Cuka apel menghasilkan alkohol yang perlu diteliti lagi kehalalannya/Freepik
Cuka apel menghasilkan alkohol yang perlu diteliti lagi kehalalannya/Freepik
KOMENTAR

CUKA apel adalah cuka yang dibuat melalui fermentasi sari apel sehingga menghasilkan asam asetat yang memberikan rasa asam pada cuka apel. Pada umumnya, cuka apel sering digunakan dalam berbagai resep masakan dan sebagai bahan dalam pembuatan saus salad. Sebagian orang juga mengonsumsinya sebagai suplemen kesehatan, karena dianggap memiliki beberapa manfaat bagi vitalitas tubuh, seperti meningkatkan pencernaan, menurunkan berat badan, dan mengontrol kadar gula darah.

Cuka apel sudah lama sekali dimanfaatkan, mulai dari peradaban Barat hingga Timur telah menjadikan cuka apel sebagai bagian penting dari kehidupan. Bahkan, peradaban kuno pun sudah menyadari besarnya manfaat cuka apel.

Lanny Lingga dalam bukunya Health Secret of Pepper (2014: 212) mengungkapkan, sejak 5000 SM cuka telah digunakan oleh bangsa Mesir dan Yunani kuno. Saat itu, cocktail cuka populer di kerajaan Romawi-Yunani dan Mesir. Pada 400 SM, Hippocrates pun menyatakan keistimewaan cuka sebagai bahan penyembuh berbagai macam penyakit.

fermentasi sari buah apel ini menghasilkan cuka apel (apple cider vinegar). Di berbagai negara Barat, cuka apel sangat digemari. Mereka mengonsumsinya dalam bentuk minuman atau dicampur dengan saus yang mereka gunakan sebagai pelengkap salad.

Lisa Rossalia dalam buku Ayumi, Cantik Alami ala Wanita Jepang, Korea, dan Eropa (2018: 162) menjelaskan, di Jepang, para wanita yang ingin tampil cantik alami menggunakan sari buah apel dan cuka apel untuk menjaga kesehatan tubuh dan kulit. Dahulu, para samurai Jepang juga memakai cuka apel sebagai ramuan untuk kesehatan, kekuatan, dan vitalitas.

Cuka apel melangsingkan tubuh serta sebagai pembakar lemak paling cepat berkat rasa asam dan bau menyengat yang. Hal itu juga telah diteliti oleh Japanese Society of Nutrition and Food Science.

Cuka apel juga berjaya di Indonesia dan langsung mendapatkan sambutan hangat. Kita dapat menyaksikan betapa populernya cuka apel di bumi Nusantara ini.

Namun, cuka apel itu juga menghasilkan alkohol. Apakah haram?

Titis Sari Kusuma & Adelya Desi Kurniawati dalam buku Makanan Halal dan Thoyyib (2021: 23) menerangkan, jika mengacu pada dalil yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Umar bahwa, “Semua yang memabukkan adalah khamar dan semua yang memabukkan hukumnya adalah haram,” tanpa melakukan kajian lebih mendalam, maka kita akan serta merta mengharamkan alkohol.

Padahal, alkohol tidak hanya ada di minuman keras namun juga ada di dalam buah yang hampir membusuk, produk fermentasi (tape singkong, tape ketan), cuka apel, serta roti. Sehingga perlu dilakukan kajian secara sains dan keislaman untuk menentukan hukum mengonsumsi makanan dan minuman beralkohol.

Dalam laman halalmui.org dijelaskan, dalam pembuatan cuka dengan proses fermentasi, ada dua tahap proses yang berlangsung secara berkesinambungan, yaitu proses fermentasi pengubahan glukosa (C6H12O6) menjadi alkohol (C2H5OH) lalu alkohol akan berubah menjadi asam cuka (CH3COOH). Proses fermentasi langsung mengubah gula menjadi cuka maka status cuka adalah halal seperti halnya dalam pembuatan cuka apel.

Kemudian, pada Fatwa MUI 10 Tahun 2018 tentang “Produk Makanan dan Minuman yang Mengandung Alkohol/Etanol” juga dibahas terkait cuka yang berasal dari khamar, baik terjadi dengan sendirinya maupun melalui rekayasa, hukumnya halal dan suci.

Namun, bukan berarti cuka yang kita temukan di pasaran sudah pasti halal. Perlu dicermati titik kritis sumber mikroba dan sumber media fermentasinya, yang bisa saja berasal dari ekstrak daging, pepton hidrolisis daging, dan lainnya.

Selain itu, setelah menjadi cuka, ada peluang penambahan bahan lain seperti flavour dan pewarna, sebab keduanya memiliki komposisi yang mengandung bahan turunan lemak, baik dari hewan maupun nabati.

Jika dari hewan, maka harus dipastikan berasal dari hewan halal yang disembelih sesuai syariat islam. Selain itu, juga terkadang ada penggunaan enzim pectinase untuk membuat cuka apel jernih. Enzim ini mayoritas diproduksi dari fermentasi.

Sebelum mengonsumsi cuka apel atau menggunakannya dalam masakan, konsumen muslim perlu memastikan untuk memeriksa label produk. Kita pastikan itu adalah cuka apel asli, tidak tercampur dengan bahan-bahan lain, dan aman untuk dikonsumsi. Lebih utama lagi cek sertifikasi halalnya, supaya diperoleh kenyamanan bagi konsumen muslim.(F)




Menyikapi Pizza yang Rawan Kehalalannya

Sebelumnya

Menilik Campuran Sarang Burung Walet demi Kehalalannya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Halal Haram