KOMENTAR

KABAR kematian Diva Hong Kong yang meraih kesuksesan di Amerika, Coco Lee akibat bunuh diri membuat masyarakat China tersadar tentang betapa dekatnya mereka dengan masalah kesehatan mental.

"Orang-orang merasa bahwa ini tampaknya menjadi masalah yang kian mendesak," kata Dr. Jia Miao, asisten profesor sosiologi di Shanghai New York University, seperti dilansir BBC.

Masalah kesehatan mental adalah gejala dari situasi mengkhawatirkan yang dihadapi China: jumlah orang yang menderita masalah kesehatan mental meningkat pesat, sementara jaringan medis belum sepenuhnya siap untuk mengatasinya.

Depresi, atau penyakit mental apa pun, telah lama menjadi stigma di masyarakat China. Sebutan untuk penyakit mental dalam bahasa Mandarin adalah “jingshen bing” yang terdengar mirip dengan sebutan orang gila yaitu “shenjing bing”. Tak heran bila orang yang memiliki masalah kesehatan mental akan selalu dilihat sebagai orang gila.

Menurut Ke Ren, pendiri akun media sosial Depression Research Institute, sebagian besar pasien gangguan Kesehatan mental di China kurang terdiagnosis dengan akurat. Dia mencontohkan meluasnya berita tentang anak yang melompat dari atas gedung akibat mendapat nilai buruk di sekolah tapi tidak ada penjelasan tentang apa, mengapa, dan bagaimana anak itu bisa memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Selama 10 tahun terakhir, ekonomi China yang maju dengan sangat cepat memberi tekanan berat pada warganya. Mereka mengalami kelelahan luar biasa di sekolah dan tempat kerja.

Semakin banyak orang yang menyadari bahwa mereka mengalami masalah kesehatan mental, semakin banyak pula dari mereka yang mau untuk berbagi pengalaman dan mencari bantuan profesional. Alhasil, topik kesehatan mental kini menjadi perbincangan luas di masyarakat.

Salah satunya adalah Ren Zhengfei, pendiri raksasa teknologi Huawei. Kepada media, ia membagikan pengalamannya menderita depresi dan kecemasan berlebih.

China Mental Health Survey tahun 2019 menunjukkan bahwa 1 dari 7 orang penduduk menderita setidaknya satu jenis penyakit mental seumur hidup. Jumlah dalam survei tersebut bertambah sejak China memberlakukan kebijakan Zero COVID yang super ketat. Belum lagi banyak orang kesulitan mendapatkan pekerjaan selama pandemi.

Awal tahun ini, kematian empat anak muda akibat bunuh diri di objek wisata terkenal di provinsi Hunan memicu diskusi sengit tentang kesehatan mental dan tekanan sosial di negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini.

Pemerintah China mengklaim telah berusaha untuk mengatasi perburukan masalah kesehatan mental.

Dr. Miao menjelaskan bahwa sekolah dan universitas sekarang diharuskan memiliki konsultan kesehatan mental. Demikian pula di kota-kota besar, unit komunitas telah menunjuk orang untuk menjaga kesehatan mental lansia.

Tetapi salah satu masalah yang paling mendesak adalah kurangnya profesional yang berkualitas. Hanya ada 64.000 psikiater di China pada akhir tahun 2021, menurut media pemerintah China Youth Daily.

"Dibandingkan dengan kesadaran sosial yang cepat, negara ini memiliki jalan panjang untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit kesehatan mental," ungkap Dr. Miao.




Mendikbudristek Nadiem Makarim: Penting Menanamkan Rasa Cinta terhadap Perbedaan dalam Diri Anak Indonesia

Sebelumnya

Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News