Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

DALAM Islam, dikatakan bahwa setiap Muslim adalah pemimpin—setidaknya bagi dirinya sendiri. Jiwa pemimpin dalam diri kita itulah yang seharusnya menjadi pemandu jalan kita dalam mengarungi kehidupan di dunia.

Di kala pandemi, jiwa kepemimpinan kita mendapat ujian berat. Kita bukan bicara tanggung jawab yang diemban bupati atau wali kota, gubernur, menteri, atau presiden melainkan fokus pada tanggung jawab kita bersama menghadapinya.

Saat pandemi, jiwa kepemimpinan dalam diri kita harus lebih berkontribusi untuk mengendalikan dan menguatkan diri kita. Jangan sampai kita kehilangan kekuatan sehingga kita dicekam rasa takut, cemas, mudah marah, juga mudah terbawa hasutan orang tanpa bisa lepas dari semua itu.

Kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Karena itulah kita bertanggung jawab untuk menjadikan diri kita individu yang mampu beradaptasi, bertahan, dan membalikkan keadaaan menjadi lebih baik.

Setelah mengetahui bahwa pandemi ini kemungkinan akan menjadi 'sahabat' kita hingga bertahun-tahun ke depan, jiwa kepemimpinan seharusnya bisa memerintahkan diri kita bangkit dari rasa was was dan jenuh yang mungkin sudah terlanjur menggerogoti hati dan pikiran.

Sudah saatnya bangkit, karena setiap kita punya peran untuk mengakhiri pandemi.

Para ilmuwan meneliti virus dan tanpa lelah melakukan uji coba klinis untuk menemukan formula vaksin dan obat yang bisa melawan SARS-CoV-2.

Para tenaga kesehatan sudah pasti berada di garda terdepan penanganan Covid-19. Mereka juga menjadi garda depan penyebaran sains dan pengetahuan medis yang bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan Covid-19.

Selama pandemi, profesi selain nakes juga tak kalah berperan.

Para pengajar yang harus mengajarkan siswa secara virtual hendaknya selalu memompa semangat siswa agar selalu ceria. Tak hanya agar tetap semangat belajar, tapi juga bersemangat melewati hari demi hari pandemi. Peran itu bisa ditingkatkan dengan kreativitas metode belajar dan kegiatan nonakademik yang mengasyikkan.

Para pengusaha, mencari cara kreatif untuk beradaptasi dengan normal baru hingga sebisa mungkin tidak memberhentikan karyawan—meski mungkin berpotensi pada pengurangan gaji karena jam kerja berkurang demi menaati prokes (pemberlakuan shift demi menjaga jarak).

Pemilik pabrik besar misalnya, bisa mulai memproduksi barang yang dibutuhkan di masa pandemi dan menyetop produksi barang yang berkurang nilai jualnya di masa pandemi.

Pemilik restoran dan cafe di mal bisa mencari easy recipes untuk take away yang bisa dibuat di gerai pop up yang lebih mudah dijangkau. Bisa juga dengan memangkas jumlah menu agar tetap bisa produktif secara efektif.

Para jurnalis punya tanggung jawab memaksimalkan peran sebagai agent of change dengan menghadirkan informasi akurat yang terpercaya. Jurnalis berperan penting dalam melawan hoaks yang disebarkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang memiliki kepentingan sendiri.

Para pemilik apotek dan pengisian tabung oksigen juga punya peran penting di masa pandemi. Namun peran itu bisa disalahgunakan ketika ambisi menimbun harta mengalahkan kepedulian sosial dan etika bisnis. Pemilik apotek bisa membatasi pembelian obat dan suplemen vitamin per orang agar distribusi ke masyarakat lebih merata.

Bagi para petani dan peternak juga pedagang di pasar, peran urgen mereka menyediakan kebutuhan pokok berupa makanan jangan sampai justru berubah menjadi penyebar virus. Kesadaran untuk menaati prokes selama berdagang harus ditingkatkan. Pastikan pembeli pun taat 3M.

Selain itu, beradaptasilah. Minta bantuan dari anak atau keponakan untuk memungkinkan orang memesan tanpa mesti ke pasar. Untuk pengirimannya, bisa memanfaatkan jasa driver ojek online.

Belum lagi mereka yang bekerja di sektor perbankan, sektor transportasi, dan sektor kebersihan, pun tak kalah penting perannya dalam pandemi. Semua berjibaku untuk tetap menghadirkan kehidupan yang berjalan baik.

Kembali lagi kepada diri kita sendiri. Be a good leader untuk diri sendiri agar bisa kuat dan berperan di masa pandemi.

Prokes harus menjadi kewajiban bagi kita yang tidak bisa ditawar. Inilah peran terbesar kita untuk bisa mengakhiri pandemi. Bayangkan jika semua masyarakat taat 3M dan tak pantang divaksinasi, angka penularan dijamin akan segera turun drastis.

Jika kita memiliki informasi seputar Covid-19, cerdaslah untuk melihat sumbernya. Jangan sampai kita menyebarkan disinformasi atau bahkan hoaks. Perbanyaklah menyebarkan kisah-kisah penyemangat untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang lain.

Ketika kita mampu menampilkan versi terbaik diri kita di masa pandemi, kita pun bisa menjadi mercusuar bagi yang lain. Tidak mau larut dalam kesulitan dan duka. Tidak mau menyerah dalam kondisi yang penuh keprihatinan.

Kita bisa memberi bantuan, apa pun bentuknya kepada siapa pun yang hidupnya menjadi sulit selama pandemi. Ketika memberi, kebahagiaan itu juga akan menjadi perisai imun yang bisa menguatkan diri kita.

Jika kita tak mampu memberi dengan harta maupun sumbangsih moral di media sosial, jangan remehkan peran doa. Di setiap akhir ibadah kita, jangan pelit untuk memperpanjang doa untuk kebaikan diri sendiri dan kebaikan orang lain.




IISD Desak Presiden Jokowi Sahkan RPP Kesehatan: Optimalisasi Kesehatan Anak Menuju Visi Indonesia Emas 2045

Sebelumnya

Israel Akan Datang ke Qatar untuk Melanjutkan Perundingan Gencatan Senjata dan Pertukaran Sandera

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News