post image
Ilustrasi/ Pixabay
KOMENTAR

BEBERAPA kasus Covid-19 yang menimpa figur publik di Indonesia maupun di negara lain cukup menyita perhatian. Betapa tidak, setelah dinyatakan negatif Covid-19, kondisi kesehatan penyintas justru memburuk hingga tak jarang berujung kematian.

Kejadian tersebut sontak menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran di masyarakat. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Merangkum studi "Post-covid syndrome in individuals admitted to hospital with covid-19: retrospective cohort study" yang dipublikasikan jurnal The BMJ pada 31 Maret 2021, Edukator Covid-19 yang sedang menempuh pendidikan Ph.D bidang Medical Science di Universitas Kobe, dr. Adam Prabata, menjelaskan beberapa hal terkait memburuknya kondisi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Risiko Long Covid-19

Risiko kondisi memburuk dan rawat inap ulang pada pasien Covid-19 yang sudah sembuh ditemukan pada 29,4% pasien. Mereka menjalani rawat inap ulang dalam 5 bulan karena Long Covid-19.

Berdasar data di atas, risiko orang yang berusia 70 tahun atau lebih memiliki risiko 10,5 x lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain. Sedangkan pada kelompok usia di bawah 70 tahun, risiko perburukan kondisi 4,6 kali lebih tinggi.

Risiko Meninggal Dunia

Adapun data seputar risiko meninggal dunia akibat kondisi memburuk setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19 adalah sebagai berikut:

Sebanyak 12,3% pasien Covid-19 yang pernah dirawat inap dan sudah sembuh meninggal dunia dalam 5 bulan karena Long Covid-19.

Risiko kematian 7x lebih tinggi pada pasien Covid-19 dibandingkan pasien penyakit lain yang juga dirawat inap.

Pemicu Memburuknya Kesehatan

Masalah yang dapat memicu kesehatan memburuk pada pasien Covid-19 yang sudah sembuh adalah penyakit paru (29,6%), penyakit jantung (4,8%), dan penyakit diabetes mellitus (4,6%).

Penyebab Kesehatan Memburuk

Mengapa kondisi kesehatan dapat memburuk pada pasien Covid-19 yang sudah sembuh?

Perburukan kondisi kesehatan pasien Covid-19 yang sudah sembuh diduga disebabkan badai sitokin dan autoimun, seperti dilaporkan dalam artikel "Lessons learned: new insights on the role of cytokines in Covid-19" yang dipublikasikan jurnal Nature Immunology pada 15 Maret 2021.

Apa Itu Badai Sitokin?

Badai sitokin (cytokines) menyerang dalam bentuk gangguan pernapasan berat, sindrom peradangan berat, dan gagal multiorgan yang dapat berujung pada kematian.

Ketika virus penyebab Covid-19 masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan respons imun yang hebat, terjadilah peningkatan sitokin dan peningkatan peradangan serta respon berlebih sel imun (dendritic cells, monocyte, macrophage) yang menghasilkan badai sitokin.

Mengapa Autoimun Terjadi?

Autoimun bisa terjadi akibat Covid-19. Perburukan kondisi setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19 diikuti Long Covid-19 diduga dapat terjadi akibat munculnya autoimun pada pasien Covid-19 yang terbentuk autoantibodi di tubuhnya.

Tetap Waspada

Para penyintas Covid-19 diharapkan tetap waspada setelah sembuh dari Covid-19. Jangan ragu untuk berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat bila gejala tidak membaik atau bahkan memburuk.

Segeralah menghubungi gawat darurat bila terjadi hal-hal ini:
1.    Sesak napas
2.    Nyeri dada, berdebar
3.    Lemah sebelah, tidak sadar
4.    Nyeri kepala hebat
5.    Kondisi gawat darurat lainnya

Dapat disimpulkan bahwa kondisi memburuk hingga meninggal dunia berpotensi terjadi pada pasien Covid-19 yang sudah sembuh dan negatif diduga akibat badai sitokin dan autoimun.

Close X

Apakah Vaksin Covid-19 di Indonesia Dapat Melindungi Orang Dengan Komorbid?

Sebelumnya

Kemenkes Ungkap Kecenderungan Varian Delta Banyak Ditularkan Pada Anak

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Health