KOMENTAR

TAK disangka, pandemi yang berlarut-larut itu juga berdampak besar kepada ibadah kaum muslimin. Setidaknya dua kali Ramadhan dan dua kali Idul Fitri berlangsung dalam kondisi serba keterbatasan. Maklum saja, COVID-19 tengah mengamuk dan pembatasan sosial diberlakukan cukup ketat.

Ramadhan yang diharap-harapkan sepenuh rindu, malah berakhir kurang optimal. Shalat Tarawih dan Witir tidak dapat ditunaikan secara optimal di masjid, sebagian memilih berjemaah di rumah masing-masing.

Mereka yang hendak meraup pahala iktikaf juga terpaksa mengurungkan niat suci, takmir masjid tidak mau ambil risiko berhadapan dengan penularan COVID-19. Patut dimaklumi kekecewaan para jemaah sebab iktikaf memang hanya sekali setahun di bulan suci.

Puncaknya, Idul Fitri yang dirayakan secara gempita sebagai hari kemenangan umat Islam juga nyaris sepi-sepi saja. Bahkan, sanak saudara yang hendak bersilaturahmi pun terpaksa ditolak kehadirannya sebab tuan rumah sedang dihinggapi virus COVID-19.

Dari itulah, rasa syukur kehadirat Ilahi merupaka hal pertama dan utama sekali yang harus dipanjatkan kaum muslimin dalam menyambut Ramadhan tahun ini. Kerinduan terhadap bulan suci kini telah terobati.

Namun, tidak cukup hanya mengandalkan rindu, pertemuan dengan keindahan Ramadhan ini tentu membutuhkan sesuatu yang mengesankan. Ingatlah, Ramadhan hanya berlangsung satu bulan saja, tidak lebih dari itu.

Jam Kiamat

Seorang ayah rajin sekali menceritakan tanda-tanda kiamat kepada anak-anaknya. Syukurnya, lelaki itu tidak bertujuan menakut-nakuti buah hatinya. Dia bertujuan agar anak-anak tidak terlena dengan urusan duniawi dan lebih bersemangat dalam mempersiapkan bekal hidup abadi di akhirat. 

Sementara itu, hitung-hitungan kiamat sudah dekat malah semakin seru. Terlebih lagi para ilmuan atom yang berdiri sejak tahun 1947 sudah membuat Jam Kiamat, yang tahun ini hitungannya makin mendekati detik-detik menegangkan.

Bulletin of the Atomic Scientists sebagai pihak yang membuat Jam Kiamat melansir di laman resminya https://thebulletin.org bahwa Bulletin of the Atomic Scientists didirikan pada tahun 1945 oleh Albert Einstein dan ilmuwan Universitas Chicago yang membantu mengembangkan senjata atom pertama di Proyek Manhattan.

Buletin Ilmuwan Atom menciptakan Jam Kiamat dua tahun kemudian (tahun 1947), menggunakan gambaran kiamat (tengah malam) dan idiom kontemporer dari ledakan nuklir (hitungan mundur ke nol) untuk menyampaikan ancaman terhadap umat manusia dan planet ini.

Jam Kiamat ditetapkan setiap tahun oleh Dewan Sains dan Keamanan Buletin dan berkonsultasi dengan Dewan Sponsor, yang mencakup 10 peraih Nobel. Jam Kiamat telah menjadi indikator yang diakui secara universal tentang kerentanan dunia terhadap bencana global, yang disebabkan oleh teknologi buatan manusia.

Perang di Ukraina mungkin memasuki tahun kedua yang mengerikan, dengan kedua belah pihak sama-sama yakin akan menang. Kedaulatan Ukraina dan pengaturan keamanan Eropa yang lebih luas, yang sebagian besar diadakan sejak akhir Perang Dunia II dipertaruhkan.

Juga, perang Rusia di Ukraina telah menimbulkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana negara berinteraksi, mengikis norma prilaku internasional yang mendukung tanggapan yang berhasil terhadap berbagai risiko global.

Ancaman terselubung Rusia untuk menggunakan senjata nuklir dalam perang Ukraina merupakan perkembangan nuklir terburuk pada tahun 2022. Peringatan dan pernyataan kehati-hatian telah membungkam ancaman semacam itu. Tetapi pejabat Rusia harus dengan tegas meninggalkan ancaman untuk menggunakan senjata pemusnah massal di Ukraina.

Sebelum-sebelumnya, ada sekitar 3 tahun lamanya Jam Kiamat dihitung 100 detik menuju tengah malam. Di tahun 2023 ini, Jam Kiamat 10 detik lebih cepat dari hitungan tahun-tahun terdahulu.

Sebelumnya, dihitung 100 detik tapi kini 90 detik Jam Kiamat dihitung lebih dekat menuju tengah malam, alias para ilmuan atom memercayai bumi semakin sangat dekat menuju kehancuran. Perang Rusia Ukraina salah satunya yang diyakini dapat memacu perang nuklir yang mempercepat hitungan kiamat tersebut.     

Tidak ada yang tahu kapan pastinya kiamat akan datang, terkecuali hanya Allah Swt. yang benar-benar mengetahuinya. Namun, kita paham kalau usia bumi ini memang sangat renta, dan kiamat sudah memang teramat dekat.

Mumpung lagi heboh-hebohnya bahasan kiamat, semoga saja bisa menjadi tambahan energi dalam mengisi Ramadhan dan merayakan Idul Fitri. Sekiranya kehidupan di bumi ini akan segera berakhir, maka kaum muslimin tengah dalam suasana nan syahdu menikmati ibadah di bulan suci.

Full Ibadah

Tidak ada lagi opsi mengisi Ramadhan kecuali menyibukan diri dengan rangkaian ibadah. Setahun energi kita terkuras lahir batin oleh kecamuk duniawi, maka berilah waktu sebulan penuh ini untuk melepaskan dahaga spiritual.

Hakikat manusia adalah jiwanya, rangkaian ibadah Ramadhan yang akan memberikan kelegaan bagi jiwa kita. Apabila Ramadhan sudah full ibadah, insya Allah selepas bulan suci kita memiki energi hati yang luar biasa.

Adapun ibadah itu sendiri bukan sekadar kegiatan fisik, bukanlah untuk melelahkan tubuh dalam bergerak. Ibadah mestilah beranjak dari tujuan yang agung, termasuk juga ibadah Ramadhan perlu punya goal tersendiri.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam bukunya Bulughul Maram Hadis-hadis Ibadah, Muamalah, dan Akhlak (2019: 136) menerangkan:




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur