Ilustrasi penelitian nyamuk wolbachia/YouTube Bill Gates
Ilustrasi penelitian nyamuk wolbachia/YouTube Bill Gates
KOMENTAR

KEMENKES berencana bangun pabrik telur nyamuk ber-wolbachia. Wolbachia adalah bakteri alami yang ada di dalam tubuh beberapa serangga seperti lalat buah, kupu-kupu, hingga ngengat.

Wolbachia tidak dapat bertahan hidup di luar sel serangga karena tidak memiliki mekanisme untuk mereplikasi dirinya sendiri tanpa bantuan serangga sebagai inangnya.

Teknologi ini dilakukan dengan menginfeksi nyamuk aedes aegypti penyebab DBD dengan bakteri wolbachia. Bakteri wolbachia memiliki kemampuan untuk memblok replikasi virus dengue di dalam nyamuk. Akibatnya, nyamuk tidak mampu lagi untuk menularkan virus dengue ketika menggigit tubuh seseorang.

Nyamuk ini juga dilepas ke ke populasi alami tujuannya agar nyamuk bisa kawin dengan nyamuk di lingkungan dan menghasilkan anak-anak ber-wolbachia. Dengan begini dampak perlindungan wolbachia terhadap penularan DBD bisa berkelanjutan."Kita sekarang ini yang sudah punya kapasitas produksi untuk wolbachia itu ada di lab UGM, Yogyakarta sekitar mungkin 8 juta telur per minggu. Kemudian di labkesmas Salatiga Jawa Tengah juga sekitar juga 7-8 juta telur per minggu," kata Maxi dalam diskusi publik di Manhattan Hotel, Jakarta Selatan, Rabu (17/1).

Kemenkes RI menuturkan bahwa teknologi wolbachia ini sudah terbukti dalam penelitian ilmiah dapat menekan angka kasus DBD. Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta mengungkapkan bahwa teknologi ini menurunkan kapasitas perawatan inap hingga sekitar 60 persen. Langkah ini merupakan salah satu cara untuk memberantas penyakit DBD di Indonesia.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Maxi Rein Rondonuwu mengatakan pihaknya berencana membangun pabrik telur nyamuk wolbachia. Ia menjelaskan bahwa pada saat ini kapasitas produksi telur ber-wolbachia di Indonesia masih terbatas.

Lima kota yang saat ini menjadi lokasi pilot project nyamuk ber-wolbachia adalah Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang. Mereka memerlukan sekitar 40 juta telur per minggu. Karena itu Maxi mengatakan perlu proses bertahap untuk menjadikan inovasi nyamuk ber-wolbachia ini menjadi program secara nasional.




Kemenkes Sosialisasikan Pertolongan Pertama pada Pasien Demam Berdarah

Sebelumnya

Benarkah Cuaca Panas Ekstrem Berbahaya Bagi Penderita Diabetes?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health