Buka puasa bersama/ Dok. Yatim Mandiri
Buka puasa bersama/ Dok. Yatim Mandiri
KOMENTAR

SIAPA tak ingin dirindukan surga?

Bayangkanlah ketika surga merindu empat golongan manusia. Kita tentu menginginkan diri kita masuk ke dalam salah satu dari keempat golongan tersebut. Sungguh sangat merugi bila jalan yang kita pilih di dunia ini justru menjauhkan kita dari merindunya surga.

Siapa sajakah empat golongan yang dirindukan surga tersebut? Berikut ini penjelasan Ustaz Rahmatullah dalam tausiah Tarawih Ramadhan.

Pertama, orang yang selalu membaca Al-Qur’an.

Jelaslah bahwa orang yang setiap harinya selalu memprioritaskan membaca Al-Qur’an, dan tentu saja meresapi maknanya dan mengamalkannya dalam keseharian, tentu menjadi sosok manusia yang dirindukan surga.

Merekalah orang-orang yang mampu menghindarkan diri dari berbagai kesia-siaan duniawi dan memberikan waktu spesial untuk melaksanakan tadarus dan tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an.

Kedua, orang yang memberikan makanan pada mereka yang kelaparan.

Dalam konteks bulan Ramadhan, maka yang dimaksud dengan “mereka yang kelaparan” adalah mereka yang menjalankan ibadah puasa. Dan memberi makanan tersebut artinya adalah memberi makan untuk berbuka puasa.

Ketiga, orang yang menjaga lisan dari menyakiti orang lain.

Jika kita memperhatikan di sekitar kita, ada saja orang yang mulutnya tak bisa berhenti mengomentari orang lain. Meski hanya sedikit kata, namun tetap menyakitkan. Seolah dunia akan runtuh jika dia tidak berkata nyinyir. Tak peduli ada hati yang tersakiti.

Sulit memang untuk mengerem lisan agar tidak berkomentar pedas terhadap orang lain. Berempatilah, kita tentu tak ingin berada di posisi orang lain yang selalu dicari aibnya. Jika kita mampu mengendalikan lisan dari ghibah dan perkataan buruk lainnya, kita termasuk golongan yang dirindukan surga untuk menjadi penghuninya.

Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan ikhlas dan gembira.

Bisa saja seseorang berpuasa demi terlihat saleh dan tampak sebagai Muslim yang taat. Padahal hatinya merasa berat. Puasa dijalani tanpa ada ghirah untuk beribadah, bahkan tak masalah jika puasa dirusak oleh amarah atau perbuatan buruk lainnya.

Bukalah mata hati kita untuk merasakan kenikmatan berpuasa dan pahala yang dijanjikan Allah. Insya Allah, puasa akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.




Jika Engkau Bisa Memaafkan, Itu Pertanda Cinta Masih Kuat

Sebelumnya

Ramadan Waktu yang Tepat Menyapih Hawa Nafsu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur