post image
Teruntuk para pejuang Covid-19 di mana pun berada, tetaplah dalam kesabaran. Tengoklah betapa banyak orang peduli padamu. Keep on fighting!/ Net
KOMENTAR

SABAR biasanya diartikan dengan DIAM SAJA. Tidak meluapkan emosi. 'Menelan' bulat-bulat apa yang menimpa kita, alias pasrah.

Pemahaman tersebut, menurut Ustaz Khalid Basalamah, tidaklah tepat. Sesungguhnya, "Sabar itu adalah IKHLAS menerima takdir Allah kemudian IKHTIAR mencari jalan keluar."

Dengan pengertian sabar seperti di atas, jelaslah mengapa ada firman Allah Swt. yang berbunyi "...innallaaha ma'ash shaabiriin" (bagian dari ayat 153 surah Al-Baqarah) yang berarti "...sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

Jika berbicara tentang ikhlas dan ikhtiar yang terkandung dalam sabar, sejatinya dua hal inilah yang mampu menguatkan diri kita dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Tak peduli seberat apa pun cobaan yang menghadang.

Termasuk saat ini. Ketika hari demi hari dilalui dengan membaca berita tentang anggota keluarga, sahabat, atau rekan kerja yang terpapar Covid-19. Tentang kehilangan orang-orang terdekat. Orang-orang baik yang semasa hidupnya menjadi mercusuar bagi sesama.

Satu setengah tahun pandemi, masihkah kita mengumpat dalam hati? Masihkah kita menyesalkan takdir? Masihkah kita mengutuk pandemi dan segala dampaknya bagi kita?

Seperti para psikolog mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan untuk menghadapi kesulitan dalam hidup adalah menerima (acceptance). Sebagai muslim, inilah yang dikatakan ikhlas terhadap qadarullah (ketentuan Allah). Kita menyadari keterbatasan diri kita sebagai makhluk dan hamba yang tidak bisa mengatur 100% apa yang terjadi dalam hidup kita.

Ucapkan innalillahi dan astaghfirullah jika memang kita mendapati kata "positif" dalam lembar hasil pemeriksaan. Menggerutu dan menolak kenyataan tidak akan mengubahnya menjadi negatif.

Dengan mengikhlaskan apa yang terjadi, pikiran kita tidak akan terbebani dengan pertanyaan mengapa dan bagaimana yang biasanya malah menodai kejernihan berpikir kita.

Di antara tanda keikhlasan mulai hadir dalam hati adalah saat kita bisa memejamkan mata di malam hari dengan tenang dan tidur dengan nyenyak. Kita tidak diganggu pikiran-pikiran buruk yang membuat stres. Meskipun tubuh sedang dilanda demam, nyeri dan pegal linu, radang tenggorokan, anosmia, ageusia, batuk, hingga diare, seperti yang dirasakan para pasien Covid-19 dengan gejala.

Ikhlas juga erat kaitannya dengan bersyukur. Tidak merasa kita adalah makhluk paling malang.

Ketika hati dicabik rindu dengan si kecil karena dipisahkan oleh isolasi mandiri, airmata tentu tak bisa tertahankan. Namun airmata itu juga menjadi munajat syukur bahwa kita masih bisa berjuang demi buah hati terkasih. Airmata itu tak sebanding dengan airmata yang mengalir deras karena kehilangan orangtua, kakak, adik, atau pasangan. Namun jika kita memang mengalami kehilangan, yakinlah bahwa qadarullah adalah yang terbaik.

Ikhlas kemudian membawa kita kepada ketegaran. Dan ketegaran itulah yang membuat kita kuat berikhtiar untuk mencari solusi.

Jika Allah menguji dengan penyakit, kita berjuang untuk sembuh.

Memfilter dengan bijak mana yang bisa kita lakukan, mana yang tidak terbukti membantu penyembuhan. Mencari tahu dan mempelajari, lalu melakukannya dengan disiplin. Mengonsumsi obat dan vitamin juga meningkatkan ketahanan tubuh. Dari sekian banyak informasi yang beredar, di tengah kondisi yang masih terus berubah, kita sebaiknya tidak gegabah dalam menyerap maupun menyebarkan informasi.

Dari ikhlas menjadi tegar kemudian menjadi tangguh.

Empat belas hari berjuang mengubah diri menjadi lebih baik dari segala aspek. Dari segi fisik, sudah pasti. Kita menyadari bahwa sehat adalah segalanya. Maka kesehatan menjadi kondisi komprehensif: ketenangan pikiran, makanan sehat, kebersihan tubuh dan lingkungan, juga olahraga.

Dari segi mental dan rohani, seorang muslim sepantasnya taqarrub (mendekat) kepada Allah. Memohon, memohon, dan memohon untuk bisa sembuh. Memohon, memohon, dan memohon agar orang-orang tercinta dijauhkan dari virus. Menikmati lantunan ayat suci yang menenangkan jiwa sekaligus membaca ayat-ayat Allah yang menjadi iman dan imun booster.

Jika selama ini hati kita masih belum tergerak untuk mendekat pada Allah, belum cukupkah Covid-19? Apalagi yang kita tunggu? Jangan sampai ajal yang lebih dulu mendekati kita. Naudzubillah.

Jika kita mesti menapaki jalan perjuangan selama empat belas hari, jadikanlah hari-hari itu sebuah jalan untuk menaikkan derajat kita di hadapan Allah. Semua kesulitan dan kepayahan yang menjadi ujian, sejatinya akan menentukan apakah kita bisa naik tingkat pada akhirnya. Itulah sejatinya buah kesabaran kita.

Sudahkah kita bersabar?

Teruntuk para pejuang Covid-19 di mana pun berada, tetaplah dalam kesabaran. Tengoklah betapa banyak orang peduli padamu. Keep on fighting!

Close X

Saring Sebelum Sharing; Kiat Terhindar dari Dosa Medsos

Sebelumnya

Rebutan Hak Asuh, Apa Motifnya?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur