post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

VIRUS Corona seperti sedang memainkan perannya dengan lebih besar lagi. Angka kasus terpapar yang diperkirakan akan menurun, justru terus meroket. Per 3 Desember 2020 bahkan telah terjadi rekor baru kasus terinfeksi covid-19, yaitu mencapai 8.369 kasus per hari.

Kondisi ini membawa kecemasan, ketakutan untuk beraktifitas di luar rumah, kecemasan menjalankan usaha, bahkan cemas akan nasib diri sendiri apabila sewaktu-waktu menjadi 'korban' dari virus SARS-CoV-2 tersebut.

Memang hal tersebut wajar, namun dianggap mengganggu apabila sudah menjangkiti fisik seseorang. Seperti menjadi sulit tidur, gugup, bahkan hingga membuat kerja jantung menjadi sangat cepat.

"Secara klinis kecemasan itu dibagi menjadi tiga. Yang parah adalah panic attack, yaitu suatu kondisi kecemasan berlebih yang membuat seseorang menjadi 'shutdown' berhenti dan tidak tahu harus berbuat apalagi," ujar clinical psychologist Mario Albert, dalam Bincang Sehat bersama RMOL.Id, Jumat (4/12).

Pada taraf sedang, kecemasan selanjutnya disebut dengan general anxiety, yaitu kecemasan berlebih yang dialami seseorang dalam waktu yang cukup lama. Durasinya bisa mencapai lebih dari 6 bulan.

Dan ketiga adalah social anxiety yang biasanya diartikan dengan rasa malu atau tidak berani, bahkan takut terjun ke dunia sosial.

"Jika masih dalam tahap biasa, menghilangkan kecemasan bisa dilakukan dengan menghentikan sementara apa yang sedang kita lakukan. Tarik napas yang dalam, kemudian ambil pulpen dan kertas, tuliskan apa yang membuat kita merasa cemas," sarannya.

Selanjutnya, buat dua kolom yang memuat tentang bukti-bukti objektif. Kolom kanan diisi bukti-bukti pendukung apakah kecemasan akan terjadi dan kolom kiri diisi bukti-bukti pendukung kecemasan tidak akan terjadi.

"Ajak teman untuk melakukan hal ini. Karena jika dilakukan sendiri biasanya lebih mengarah pada bukti-bukti kecemasan akan terjadi. Jika begini, maka akan memunculkan kecemasan baru," ujarnya lagi.

Setelah merinci bukti-bukti objektif, buat solusi, apa yang harus dilakukan jika kecemasan itu menjadi kenyataan.

"Biasanya, seseorang itu suka melebih-lebihkan potensi bahaya dan meragukan diri untuk menyelesaikan masalah," tutur Mario.

Cara selanjutnya yang juga bisa dianggap kekinian adalah dengan 'mindfulness'. Kata kunci dari cara yang satu ini adalah fokus dengan apa yang sedang ada di hadapan saat ini.

"Menikmati saat ini, itu kunci utamanya. Kecemasan itu meragukan masa depan. Makanya, fokus saja dengan apa yang bisa kita kontrol. Right here and now," demikian Mario.

Close X

Sembuh dari Covid-19, Risiko Kesehatan Apa Saja Yang Mengintai di Kemudian Hari?

Sebelumnya

Urgensi Vaksin Covid-19 Untuk Lansia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Health