KOMENTAR

BAHKAN perempuan suci sekaliber Aisyah pun pernah dirundung fitnah yang menyedihkan.

Betapa tega orang-orang itu menuduh istri Rasulullah telah bermaksiat dengan lelaki yang kesalehannya diakui. Aisyah jelas terguncang dengan tuduhan yang sangat menyedihkan, namun tak ada yang mampu melawan kekuasaan Allah Swt. yang menjamin kesucian istri Nabi saw. tersebut.

Jadi, apa pangkal mula masalahnya?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pada kitab Zadul Ma’ad (2008: 338) mengisahkan:

Sebagaimana biasa, Rasulullah saw. mengundi istri beliau untuk menentukan siapa yang berhak menyertai beliau dalam peperangan. Sesuai hasil undian, Aisyah yang berangkat mendampingi beliau dalam peperangan ini.

Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti di sebuah tempat. Di tempat itu Aisyah pergi untuk suatu keperluan. Ketika kembali, ia kehilangan kalung yang ia pinjam dari saudarinya. Maka ia kembali menelusuri jalan sampai tempat di mana ia menunaikan hajat tadi untuk mencarinya.

Sementara rombongan, termasuk yang membawa sekedup Aisyah melanjutkan perjalanan. Mereka menyangka peserta rombongan sudah cukup dan tidak ada yang ketinggalan. Karena Aisyah masih muda dan perawakannya tidak gemuk, maka mereka yang membawa sekedup itu tidak merasakan kalau muatannya ringan dengan tertinggalnya Aisyah.

Usai mencari kalungnya, Aisyah pun kembali ke tempat istirahat rombongan. Tetapi, dia tidak mendapati mereka. Disadarinya, mereka sudah berangkat. Maka ia duduk dengan harapan mudah-mudahan mereka merasa kehilangan sehingga mereka kembali ke tempat itu.

Aisyah tertidur. Ia tidak bangun kecuali setelah mendengar ucapan Shafwan bin Al-Mu’aththal, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, istri Rasulullah!”

Maka ia dekatkan kendaraannya tanda mempersilahkan Aisyah supaya menaiki kendaraan itu. Tidak terjadi percakapan antara keduanya, walau hanya sepatah kata. Shafwan membawa Aisyah pulang hingga menjumpai rombongan di Nahr Azh-Zhahirah.

Sebetulnya tidak ada masalah dalam peristiwa tersebut, malahan Rasulullah dan kaum muslimin bersyukur Aisyah diselamatkan oleh lelaki saleh, Shafwan. Andaikata Aisyah ditemukan pihak musuh, tentulah nasib buruk akan menimpanya.

Pada mulanya situasi tenang-tenang saja, sampai orang-orang munafik menyebarkan fitnah keji tentang perbuatan serong di antara Aisyah dan Shafwan. Saking liciknya kaum munafik, sampai-sampai banyak di antara kalangan muslimin yang terpengaruh.

Surat An-Nur ayat 11, yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.

Ayat ini menegaskan tukang pembuat berita bohong atau fitnah itu adalah dari kalangan muslimin juga. Mereka adalah orang-orang munafik, yang lidahnya mengaku muslim tetapi hatinya ingkar kepada Allah dan Rasulullah.

Dari fitnah terhadap Aisyah ini kita belajar bahwa jangan kaget kalau sekalipun mengaku diri mereka muslim tetapi akan ada saja orang yang bersikap munafik.

Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy pada Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur Jilid 3 (2011: 198) menjelaskan:

Mereka yang melontarkan tuduhan dusta yang jauh dari kebenaran bukanlah umum umat Islam. Tetapi hanya segolongan kecil dari mereka yang telah bersekongkol untuk menyebarkan tuduhan bohong di kalangan umat Islam.

Mereka yang berbuat demikian adalah orang-orang yang digolongkan masuk ke dalam golongan umatku (Nabi Muhammad). Oleh karena itu, janganlah kamu memandang kejadian ini sangat besar dan janganlah kamu tidak bisa menahan diri atau sangat marah terhadap mereka.

Pernah segolongan umat Islam menuduh bahwa Aisyah Ummu Mukminin berbuat serong. Mereka bersepakat untuk menyebarkan kabar bohong itu dalam masyarakat untuk maksud-maksud tertentu, dan Allah mengetahui apa yang mereka lakukan itu.

Mereka inilah yang dimaksud dengan ayat “segolongan umat Islam.” Golongan ini terdiri dari Abdullah ibn Ubay, Zaib ibn Rifa'ah, Hasan ibn Tsabit, Musathah, Atsatsah, dan Hamnah binti Jahsy.

Inilah daftar para penyebar fitnah keji terhadap Aisyah, yang berupaya menghancurkan umat Islam dengan cara-cara penuh kebohongan dan kelicikan.

Surat An-Nur ayat 12, yang artinya, “Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, ‘Ini adalah (berita) bohong yang nyata?”

Ayat ini menyindir sebagian kaum muslimin yang terpengaruh dengan fitnah keji tersebut. Mestinya mereka berbaik sangka terhadap Aisyah dan Shafwan, dan lekas memahami yang tengah menyebar hanyalah kabar bohong pihak munafik.

Secara logika pun banyak bantahan terhadap fitnah serong tersebut, di antaranya:




Kemilau Mutiara Iyyaka

Sebelumnya

Memahami Hamma Biha dan Konsep Ma’shum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir