post image
KOMENTAR

DIMULAINYA dakwah secara terang-terangan ditandai dengan turunnya perintah Allah Swt. Sehingga Nabi Muhammad saw. mengumpulkan para pemuka Quraisy dan menyeru mereka agar memeluk agama Islam.

Uniknya, pada kesempatan yang terhormat itu Rasulullah juga menyampaikan seruan mengharukan kepada putri tercintanya. “Wahai Fatimah binti Muhammad! Selamatkanlah dirimu dari api neraka.”

Dalam seruan kepada keimanan itu, kenapa tiba-tiba terselip nama seorang anak perempuan? Sejatinya, Fatimah yang masih gadis muda belia itu sudah memeluk agama Islam, tapi kok diseru juga oleh ayahandanya?

Abdus Sattar Asy-Syaikh pada bukunya Fatimah Az-Zahra: Penghulu Wanita Surga (2015: 49-50) menceritakan:

Beliau bersabda, “Wahai golongan orang-orang Quraisy, selamatkanah diri kalian dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak kuasa menimpakan mudarat dan memberikan manfaat kepada kalian dari Allah. Wahai keluarga besar Bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak kuasa menimpakan mudarat dan memberikan manfaat kepada kalian dari Allah. Wahai keluarga besar Bani Qushay, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak kuasa menimpakan mudarat dan memberikan manfaat kepada kalian dari Allah. Wahai keluarga besar Bani Abdul Muthalib, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak kuasa menimpakan mudarat dan memberikan manfaat kepada kalian dari Allah.”

“Wahai Fatimah putri Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku  tidak kuasa menimpakan mudarat dan memberikan manfaat kepada kalian dari Allah. Sesungguhnya aku memang punya hubungan kekeluargaan dengan kalian, dan aku akan menjaganya.” (HR. Tirmidzi)

Di masa itu perempuan tidak ada harganya; diperjualbelikan, dijadikan taruhan perjudian, atau bahkan dikubur hidup-hidup.  Lantas hadirlah Nabi Muhammad yang secara terbuka mencintai dan menghormati Fatimah.

Seruannya kepada Fatimah adalah bukti besarnya cinta kasih, yang tentunya beliau berharap putrinya selamat dari siksa neraka. Seorang ayah yang menyayangi putrinya tentulah mengharapkan surga terbaik bagi buah hatinya.

Selain itu, apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad adalah seruan keadilan bagi perempuan secara keseluruhan. Ketika kaum wanita dinista dan dihina derajatnya, maka agama Islam dalam dakwah terbuka pertama kalinya langsung menyerukan keadilan gender, bahwa perempuan pun berhak mendapatkan keselamatan dunia akhirat.

Demikianlah dakwah terbuka itu dimulai dalam sejarah Islam, yang tidak dapat dipungkiri mestilah adanya keadilan bagi kaum perempuan. Dakwah terbuka menandai babak baru dalam haru biru perjuangan Islam, dan percayalah bahwa betapa dahsyatnya peran para muslimah.     

Surat al-Hijr ayat 94-95, yang artinya, “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu (Muhammad) daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).”

Para ulama mempercayai bahwa ayat ini mengandung perintah Allah kepada Rasulullah supaya terang-terangan mendakwahkan agama Islam, bukan sembunyi-sembunyi lagi.

Syaikh Ahmad Mushthafa al-Farran mencantumkan penjelasan ayat ini dengan amat menarik pada kitab Tafsir Imam Syafi’i (2006: 5) bahwa, lalu suatu kaum mengolok-olok Rasulullah sehingga Allah menurunkan ayat kepada beliau, artinya, “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Dengan demikian, Allah telah mewajibkan Rasulullah untuk menyampaikan dakwah kepada mereka sekaligus menyembahnya tanpa memerintahkan beliau untuk menyerang mereka. Dia juga tidak pernah memerintahkan beliau untuk mengasingkan diri dari mereka.

Dakwah secara terbuka ini ditandai dengan strategi; mendekati mereka bukannya memusuhi dan merangkul mereka bukannya menjauhi. Dakwah terbuka bukanlah ultimatum peperangan, melainkan syiar terang benderang yang menyinari kehidupan dunia dalam ufuk kebenaran dan keadilan.

Sebetulnya masih sangat sedikit penganut Islam di waktu itu, yang menggambarkan betapa rentannya keselamatan Rasulullah dan para pengikutnya. Akan tetapi, perintah Ilahi mengandung hikmah kebenaran yang tidak mungkin ditunda lagi. Nabi Muhammad saw. tegak di hadapan orang-orang Quraisy dan terang-terangan menyeru mereka kepada agama tauhid.     

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam bukunya Periode Mekkah; Berdakwah Secara Terang-Terangan dan Faktor Penopang Kesabaran Kaum Muslimin (2021: 4-5) menerangkan:
Setelah yakin tugasnya menyampaikan wahyu Rabbnya telah mendapatkan perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, beliau suatu hari berdiri tegak di atas bukit Shafa sembari berteriak, “Ya shabaahah! (seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu pagi).”

Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. Kemudian beliau mengajak mereka kepada tauhid, beriman kepada risalah yang dibawanya dan Hari Akhir.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. bersabda, “Bagaimana jika aku memberitahukan kalian bahwa segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian memercayaiku?”

“Ya. Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran,” jawab mereka.
Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan azab yang sangat pedih.”

Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?”

Lalu Allah menurunkan surat al-Lahab ayat 1, yang artinya, "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia."

Tingkat kepercayaan teramat tinggi kepada Rasulullah membuat penduduk Mekah menggelarinya Al-Amin; orang yang terpercaya. Apapun perkataan Nabi Muhammad saw. langsung dipercaya, karena beliau memang orang yang teramat jujur.

Dengan begitu, mestinya seruan beriman kepada Allah Swt. itu langsung disambut dengan hati terbuka oleh khalayak Mekah. Bukankah kejujuran beliau tidak pernah diragukan lagi?




Raja yang Menolak Hadiah

Sebelumnya

Jalan Berliku Hijrah ke Habasyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah