KOMENTAR

AL-QUR’AN mengabadikan seorang perempuan bukan saja disebabkan keunggulannya, sebab dari kekurangannya pun dapat pula dipetik pelajaran hidup. Dan siapa sangka pernah ada gadis yang sehari-hari kesibukannya memintal benang hingga menjadi kain, kemudian dia lepaskan lagi satu per satu benang tersebut.

Pakar-pakar tafsir membahas sosok ini secara menarik, karena hikmah yang hendak dipetik bukan hanya ditujukan kepada perempuan belaka, melainkan juga untuk segenap manusia.

Memang akan cukup sulit menemukan orang yang sama persis mengurai kembali benang yang telah dipintalnya. Akan tetapi pada aspek kehidupan yang lain, boleh jadi kita adalah salah satu yang mengerjakan yang serupa tapi tak sama. Secara hakikat sama walau pun motifnya berlainan.

Nashiruddin al-Baidhawi dalam kitab Anwaar al-Tanzil wa Asraar al-Ta'wir menjelaskan tentang seorang perempuan yang punya kebiasaan merajut lalu menguraikannya kembali, bernama Raithah binti Sa’ad berasal dari suku Quraisy.

Al-Qur'an menerangkan pada surah An-Nahl ayat 92, yang artinya, "Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu karena ada (kecenderungan memihak kepada) satu golongan yang lebih banyak kelebihannya (jumlah, harta, kekuatan, pengaruh, dan sebagainya) daripada golongan yang lain."

Secara sukarela gadis itu dipingit di dalam rumah. Raithah binti Sa’ad memang siap dipersunting pemuda impian. Sehari-hari dia hanya merajut dan terus merajut. Gadis itu tidak membutuhkan uang dari kerajinan memintal benang. Toh, orang tuanya kaya raya. Kegiatan itu sekadar mengisi waktu belaka.

Sudah lama waktu berlalu dan telah banyak benang yang dipintal, tapi pintu rumahnya tak kunjung diketuk oleh seorang pemuda pun. Tiada lamaran yang membuat hatinya berbunga-bunga. Selain Raithah binti Sa’ad yang resah, orang tuanya juga tak kalah gelisah.

Orang tua tidak berpangku tangan saja. Sang ayah rajin mempersembahkan sesajen kepada berhala. Ritual itu teramat sering dilakukan, tapi berhala belum juga mengutus jodoh buat putrinya.

Kemudian sang ibu menyambangi dukun perempuan yang langsung mengobral janji, "Jodohnya sudah dekat, tunggulah di rumah!"

Saking gembiranya, sang ibu tak sungkan menyerahkan uang lumayan besar pada si dukun. Tanpa menunda-nunda lagi, kabar gembira itu disampaikan pada putrinya. Harapan itu kembali bersemi. Raithah binti Sa’ad makin betah dipingit di rumah dan menghabiskan waktu dengan merajut.

Berikutnya kejadian yang sama terus berulang-ulang. Sudah banyak uang diserahkan pada dukun, yang diperoleh hanyalah janji manis. Ketika orang tuanya meninggal dunia, Raithah binti Sa’ad tetap saja sendirian. Sehari-hari dia terus merajut kain. Bedanya, setelah selesai dirajut dia kembali mengurai benang yang dipintal itu.

Sayyid Quthb pada Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 14 (2004: 20) menerangkan:

Orang yang membatalkan sumpahnya bagaikan seorang perempuan yang idiot lagi lemah tekad dan pikirannya. Perempuan itu memintal benangnya kemudian menguraikan dan membiarkan benang tersebut sehelai-demi sehelai lepas dan terpisah.

Setiap hal yang serupa dengan perumpamaan ini menunjukkan kehinaan, kekerdilan, dan keanehan. Membuat masalah tersebut buram di dalam jiwa dan buruk di hati. Inilah yang dimaksud dengan pengibaratan pada ayat tadi.

Manusia yang paling terhormat pun tidak akan sudi (rela) apabila dirinya diibaratkan sebagai seorang perempuan yang lemah iradah (kemauannya) dan dangkal akal pikirannya yang hanya menghabiskan umurnya untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

Ada juga sebagian kaum kafir yang menjadikan alasan bagi dirinya, ketika ia membatalkan janjinya dengan Rasulullah bahwa beliau dan orang-orang yang bersamanya sangat sedikit dan lemah. Sementara kamu Quraisy adalah kelompok yang kuat dan banyak

Karenanya, Allah memperingatkan mereka bahwa itu bukanlah suatu alasan yang benar bagi mereka untuk menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai alat penipu belaka dan mereka pun bisa berlepas diri darinya.

Malang sekali Raithah binti Sa’ad yang tidak kunjung berjodoh disebabkan salah dalam menjalankan strategi. Ayahnya malah mempersembahkan sesajen pada berhala, dan ibunya mengorbankan banyak uang untuk ramalan dukun. Hasilnya hanyalah kesia-siaan. Siapa saja yang hidupnya melakukan sesuatu yang sia-sia, maka samalah dirinya dengan gadis yang mengurai kembali benang yang sudah dipintal.

Mestinya kalau hendak mencarikan jodoh, maka orang tua menemui lelaki yang sepadan untuk putrinya, yang saleh, yang dapat membimbing pada sakinah. Hendaknya pencarian jodoh itu dengan menampuh cara ta’aruf dengan mempertemukan pemuda yang juga serius ingin menikah. Justru dengan menjalani masa pingitan semakin mempersempit peluang sang gadis menemukan jodohnya. 

Jodoh tidak akan datang dengan cara kemusyrikan, seperti melibatkan dukun apalagi berhala. Malahan cara demikian itu bukan sekadar sia-sia, tapi juga menimbulkan dosa besar.

Intinya, apapun yang hendak dituju, pastikan dulu memakai cara-cara yang tepat. Sehingga harapan dapat diraih, dan kekeliruan bisa dihindari.

Ayat ini uniknya membahas kisah Raithah binti Sa’ad tetapi dikaitkan dengan perkara menepati janji. Orang-orang yang pernah berjanji setia pada Rasulullah dengan teganya berkhianat. Karena mereka melihat pengikut Nabi Muhammad masih sangat sedikit dan dikira mustahil akan menang. Nah, ingkar janji itulah yang tergolong perbuatan sia-sia. Sebab pada akhirnya terjadilah Fathul Makkah atau pembebasan kota Makkah yang membuktikan kejayaan Islam dan kalahnya kaum musyrikin Quraisy.

Hendaknya kisah malang Raithah binti Sa’ad menjadi iktibar bukan hanya dalam aspek perjodohan atau pernikahan. Berhubung dalam surah An-Nahl ayat 92 itu disinggung perkara janji, maka jangan berbuat sia-sia dengan mengkhianati janji.

Tepatilah setiap janji supaya kita tidak menjadi manusia tercela. Dan pada hakikatnya, jangan pernah melakukan hal yang sia-sia dalam kehidupan yang teramat singkat ini.




Pantaskah Bagi Allah Anak Perempuan?

Sebelumnya

Betapa Lembutnya Al-Qur’an Menerangkan Surga Adalah Hak Perempuan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir