalam zoom discussion bersama Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dengan moderator Teguh Santosa selaku CEO RMOL Network, Sabtu (20/06/20).

Keunggulan Vietnam berlanjut dalam urusan mengatasi pandemi Covid-19. Tentulah sebuah prestasi membanggakan bahwa Vietnam sukses menjadi negara dengan zero death dari total 349 kasus Covid-19.  

Menurut Dubes Ibnu Hadi, ada 6 strategi sukses Vietnam mengatasi Covid-19 yaitu kecepatan merespons munculnya Covid-19 sejak awal di Wuhan dan koordinasi efektif dengan WHO, kebijakan terpusat yang dijalankan dengan militan (ciri negara sosialis komunis yang menjadi kunci keberhasilan pendisiplinan masyarakat-red), komunikasi negara-masyarakat yang kredibel dan komprehensif, investigasi kasus dan contact tracing yang lengkap dan mudah diakses, karantina dan isolasi, serta penerapan social distancing yang konsisten.

Dengan komando satu arah yang menjadi satu-satunya pedoman masyarakat untuk bergerak dan menjalankan protokol kesehatan, Vietnam berhasil melawan Covid-19 dan mulai kembali normal sejak pertengahan Mei 2020. “Vietnam saat ini bukan menjalankan new normal melainkan back to normal,” ujar Dubes Ibnu Hadi.

Meski pandemi terbilang singkat, ekonomi Vietnam tetap saja terpukul. Sebanyak 35 ribu unit usaha terkena dampak. Belum lagi para pekerja yang dirumahkan. Pemerintah Vietnam mengalokasikan dana sekitar 600 ribu per bulan untuk diberikan kepada rakyat kurang mampu dan mereka yang dirumahkan selama tiga bulan.

Lalu, seperti apa dampak pandemi bagi perempuan Vietnam? Seperti apa sebenarnya kehidupan dan kontribusi perempuan untuk negara mereka?

Dubes Ibnu Hadi menjelaskan bahwa perempuan Vietnam dikenal sebagai sosok yang gigih dan pekerja keras. Pada banyak sektor, perempuan Vietnam lebih berdaya daripada laki-laki. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perempuan mendapat hak yang sama dengan laki-laki dalam aktualisasi diri.

Fakta di lapangan mendukung  penjelasan Pak Dubes. Hasil riset Women in Business yang dirilis Grant Thornton International pada Maret 2019 menempatkan Vietnam di peringkat kedua jumlah perempuan terbanyak yang menampati posisi level senior management di antara negara-negara Asia. Itu berarti perempuan profesional Vietnam mengalahkan perempuan Indonesia, Singapura, bahkan Jepang.

Menurut petinggi Grant Thornton Vietnam, Nguyen Thi Vinh Ha, prestasi yang diraih perempuan Vietnam ini tidak mengherankan. “Di negara kami, para perempuan memainkan peran-peran signifikan dalam dunia profesional. Kami sangat bangga memiliki banyak perempuan yang berpengaruh dan inspiratif. Dan kami pun menanti suksesi generasi masa depan yang tak kalah hebat. Kami berharap adanya kepemimpinan perempuan yang lebih kuat dalam dunia kerja,” ujarnya.

Meski demikian, masih ditemukan berbagai rintangan yang harus dihadapi para perempuan berkarir di Vietnam. Yaitu kurangnya akses untuk pengembangan karir, akses untuk menambah jaringan, tanggung jawab di luar bidang pekerjaan, dan memiliki waktu luang di antara kesibukan kerja.

Walaupun tidak ada praktik diskriminasi, kebijakan-kebijakan seputar kesempatan yang sama untuk menapaki jenjang karir, bagaimana menghapus bias dalam proses rekrutmen kerja, juga bagaimana memiliki pekerjaan yang fleksibel, harus diperkuat dan dievaluasi efektivitasnya. Dengan komitmen yang kuat dari para pemimpin negara, dipastikan Vietnam akan mampu menciptakan budaya inklusif yang konkret.

Kekuatan perempuan Vietnam telah teruji oleh sejarah. William S. Turley, seorang profesor ilmu politik dari Southern Illinois University Carbondale yang juga penulis buku The Second Indochina War menyatakan bahwa perempuan Vietnam telah memegang peranan penting dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat sejak era dinasti di masa lampau.

Dianutnya sistem matriarkat ini berlangsung hingga Cina datang dengan membawa budaya patriarki.

Meski demikian, ketangguhan perempuan Vietnam tidak berubah. Perempuan Vietnam telah berpatisipasi dalam revolusi melawan penjajahan Perancis. Meski tidak diizinkan masuk dalam pasukan tentara, mereka bertugas sebagai perawat, penjaga, kurir, juga  penyebar propaganda.

Mereka juga piawai mengambil alih peran laki-laki di sektor pertanian saat para laki-laki harus berjuang dalam perang Vietnam. Sejak tahun 1946, perempuan telah masuk dalam jajaran anggota DPR meskipun jumlahnya belum signifikan.

Di era Vietnam modern, perempuan dapat memilih untuk menjadi ibu rumah tangga maupun perempuan berkarir. Partisipasi perempuan dalam bidang ekonomi, pemerintahan, dan masyarakat terus meningkat.

Seiring perkembangan zaman, perempuan Vietnam semakin berdaya dengan peran mereka yang lebih kuat dari para laki-laki di bidang pendidikan, komunikasi, dan pelayanan publik. (F)

 

 

Close X

Sayyida Al Hurra Ratu Bajak Laut Muslimah Pertama Di Dunia

Sebelumnya

Mengenal Lebih Dekat Yuriko Koike, Wanita Pertama Yang Pimpin Tokyo Dua Periode

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Women