KOMENTAR

JUNK Food merupakan salah satu jenis makanan yang disukai oleh anak karena rasanya cenderung asin dan gurih. Umumnya makanan ini mudah diperoleh di toko-toko swalayan dalam bentuk snack-snack yang dikemas dalam kemasan menarik.

Tidak hanya berbentuk snack, makanan junk food juga tersedia di restoran cepat saji. Umumnya makanan jenis ini dijadikan “jalan ninja” oleh para bunda apabila tidak sempat memasak atau di saat bingung ketika sang anak mengalami gerakan tutup mulut alias GTM.

Selain mengandung banyak lemak yang bisa menambah bobot tubuh, tahukah bunda bahwa junk food  dapat memicu berbagai gangguan kesehatan pada anak?

Ketua Umum Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpAk mengatakan bahwa saat ini penyakit sindrom metabolik sudah mengintai anak-anak di Indonesia. Salah satu penyebab utamanya adalah pola makan yang kurang sehat, yang cenderung tinggi gula dan lemak seperti pada junk food. Dan makanan tersebut dapat menimbulkan risiko obesitas yang dapat memicu berbagai penyakit pada anak.

Dr Piprim mengungkap bahwa anak yang obesitas berisiko terkena diabetes dan hipertensi. Kondisi ini sudah mulai banyak terjadi di usia anak dan remaja. Padahal sebelumnya penyakit ini diderita oleh kelompok usia dewasa.

Untuk menghindari hal tersebut, Piprim menghimbau pentingnya untuk kembali mengkonsumsi makanan sehat dengan minim pengolahan (real food).

Real food biasanya akan kompleks dengan karbohidrat, lauk hewani, ada gabungan lemak dan protein. Gizinya lengkap ketika bekali anak dengan real food. Misal dengan omelet, telur ceplok, ikan goreng atau apa pun makanan rumahan yang antistunting dan antiobesitas,” papar dr. Piprim pada Media Briefing virtual bersama Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Selasa (17/1/2023).

dr. Piprim menambahkan bahwa teknik memasak pada makanan rumahan juga merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah obesitas.

“Lauknya juga dimasak secara tradisonal dibuat opor, pepes, jangan dikasih tepung lalu digoreng. Itu bisa (menimbulkan) masalah lagi karena meningkatkan kadar gula darahnya,” pungkas dr. Piprim.




Puasa Tetap Aman Bagi Pengidap Diabetes Melitus

Sebelumnya

Cegah TBC pada Anak dengan Vaksin BCG, Jangan Lupa Kenali Efek Sampingnya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Health