Oksana dan Sergio/ Al Jazeera
Oksana dan Sergio/ Al Jazeera
KOMENTAR

OKSANA Slipchenko mengenang bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sergio Skudin, laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.

Oksana, yang berkebangsaan Ukraina, dan Sergio, yang berkebangsaan Rusia, pertama kali bertemu pada Malam Tahun Baru 2018, selama tiga hari perjalanan kereta melintasi Belarusia.

Oksana, seorang pianis profesional yang bekerja sebagai pemimpin konser di sebuah sekolah musik di Irpin, Ukraina, langsung tertarik pada Sergio yang pemalu dan bersuara lembut, seorang arkeolog dan peneliti independen yang sering bekerja dalam ekspedisi untuk Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Persahabatan keduanya segera berkembang menjadi hubungan jarak jauh, dengan keduanya sering melintasi batas untuk bertemu satu sama lain.

Pada musim panas 2020, mereka menikah di Kyiv. Oksana berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke Rusia, menemani Sergio dalam penggalian arkeologi, termasuk ekspedisi selama berbulan-bulan ke situs koloni Yunani kuno Chersonesus di Sevastopol di Krimea yang diduduki Rusia.

Ayah Oksana, yang menjadi tidak percaya pada Rusia setelah Rusia mencaplok Krimea pada 2014, awalnya menentang pernikahan Oksana. Tetapi ketika dia melihat Sergio untuk pertama kalinya, dia berkata, 'Oke! Itu pilihanmu, mungkin dia bukan 100 persen orang Rusia’.

Permusuhan politik antara negara mereka, juga pertempuran di Ukraina timur, adalah topik yang sering dibahas pasangan itu, tetapi ini tidak pernah menghalangi hubungan mereka.

Namun invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina setahun yang lalu mengubah semuanya.

Meninggalkan keluarga

Pada saat invasi, pasangan itu tinggal di kota Rostov-on-Don di tenggara Rusia.

“Saya sangat membenci Rusia dan saya merasakan sakit yang dirasakan saudara-saudara saya. Sejak itu saya tahu saya harus pergi,” kenang Oksana (30) seperti dilansir Al Jazeera.

Sergio menyarankan agar mereka pergi ke selatan ke Georgia, salah satu dari sedikit negara tempat mereka dapat masuk tanpa visa dengan paspor masing-masing. Setelah perjalanan bus darat yang panjang, mereka menyeberang ke Georgia pada tanggal 4 Maret, bepergian hanya dengan apa yang bisa mereka bawa di ransel.

Sejak tiba di Tbilisi, ibu kota Georgia, pasangan itu sudah dua kali pindah rumah. Sewa telah melonjak dengan masuknya sekitar 100.000 orang ‘buangan’ Rusia yang menentang perang dan melarikan diri dari sanksi atau mobilisasi. Jumlah tersebut jauh melebihi jumlah 25.000 orang Ukraina yang mencari perlindungan di Georgia.

Salah satu tantangan awal terbesar mereka adalah mencari pekerjaan. Oksana mendapatkan pekerjaan sebagai guru piano dan sesekali bermain di restoran dan bar. Tapi Sergio yang berusia 38 tahun telah berjuang untuk mendapatkan penghasilan.

Sebaliknya, dia merawat ibu Oksana, seorang pengguna kursi roda yang selamat dari pengepungan Rusia di Bucha pada minggu-minggu awal pertempuran dengan bersembunyi di ruang bawah tanah. Dia dievakuasi ke Tbilisi, dan sekarang berbagi apartemen dengan pasangan itu di pinggiran timur Tbilisi.

Kekhawatiran baru

Sergio terlihat bingung saat dia mencoba menggambarkan pemikirannya tentang perang. “Saya merasa kecewa dan malu,” akhirnya dia mengutarakan isi kepalanya.

Sergio mengatakan dia menentang perang, tetapi pada saat banyak orang Ukraina menuduh warga Rusia tidak bertindak, dia yakin orang Rusia biasa tidak berdaya.

“Bahkan jika orang memprotes setiap hari, saya ragu itu bisa mengubah apa pun dengan rezim militer yang kuat,” jelasnya.

Namun dia mengakui bahwa dia mungkin tidak akan meninggalkan Rusia jika bukan karena Oksana. Sang istri mengatakan bahwa suaminya bukan orang politik. Dan kemarahan Oksana terarah pada rezim Rusia, bukan warga Rusia. Keduanya pun mencoba untuk tetap percaya pada kemanusiaan.

Namun perang telah membawa ketegangan baru dalam hidup mereka bersama. Kekhawatiran keuangan, ketidakpastian tentang masa depan, dan Sergio melepaskan karier akademisnya, semuanya menciptakan kecemasan.

Oksana sering merasa bersalah karena Sergio belum mendapatkan pekerjaan. Kini, ia membantu sang suami mempelajari program perangkat lunak dengan harapan Sergio dapat melanjutkan kariernya secara online.

Diskusi tentang perang itu sendiri juga menjadi sumber gesekan, dengan pasangan yang tidak setuju atas perbedaan kata yang mereka gunakan.

Ketika Sergio membacakan berita utama Rusia yang mengacu pada pemboman bulan Oktober di sebuah jembatan utama di Krimea sebagai "aksi teroris", sang istri mengamuk.




Jakarta, Bapak Kota Indonesia

Sebelumnya

2 Buku Puisi Wina Armada Sukardi Raih Anugerah MURI Kategori “Perintis Buku Puisi untuk Anak-Anak dan Buku Puisi Kebendaan”

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Horizon