KOMENTAR

KETIKA berada di ibukota kerajaan Brunei Darrusalam, Bandar Sri Begawan, saya sempat jahil bertanya kepada driver merangkap pemandu saya tentang kenapa rakyat Brunei tidak pernah demo.

Reaksi warga Brunei itu mirip ekspresi wajah warga Uni Emirat Arab ketika saya mengajukan pertanyaan yang sama di Dubai.

Tampaknya mereka berdua terheran-heran kenapa saya sampai harus mengajukan suatu pertanyaan yang sebenarnya sangat absurd maka tidak perlu dipertanyakan.

Sejahtera

Di Uni Emirat Arab mau pun Brunei Darussalam rakyat tidak punya alasan untuk repot turun ke jalan demi berdemo. Cita-cita yang tersirat di masyarakat adil dan makmur  berhias suasana keadilan sosial sudah tercapai bagi seluruh rakyat UEA dan BD.

Sekolah gratis bagi setiap warga negara tanpa kecuali, bahkan bea siswa diberikan untuk siswa berbakat melanjutkan studi perguruan tinggi di luar negeri.

Memang rakyat wajib sekolah namun bukan wajib bayar uang sekolah, gedung, buku, seragam, studi wisata atau uang entah apa lagi. Pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat.

Namun tidak total gratis sebab wajib bayar 1 dolar Brunei sebagai uang administratif untuk para dokter.

Perumahan memang tidak gratis, namun setiap warga dapat jatah hak membangun rumah masing-masing tanpa beban bunga alias riba yang memang dilarang agama Islam. Karena sistem kepemerintahan Brunei Darrusalam memang bukan demokratis namun monarkis alias kerajaan maka tidak ada permusuhan antar warga soal capres akibat pilpres dengan segenap unsur keributan mulai dari quick-count, real-count, jajak pendapat, polling, kampanye, janji kampanye atau saling membenci sehingga saling lapor ke polisi atas dugaan membuat dan menyebar hoax, ujaran kebencian apalagi makar.

Brunei Darrusalam sama sekali tidak mengenal masalah golput sebab warga tidak merasa perlu memiliki hak apalagi kewajiban untuk memilih.

Brunei Darrusalam sebagai sebuah negara yang sama sekali tidak demokratis terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat secara lebih baik ketimbang negara yang mengakui dirinya sendiri sebagai negara demokratis seperti Amerika Serikat, India dan Indonesia.

Demokrasi

Uni Emirat Arab, Kuba, Korea Utara dan Brunei Darrusalam membuktikan bahwa demokrasi bukan satu-satunya sistem menyejahterakan rakyat.

Demokrasi cuma buatan manusia, sementara manusia adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Maka jelas bahwa kepentingan ciptaan Tuhan hukumnya wajib diposisikan jauh di atas kepentingan ciptaan manusia belaka.

Jangan sekali-kali memberhalakan demokrasi sebagai tujuan karena demokrasi sekedar sebuah alat.

Demokrasi hanya sebuah alat untuk dimanfaatkan umat manusia demi meraih tujuan yang jauh lebih mulia yaitu demi membangun negara, bangsa dan rakyat yang hidup bersama di sebuah negeri gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta rahardja. Merdeka!




Viral, Seorang Terapis Diduga Lakukan Kekerasan kepada Anak Penyandang Autisme

Sebelumnya

Menggratiskan Tes PCR Pasti Mampu Jika Mau

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana