Webinar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) bersama Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, YM Ibnu Hadi, Sabtu (20/6).
Webinar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) bersama Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, YM Ibnu Hadi, Sabtu (20/6).
KOMENTAR

MESKI perekonomian Vietnam masih berada di belakang Indonesia, namun cara mengelola pandemi covid-19 di sana meraih pujian dari negara-negara lain, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Vietnam mampu menekan angka kematian akibat kasus corona hingga 0 persen.

Ya, dalam berbagai hal Vietnam memang disebut sebagai 'pesaing' Indonesia. Dan dalam hal menangani pandemi, Indonesia jauh tertinggal dari Vietnam. Dari 349 kasus yang terjadi, tidak ada satupun pasien yang gugur melawan wabah tersebut. Hal ini diungkap Duta Besar Indonesia Untuk Vietnam, YM Ibnu Hadi dalam webinar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Sabtu (20/6).

"Dari tes yang dilakukan, tercatat ada 348.150 kasus yang artinya ada 0.09 persen dari 96 juta warga yang dinyatakan positif. Semuanya berhasil sembuh dan tidak ada yang meninggal dunia," kata Ibnu Hadi.

Ada beberapa alasan mengapa Vietnam dapat menjadi 'pemenang' dalam penanganan covid-19.

1. Respon cepat dan tepat waktu dari pemerintah

Begitu Vietnam mendengar adanya kasus corona pertama di Wuhan, China, pemerintah setempat langsung menggandeng WHO. Semua protokol yang disarankan organisasi internasional itu langsung dijadikan sebagai aturan yang mutlak harus ditaati oleh seluruh warganya.

2. Kepemimpinan yang kuat dari pemerintah

Di Vietnam, setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah selalu menjadi panutan oleh para stake holdernya. Sejak 26 Januari 2020, Vietnam langsung memasang kuda-kuda guna menghadapi virus dan meniadakan segala bentuk perayaan atau selebrasi, termasuk perayaan Imlek.

3. Komunikasi yang komprehensif dan kredibel

Seluruh sarana komunikasi, baik digital maupun manual (seperti menggunakan toa atau speaker yang ada di pusat kota maupun  rumah ibadah) dipakai untuk menyampaikan pesan atau perintah tentang kondisi terkini. Bahkan, dibuat sebuah database per kasus sehingga dengan mudah melacak (tracking) siapa saja yang berhubungan dengan pasien terkonfirmasi serta riwayat perjalanannya.

4. Investigasi kasus dan tracking kontak dilakukan secara menyeluruh

5. Karantina dan isolasi disertai panduan dari Kementerian Kesehatan setempat dilakukan secara serius

6. Social distancing, bahkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga diterapkan. Seluruh pergerakan manusia dihentikan mulai tanggal 1-22 April 2020. Pun dengan kegiatan ekonomi dan sosial, ditaati selama tiga minggu.

Dengan penerapan 6 aturan tersebut, Vietnam sukses kembali menjalani kehidupan normal. Secara perlahan, seluruh sendiri perekonomian dibuka. Pada 23 April, mereka melakukan relaksasi di mana transportasi mulai pulih, restoran dan pasar dibuka.

Pada 4 Mei 2020, sekolah dibuka. Diikuti dengan dibukanya rumah ibadah pada 7 Mei dan sektor pariwisata pada 14 Mei 2020. Puncaknya pada 23 Mei 2020 digelar pertandingan bola domestik, Liga Vietnam yang ditonton ribuan penggemar secara langsung. Dan terakhir pada 9 Juni 2020, tempat-tempat hiburan juga diperbolehkan beroperasi.

"Semuanya dilakukan setelah pemerintah Vietnam memastikan tidak ada lagi penularan domestik selama 2 bulan terakhir. Jadi, jika sekarang Anda berwisata ke Vietnam, semua sudah totally back to normal," ucap pria kelahiran Riau, 1960 itu.

 




Komnas Perempuan: Saatnya Pekerja Rumah Tangga (PRT) Dihormati dan Diakui Hak-haknya Selaku Warga Negara Indonesia

Sebelumnya

Palang Merah Indonesia Berkomitmen Melanjutkan Layanan Kesehatan Keliling di Kamp Pengungsian Khan Younis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News