KOMENTAR

BAHKAN doa pun memerlukan motivasi sebagai pendorongnya. Untuk kejadian Nabi Zakaria, jelas sekali istri menjadi motivasi dirinya menghasilkan doa yang demikian spektakuler, yang dikabulkan Allah Swt. secara mukjizat.

Surah Al-Anbiya ayat 90, yang artinya, “Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.

Seorang istri sejati tentunya mendambakan peran yang lengkap, yakni juga sebagai ibu. Harapan terindah itu dipahami oleh Nabi Zakaria, dengan tidak mundur setapak pun dari kondisi mandul istrinya.

Alih-alih menyudutkan keadaan istri atau menjatuhkan pilihan kepada perempuan lain untuk dinikahi lagi, suami hebat itu justru memutuskan untuk merangkul istrinya. Dan Nabi Zakaria memanjatkan doa secara khusyuk, bait-bait doa yang bertujuan memuliakan istrinya.

Ketabahan istri pula yang membangkitkan motivasi Nabi Zakaria, yang membuatnya yakin bahwa keajaiban dapat saja tercipta berkat kebesaran Tuhan. Oleh sebab itu, tidak pernah ragu Nabi Zakaria memanjatkan doa. Bagaimana dirinya tidak yakin dengan kekuatan doa, sementara dia menyaksikan ketabahan istri yang tetap istikamah hingga usia senja.

Selanjutnya Sayyid Quthb pada Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 15 (2004: 125) menguraikan:

Sebelum itu istrinya dalam kondisi mandul, tidak bisa mengandung. Mereka berdoa dengan harapan terhadap keridaan Kami dan dengan perasaan cemas dan khawatir atas kemurkaan Kami. Sehingga, hati mereka selalu yakin terhadap hubungan dengan Allah dan selalu berharap kepada rahmat-Nya. Mereka bukanlah orang-orang yang takabur dan sombong.

Dengan sifat-sifat dalam pribadi Zakaria, istrinya, dan anaknya Yahya, dua orang tua ini berhak mendapatkan anak yang saleh. Mereka adalah keluarga yang diberkahi dan berhak mendapatkan rahmat dan rida Allah.

Ada nilai-nilai kemuliaan pada diri Zakaria dan istrinya, yang membuat doanya menjadi amat berharga di hadirat Ilahi, yang menjadikan keduanya berhak mendapatkan anugerah keajaiban. Karena Zakaria dan istrinya bukanlah golongan yang sombong, dan senantiasa menjaga keyakinan terhadap keagungan Allah Swt.

Kelemahan istri malahan menjadi motivasi penting bagi suami, itulah hikmah yang patut dipetik dari kisah Nabi Zakaria. Sekiranya kemandulan istri yang dipermasalahkan, maka tidak akan pernah dapat jalan keluarnya, dan tidak akan terjadi turunnya mukjizat Ilahi.

Maka teladanilah Nabi Zakaria yang menjadikan istri motivasi atau bahkan inspirasi. Sikapnya yang dewasa terhadap kekurangan istri dihargai Allah sehingga dibalasi dengan anak yang saleh.

Tuhan tidak pula ragu memberikan anugerah keturunan, sebab suami istri tersebut benar-benar membuktikan kepasitas diri sebagai insan yang beriman. Mereka benar-benar percaya dengan kebesaran Allah, sehingga tidak ragu berdoa minta anak di usia senja dan meski kondisi istri yang mandul pula. Namun, Allah pun berhak menjatuhkan pilihan mukjizat kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Ahmad Khalil Jam’ah & Syaikh Muhammad bin Yusuf Ad-Dimasyqi dalam bukunya Istri-Istri Para Nabi (2020: 214-215) mengungkapkan:

Sempurna sudah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla dan istri Zakaria melahirkan anaknya, Yahya. Kelahiran Yahya adalah mukjizat. Yahya lahir dari ibu-bapak yang lanjut usia hingga keduanya tidak mempunyai harapan lagi untuk memiliki keturunan.

Yahya lahir setelah doa suci yang digerakkan hati Nabi Allah Zakaria yang tua. Allah Azza wa Jalla memberi kesaksian terhadap Yahya dan menyebutkan kedudukan dan keutamaannya.

Di antara karamah tambahan yang diberikan Allah kepada istri Zakaria bahwa Allah menyifati anaknya dengan sifat-sifat agung dan menjadikannya mempunyai hanan. Hanan ialah cinta, lembut, dan sayang.

Ternyata pembahasan doa Nabi Zakaria tidak berhenti sampai di sini belaka, sebab para ulama juga merumuskan suatu saripati bahwa lelaki tersebut juga termotivasi oleh perempuan lain. Dan kejutannya, doa Zakaria yang dibalas mukjizat itu juga termotivasi dari kemuliaan yang diberikan Allah kepada seorang gadis suci.

Siapakah dia?

Ibnu Katsir dalam buku Kisah Para Nabi (2017: 716) menerangkan:

Suatu hal yang menjadi motivasi atas pengabulan doa itu adalah ketika Zakaria diberi tugas oleh Allah Swt. untuk menjaga dan mengasuh Maryam binti Imran bin Matsan. Setiap kali Zakaria masuk ke mihrab Maryam, beliau mendapati di sisi Maryam terhidang berbagai macam buah-buahan yang bukan pada musimnya.

Dengan demikian, Zakaria memahami bahwa Allah yang Maha Pemberi rezeki dapat menghidangkan buah-buahan yang bukan pada musimnya itu, pasti Dia juga Maha Berkuasa untuk memberi anak kepadanya. Meskipun beliau sudah berusia lanjut dan istrinya dalam keadaan mandul dan berlaku di luar sunah-Nya.

Besar sekali faedahnya tatkala Zakaria mendapat amanah memelihara gadis suci bernama Maryam di mihrab rumah ibadah. Sekalipun mengurung diri, semata-mata beribadah di ruangan khusus bagi dirinya, Maryam tidak pernah kelaparan. Nabi Zakaria menjadi takjub, sebab dirinya menyaksikan di sisi Maryam selalu terhidang buah-buahan yang lagi tidak musimnya di daerah tersebut.

Dari mana lagi datangnya rezeki sehebat itu, buah-buahan yang sebutir pun tidak ditemukan di pasaran tetapi terhidang di kamar Maryam, kalau bukan itulah karunia Ilahi. Dari keajaiban Maryam yang disaksikannya itulah Nabi Zakaria termotivasi mengajukan pinta yang mustahil bagi logika manusia.

Bagaimana bisa perempuan yang tidak bisa memiliki keturunan dan sudah tua usianya dapat mengandung hingga melahirkan? Namun, logika Nabi Zakaria luar biasa hebatnya karena berpangkal dari keimanan yang kokoh, dia pun semakin optimis sesudah menyaksikan keajaiban yang terjadi pada Maryam. Singkat kata, jika keajaiban bisa dianugerahkan Allah kepada perempuan lain, tentulah Tuhan dapat memberikan hal serupa terhadap istrinya.




Kemilau Mutiara Iyyaka

Sebelumnya

Memahami Hamma Biha dan Konsep Ma’shum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir