KOMENTAR

TAK banyak orang tahu ada satu amalan yang menunjukkan pelakunya adalah calon ahli surga.

Dijelaskan Ustaz Adi Hidayat dalam sebuah kajiannya, bahwa amalan itu disebutkan dalam surah Adz-Dzariyat ayat 18 yaitu:

Wa bil ashāri hum yastaghfirun yang artinya “Dan yang selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar”.

Menurut UAH, ada sebuah rentang waktu pendek menjelang fajar yang disebut “Sahar”. Amalannya pada bulan puasa disebut sahur.

Namun kebanyakan umat Islam mengartikan sahur hanya untuk makan. Padahal sesungguhnya, itulah waktu yang istimewa untuk beristighfar. Mereka beristighfar di waktu sahar.

Apabila orang yang bertakwa memohon ampunan Allah di waktu menjelang fajar, maka akan mendapatkan kenikmatan surga yaitu diperkenankan bertemu langsung dengan Sang Khalik tanpa hijab (penutup).

Mendukung pendapat UAH tersebut, Ustaz Firanda juga menyebutkan bahwa istighfar di waktu sahur lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.

Dan masih berkaitan dengan ayat sebelumnya, bahwa sifat orang yang selalu berbuat ihsan adalah dia yang bangun di malam hari untuk mendirikan salat malam hingga waktu sahur. Dan setibanya di saat sahur, dia beristighfar.

Tak ada kesombongan bahwa dia telah mengerjakan salat malam. Dia malah memohon ampunan, karena dia tahu salatnya masih penuh kekurangan. Tak terbersit pun rasa ujub bahwa dia bisa bangun malam sementara banyak orang terlelap dalam tidur. Dia pun beristighfar untuk menghindarkan diri dari kesombongan.

Memang betul bahwa dzikir terbaik adalah membaca Al-Qur’an. Namun ada pula waktu-waktu yang dikhususkan untuk dzikir selain Qur’an. Seperti bacaan dzikir pagi dan dzikir petang.

Demikian pula di waktu sahur. Setelah kita membaca Al-Qur’an sepanjang malam, maka waktu menjelang sahur menjadi istimewa untuk kita melantunkan istighfar.




Menyibak Rahasia Syawal

Sebelumnya

Apakah Kita Layak Merayakan Kemenangan?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur