post image
Vaksin Janssen/ Net
KOMENTAR

MINGGU lalu, Indonesia kedatangan vaksin baru buatan Amerika Serikat, Janssen. Vaksin yang diproduksi oleh Johnson & Johnson itu adalah bantuan dari Pemerintah Belanda kepada Indonesia.

Tidak seperti 5 vaksin yang sudah ada, yaitu Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Pfizer dan Moderna, vaksin Covid-19 ini hanya cukup disuntikkan satu dosis saja. Loh, kok bisa, ya?

Dokter Patologi Klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menjelaskan, vaksin Janssen sebenarnya menggunakan metode viral vector, seperti yang dipakai pada vaksin CanSino, AstraZeneca, dan Sputnik. Seperti dikutip dari Kompas.com.

Hanya saja, Janssen dan CanSino memiliki adenovirus yang berbeda dengan AstraZeneca dan Sputnik. Pada Janssen, virus vector-nya adalah adenovirus yang biasa menginfeksi pada manusia, tetapi ringan.

Ketika menjadi vector, tubuh membentuk antibodi terhadap virus Corona yang dititipkan, maupun terhadap yang membawanya. Kalau nanti diberikan lagi dosis keduanya, maka virus vector itu akan mudah ditangkap antibodi yang sudah terbentuk.

"Maka virus vector tidak bisa menjalankan tugasnya membawa vaksin Covid-19. Itulah mengapa ada beda, pada Janssen dan CanSino hanya diberikan dosis tunggal," urai Tonang.

Sementara pada vaksin AstraZeneca, yang dipakai adalah adenovirus yang biasanya menginfeksi simpanse. Setelah disuntikkan, tubuh manusia membentuk antibodi terhadap vaksin Covid-19 yang dibawa, tapi tidak banyak bereaksi terhadap virus vector-nya.

Untuk efikasinya, vaksin buatan Johnson & Johnson ini efektif mencegah seluruh gejala Covid-19 berdasarkan data interim studi klinik fase 3 pada 28 hari setelah pelaksanaan vaksinasi adalah 67,2 persen.

Kemudian, efikasi untuk mencegah gejala Covid-19 sedang hingga berat pada subjek di atas 18 tahun yakni 66,1 persen.

 

Cukup Sekali Saja, Vaksin Jhonson & Jhonson untuk Siapa?

Sebelumnya

Sebuah Cara Mengenal Penutup Kepala Perempuan Nusantara

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News