Maria Branyas Morera/Net
Maria Branyas Morera/Net
KOMENTAR

BENAR jika ada orang yang mengatakan, daya tahan tubuh atau imunitas orang-orang tua terdahulu tidak perlu diragukan lagi. Mereka mampu menghadapi berbagai jenis penyakit dengan baik-baik saja.

Contohnya saja Maria Branyas Morera. Perempuan asal San Francisco ini lahir pada 1907 dan dinobatkan sebagai manusia tertua di dunia. Maria berhasil melewati dua pandemi besar, pandemi flu Spanyol dan pandemi COVID-19, dan masih hidup dengan sehat, hiingga saat ini.

Maria bukan tidak terinfeksi, namun ia berhasil selamat. Perjuangannya ini yang kemudian banyak disorot oleh media global. Bahkan, ia dinobatkan sebagai penyintas COVID-19 tertua.

Kira-kira, apa yang kunci hidup sehat Maria Branyas Morera?

Saat diwawancarai oleh Guinness World Records, Maria mengatakan bahwa memiliki umur panjang adalah keberuntungan. Semua itu tidak lepas dari pola hidup yang tertib, tenang, dan memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan teman.

Kontak dengan alam, kestabilan emosi, tidak terlalu khawatir, tidak ada penyesalah, positif, dan menjauhi orang-orang buruk, menjadi kunci hidup panjang yang dibagikan oleh Maria.

Pola hidup positif memang dapat memperpanjang umur, sebab seseorang hanya akan merasakan kebahagiaan dan tidak terlarut dalam kesedihan. Untuk memiliki pola hidup positif, lakukan dengan mengidentifikasi sumber masalah. Selanjutnya, lakukan evaluasi dengan menghentikan pikiran negatif, kemudian lepaskan semua beban dengan tertawa.

Maria Branyas Morera dan Flu Spanyol

Setelah lahir, Maria ikut orangtuanya pindah ke Spanyol. Pada 1918, pandemi Flu Spanyol melanda dunia. Saat ia berusia 29 tahun, perang saudara di Spanyol terjadi. Perang ini memberikan pengalaman buruk bagi Maria.

Maria menikah dengan seorang dokter bernama Joan Moret. Mereka dikaruniai 3 anak, 11 cucu, dan 13 cicit. Meskipun lahir di era tanpa teknologi, Maria tidak menutup diri dari perkembangan zaman. Ia justru memanfaatkannya untuk bisa tetap terhubung dengan keluarga dan teman-temannya.

Flu Spanyol sendiri saat itu menjadi pandemi paling mematikan di abad ke-20. Penyebabnya adalah virus H1N1, yang tidak diketahui pasti asal dan jenisnya seperti apa.

Orang yang terinfeksi akan mengalami gejala seperti demam dan kelelahan. Penyebaran virus ini kian masif ketika Perang Dunia I.

Di tahun 1918, gelombang kedua Flu Spanyol merenggut banyak nyawa dengan cepat. Penderita akan mengalami gejala seperti kulit yang berubah warna menjadi kebiruan dan paru-paru dipenuhi cairan.




CERDIK Beraktivitas Usai Libur Lebaran

Sebelumnya

Korea Selatan Impor Siswa dari Empat Negara Imbas Tingkat Kelahiran yang Terus Menurun

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News