Ilustrasi kota Mekah/ Net
Ilustrasi kota Mekah/ Net
KOMENTAR

KEBENCIAN kaum Quraisy terhadap umat Islam memang sulit ditakar nalar. Akan tetapi mulai kosongnya Mekah dari kaum muslimin malah meningkatkan kecemasan mereka. Pihak musyrikin sangat menyadari hijrah kali ini bukanlah menuju Habasyah di benua Afrika, melainkan ke Madinah.

Kelak jika Islam tumbuh subur di Madinah yang terancam adalah kafilah-kafilah dagang Quraisy. Mereka mafhum sekali suatu ancaman besar akan menerkam di masa mendatang.   

Tak mau tanggung-tanggung, para penyembah berhala langsung menargetkan Nabi Muhammad sebagai sasaran utama. Mumpung beliau masih berada di Mekah, maka pihak Quraisy seperti berpacu dengan waktu. Jangan sampai mereka gagal bertindak sementara Rasulullah sudah duluan berhijrah.    

Tidak akan pernah mudah mencelakai Nabi Muhammad, sebab mereka akan berhadapan dengan keluarga besarnya dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang pasti membela. Sandungan inilah yang perlu segera dituntaskan, sehingga kalangan elit Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah. Biasanya tempat musyawarah dekat Ka’bah itu dipakai untuk membahas kepentingan kebajikan, kini malah digunakan untuk kejahatan.

Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya Hijrah dalam Pandangan Al-Quran (2006: 225) menerangkan:

Ketika kaum musyrikin melihat para sahabat mulai mengungsikan orang-orang yang butuh perlindungan dan anak-anak kepada Aus dan Khazraj, mereka mengetahui bahwa itulah tempat yang akan dijadikan sebagai benteng pertahanan dan merekalah para pendukung Rasulullah. Mereka sangat khawatir akan perginya Rasulullah saw. menuju Madinah.

Kemudian berkumpullah mereka di Darun Nadwah. Tidak ada seorang pun tokoh yang tidak hadir saat itu di sana untuk bermusyawarah mengenai urusan Nabi Muhammad.

Saat itu iblis datang dengan menyamar sebagai seorang kakek tua yang berpakaian sangat tertutup dari kain tebal. Kemudian bermusyawarahlah mereka dengan masing-masing mengeluarkan pendapat. Setiap pendapat selalu dipatahkan iblis dan ia selalu tidak sepakat.

Hingga Abu Jahal berkata, “Aku berpendapat bahwa setiap kabilah harus memilih seorang pemuda yang paling kuat dan paling berani di antara mereka, kemudian kita bekali dia dengan pedang yang bagus dan tajam supaya mereka mencari laki-laki itu untuk bersama-sama membunuhnya. Hingga kita tidak tahu siapa yang telah membunuhnya. Itu tidak akan menjadi beban bagi Banu Abdi Manaf karena mereka tidak tahu siapa sebetulnya yang telah membunuhnya.”

Si kakek tua (iblis yang menyamar) berkata, “Aku sepakat. Aku tidak melihat pendapat yang lebih baik dari itu. Ambillah pendapat itu, jika kalian tidak mau mengambil pendapat itu, selesailah perkara ini.”

Setelah mereka berselisih kemudian mereka menyepakati usulan itu. 

Keji sekali tipu daya yang mereka rancang, dan makin menjijikkan karena adanya keterlibatan iblis yang menyamar sebagai lelaki tua dari Nejd. Inilah waktu yang teramat kritis pula bagi Rasulullah, sebab makluk sekeji iblis pun turut campur. Dapatlah dikatakan makar ini perpaduan manusia ingkar dengan iblis yang terkutuk.

Surah al-Anfal ayat 30, yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” 

Makar yang berkelindan tipu muslihat itu tidak berkutik di hadapan keagungan Allah Swt. yang senantiasa menaungi Nabi-Nya.

Rasulullah masih terus bersabar menanti perintah Tuhan untuk berhijrah. Sementara itu Abu Bakar sudah demikian bersemangat untuk menjalani hijrah.

Ath-Thabari dalam buku Muhammad di Makkah dan Madinah (2019: 284-285) menjelaskan:

Abu Bakar sudah seringkali meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk hijrah ke Madinah, namun beliau bersabda, “Engkau jangan terburu-buru, mudah-mudahan Allah memberimu teman untuk hijrah." Abu Bakar berharap, kiranya ia bisa menemani hijrahnya Rasulullah.

Akhirnya, pada detik-detik kritis itu pula turunlah perintah Allah Swt. supaya Rasulullah segera berhijrah. Beliau mengabarkan berita itu kepada Abu Bakar yang membuat dirinya sampai meneteskan air mata bahagia. Siang harinya Nabi Muhammad dan Abu Bakar sudah membereskan persiapan hijrah.

Tetapi di malam harinya rumah Rasulullah dikepung para algojo Quraisy. Mereka lengkap dengan berbagai senjata tajam siap menghabisi nyawa beliau. Meskipun terkepung di rumahnya, Nabi Muhammad tidaklah panik sebab perlindungan Ilahi senantiasa menaunginya.

Ibnu Hisyam pada bukunya Sirah Nabawiyah (2019: 246) mengungkapkan:

Jibril mendatangi Rasulullah dan berkata, “Malam ini janganlah tidur di pembaringanmu.” Saat malam turun, para pemuda Quraisy berkumpul di depan pintu Rasulullah dan menunggu saat beliau tidur supaya bisa melancarkan serangan.

Rasulullah mengamati posisi yang mereka ambil, lalu bersabda kepada Ali bin Abi Thalib , “Tidurlah di pembaringanku. Selubungi tubuhmu dengan selimut Hadhrami hijau ini, lalu tidurlah. Mereka tidak akan menyakitimu.” Biasanya Rasulullah menggunakan selimut itu jika tidur.

Kendati tengah dikepung oleh para begundal bersenjata tajam, bukanlah berarti perintah hijrah mengalami kegagalan. Nabi Muhammad melangkah tenang ke luar rumah dan resmi memulai episode hijrahnya. Apakah dirinya langsung terkena sabetan pedang atau hunjaman tombak?

Begini kejadiannya!  




Perang Badar Kedua

Sebelumnya

Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah