KOMENTAR

APIK sekali taktik Nabi Muhammad yang terlebih dulu bersembunyi beberapa hari di Gua Tsur, sehingga para algojo Quraisy tidak kunjung menemukannya dan gagal pula muslihat mereka menghabisi nyawanya. Setelah situasi agak mereda, dengan cermat pula Rasulullah merancang keberangkatan hijrah menuju Madinah.

Moenawar Khalil pada bukunya Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 1 (2001: 440) menceritakan:

Pada hari yang telah ditentukan, saat tengah malam datanglah Abdullah bin Uraiqith dan Amir bin Fuhairah ke Gua Tsur dengan membawa dua ekor unta. Pada keesokan harinya, yaitu hari keempat sejak Nabi meninggalkan Mekah, keluarlah keempat orang itu dari Gua Tsur dan dengan segera mereka berangkat dengan mengendarai unta.

Nabi saw. mengendarai unta kepunyaan Abu Bakar yang bernama al-Qushwa bersama-sama dengan Abdullah bin Uraiqith, sedangkan Abu Bakar mengendarai untanya yang lain bersama-sama dengan Amir bin Fuhairah. Mereka mengambil jalan melalui sepanjang tepi Laut Merah, jalan yang tidak lazim ditempuh oleh kebanyakan orang yang hendak bepergian ke Madinah. 

Amir bin Fuhairah, si penunjuk jalan mengarahkan Nabi Muhammad menuju selatan ke arah Yaman, padahal Madinah berada di utara. Ternyata, dia mengarahkan perjalanan menuju Tihamah, berbelok menuju barat ke arah pesisir laut Merah, kemudian barulah bergerak ke utara dengan tujuan Madinah.

Abdullah bin Uraiqith juga menempuh jalan yang jarang sekali dilalui orang. Mereka berjalan pada malam hari hingga pertengahan siang saat jalanan masih sepi.

Dari kejauhan Nabi Muhammad pun memandang sepenuh rindu ke arah Mekah. Tidak dapat dipungkiri ada kerinduan terhadap kampung halaman dan entah kapan lagi ada kesempatan untuk kembali. Situasi kecamuk batin Rasulullah itu dipahami Allah yang memberikan janji kebenaran terhadap Nabi-Nya.

Surah al-Qashash ayat 85, yang artinya, “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”

Wajar saja jika muncul rasa rindu yang berat pada sanubari Rasulullah, mengingat beliau lahir dan besar di Mekah. Teramat banyak memori yang melekat pada kampung halaman tercinta yang membuat langkah hijrah terasa gamang.

Imam as-Suyuthi pada kitab Asbabun Nuzul menyebutkan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Adh-Dhahhak, ia mengatakan, tatkala Nabi Saw keluar dari Mekah kemudian sampai ke Al-Juhfah, beliau rindu terhadap Mekah. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Ayat ini menguatkan kembali niat Nabi Muhammad dalam berhijrah. Memang manusiawi bila muncul perasaan berat meninggalkan kampung halaman, namun yang sedang dilakukannya adalah kewajiban dari Allah yang tentunya harus ditaati.

Lagi pula pada ayat sebelumnya terdapat janji Allah yang menghibur hati Rasulullah bahwa dirinya akan kembali lagi ke kampung halaman tercinta. Hal senada ditegaskan oleh Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi pada Tafsir Al-Qur’an Al-Karim atau Tafsir Jalalain bahwa, “Benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali,” yaitu kepada Mekah yang sungguh dirimu merindukannya.

Perjalanan hijrah pun berlangsung lagi dengan langkah yang mantap, hati Rasulullah sudah demikian teguh menuju Madinah. Selama perjalanan Abu Bakar sekuat tenaga berupaya menyembunyikan identitas Nabi Muhammad demi alasan keamanan.

Moenawar Khalil (2001: 440) menceritakan:

Karena Abu Bakar adalah seorang bangsawan dan hartawan yang terkenal, ia pun sering bepergian jauh untuk berdagang, maka di dalam perjalanan itu ia selalu dikenal oleh orang-orang dari desa-desa yang dilalui. Kerap kali ia ditegur dan disapa oleh orang-orang yang telah mengenalnya. Abu Bakar ketika berhijrah ke Madinah bersama-sama dengan Nabi saw., membawa hartanya sebanyak lima atau enam ribu dirham.

Karena Nabi saw. adalah orang yang hampir tidak pernah bepergian jauh dan juga bukan seorang hartawan yang terkenal maka dalam perjalanan ini beliau sama sekali tidak dikenal orang lain. Jadi, Abu Bakar tidaklah menerangkan hal yang sebenarnya bahwasanya beliau seorang nabi pesuruh Allah.

Rapi sekali cara yang diterapkan demi melindungi perjalanan hijrah, hanya saja selaku seorang nabi maka berbagai kejadian mukjizat pun tetap saja berlangsung. Sebagaimana yang terjadi ketika beliau berjumpa dengan seorang perempuan di kemahnya, di sana jati diri Rasulullah tersingkap melalui suatu mukjizat.

Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 1 (2012: 437-438) menerangkan:

Mereka melintasi kemah Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyah, ia seorang perempuan tua, namun masih nampak kuat, ia duduk dengan posisi sambil memeluk lutut, sambil makan dan minum. Lalu rombongan Rasulullah menanyakan apakah dia menjual daging dan kurma, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa darinya, padahal bekal beliau sudah habis, dan mereka pun sudah sangat kelaparan.

Tiba-tiba Rasulullah melihat ada kambing di sebelah kemah Ummu Ma’bad, maka beliau bertanya, “Kambing ini, apakah bisa diambil susunya? Apakah engkau mengizinkan untuk aku memerah susunya?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Ya, jika engkau melihat ada susu padanya, maka silakan saja diperah.”

Lalu Rasulullah mengusap puting susu kambing itu, beliau menyebut nama Allah, dan beliau berdoa. Maka kambing itu langsung melebarkan kakinya dan mengalirlah, lalu beliau meminta diambilkan bejana, dan akhirnya beliau mendapatkan banyak susu dari kambing tersebut, sampai-sampai melebihi muatan bejana, lalu beliau meminumnya, kemudian giliran sahabat beliau yang meminum, sampai akhirnya semuanya kenyang dari air susu kambing tersebut.

Lalu beliau memerah untuk kedua kalinya sampai bejana yang beliau pegang penuh. Kemudian beliau memberikan kambing itu kepada Ummu Ma’bad. Lantas beliau dan rombongan pun melanjutkan perjalanan.

Tidak lama beliau pergi, datanglah suami Ummu Ma'bad, ia membawa seekor kambing yang kurus kering, berjalan lunglai, maka tatkala Abu Ma'bad melihat ada susu di rumahnya, ia merasa heran, dan berkata, “Dari mana asal susu ini engkau dapatkan wahai Ummu Ma'bad, padahal kambing itu tidak pernah digembalakan, dan ia hanya pulang ke rumah di malam hari, lagi pula ia sedang tidak bunting?”




Perang Badar Kedua

Sebelumnya

Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah