KOMENTAR

SUATU ketika, kita memutuskan untuk memanfaatkan media sosial sebagai sebuah wadah berdakwah. Kita mulai mengunggah ayat Qur'an, hadis Rasulullah, juga pendapat jumhur ulama tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan fikih dan muamalah.

Namun rasa perih perlahan mulai hadir di hati. Setiap unggahan kita hanya disukai tak sampai 10 orang. Jumlah followers kita hanya bertambah satu-dua orang setiap bulan.

Sementara ada orang lain yang mengunggah materi yang tak jauh berbeda, namun dengan cepat jumlah followers-nya melonjak tajam. Dan setiap materi yang diunggah selalu mendapat ratusan like bahkan lebih.

Tiba-tiba kita disergap rasa iri dan putus asa.

Sebelum kita memutuskan untuk berhenti dari amar ma'ruf nahi munkar melalui media sosial, marilah kita menjernihkan isi kepala untuk memahami satu hal penting: tidak ada jaminan bahwa mereka yang mendapat lebih banyak like dan followers akan mendapat pahala yang lebih besar dan semuanya dihitung sebagai amal saleh.

Jika kita mengembalikan apa yang kita lakukan kepada niat semula untuk berdakwah, maka sakit hati itu seharusnya tak perlu singgah. Niat mulia yang sudah kita teguhkan dalam hati jangan sampai terkoyak oleh pendapat manusia.

Ketika kita lillahi ta'ala mengunggah ayat, hadis, maupun kutipan dari pendapat ulama yang kita dapat dari hasil kajian atau hasil membaca buku, maka kita tidak mencari keutamaan dari sesama manusia tetapi mengharapkan keridhaan Allah Swt.

Tak ada yang mengatakan dakwah itu mudah. Dan tak ada yang menjamin bahwa ketika kita menyampaikan kebenaran maka kita akan disukai.

Kita mesti menyadari bahwa kesedihan akibat kesulitan dalam berdakwah hanya bisa diobati dengan keikhlasan. Dengan ikhlas, hati merasa tenang. Tidak ada beban. Karena toh, kita memang bukan 'mencari muka' di hadapan manusia.

Bukankah dakwah Nabi Muhammad di tanah kelahiran beliau tidak berjalan mulus sehingga Allah memberinya perintah berhijrah ke Madinah?

Lantas, mengapa kita mudah sekali mengeluh dan mundur dari niat menyebarkan syiar Islam?

Konsistensi kita dalam berdakwah akan menjadi nilai lebih yang nantinya akan dilihat oleh orang lain. Terlebih lagi jika kita dalam kehidupan nyata juga menjalankan apa yang kita katakan di media sosial.

Artinya perilaku kita di dunia nyata dan 'perilaku' kita di dunia maya selaras dalam napas dakwah. Dengan begitu, dakwah kita insya Allah akan lebih mengena. Wallahu a'lam bishshawab.




Adab Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tuanya

Sebelumnya

Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur