Nyamuk demam berdarah yang sudah berwolbachia dapat menurunkan tingkat keganasan gigitan dan keganasan gejala DBD/Net
Nyamuk demam berdarah yang sudah berwolbachia dapat menurunkan tingkat keganasan gigitan dan keganasan gejala DBD/Net
KOMENTAR

INOVASI Wolbachia terus dikembangkan di Indonesia, mengingat musim kemarau yang panjang ini mampu meningkatkan jumlah nyamuk demam berdarah, aedes aegypti. Wolbachioa dianggap mampu melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk penyebab demam berdarah, sehingga saat menularkannya ke manusia tidak memberikan efek kesehatan yang parah.

Penelitian terkait Wolbachia sudah dimulai sejak 2011 dan lokasi uji coba pertamanya adalah di Queensland, Australia. Inovasi ini merupakan hasil penelitian kerja sama antara Monash University Australia dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Wolbachia adalah bakteri yang disuntikkan ke dalam tubuh nyamuk aedes aegypti jantan. Selanjutnya, nyamuk jantan ber-wolbachia akan kawin dengan nyamuk jantan dan bakteri tersebut mampu memblok virus dengue yang ada pada nyamuk betina.

Jika nyamuk betina mengandung bakteri Wolbachia bertelur, maka bakteri tersebut akan diturunkan pada telur-telurnya, sehingga saat menetas nyamuk kecil sudah memiliki bakteri Wolbachia di tubuhnya.

Pada 2016, telur nyamuk Wolbachia dilepaskan ke sejumlah lokasi di Yogyakarta. Setelah dilakukan penelitian selama empat tahun terakhir dengan memonitor pasien bergejala, hasilnya nyamuk tersebut efektif menurunkan sampai 77% infeksi dengue dan mencegah hospitalisasi hingga 83%.

Dengan begitu, seseorang yang terinfeksi dengue akan mengalami infeksi ringan, bukan berat, apalagi yang menyebabkan kematian pasien.

Kemarau panjang dan polusi udara jadi kendala

Bakteri Wolbachia memang bisa bertahan selamanya dalam tubuh nyamuk aedes Aegypti dan bisa diturunkan pada generasi nyamuk seterusnya. Namun dengan adanya perubahan iklim, cuaca panas yang tidak menentu dan begitu menyengat, frekuensi bakteri yang ada dalam tubuh nyamuk bisa saja berkurang.

Seperti halnya di Vietnam, negara yang juga pernah menjadi tempat uji coba Wolbachia. Suhu di Vietnam sangat ekstrem dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Imbasnya, jumlah bakteri Wolbachia berkurang, bahkan mati.

Nah, fenomena El Nino yang sedang terjadi di Indonesia diperkirakan akan membuat kasus DBD melonjak. El Nino adalah pemanasan suhu mula laut yang menyebabkan kekeringan dan curah hujan rendah. Suhu panas ini membuat nyamuk Aedes aegypti semakin ganas.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi pernah menjelaskan, suhu udara di atas 30 derajat celsius akan meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk menjadi 3 sampai 5 kali lipat.

Sedangkan BMKG memprediksi, puncak fenomena iklim El Nino akan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2023, dan diprediksi berlanjut sampai awal 2024.




Jangan Paksakan Masuk Kerja Jika Lima Hal Ini Terjadi

Sebelumnya

Flu Singapura Meradang, Masker dan Isolasi Mandiri Kembali Dikencangkan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Health