KOMENTAR

PADA tahun 622 Masehi atau tepatnya musim haji di tahun ke-13 kenabian, orang-orang Yatsrib (Madinah) semakin banyak berdatangan menziarahi Ka’bah.

Mereka terlebih dulu mendapatkan cahaya iman berkat gigihnya dakwah Mush’ab bin Umair di Yatsrib, dan kini mereka ingin berjumpa langsung dengan Rasulullah untuk suatu ikrar.

Nabi Muhammad mulai menimbang 13 tahun perjuangan dakwah di Mekah, hanya sedikit yang masuk Islam. Itu pun beliau dan para pengikutnya terus-terusan dianiaya pihak Quraisy. Rasulullah melihat negeri harapan itu adalah Yatsrib.

Kemudian suatu pertemuan rahasia dirancang. Orang-orang Yatsrib menyadari marabahaya yang mengancam, para begundal musyrikin yang berkuasa di Mekah akan melakukan kekerasan bagi siapapun yang berhubungan dengan Nabi Muhammad. Tidak habis akal, mereka pun melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan.

Seolah tidak terjadi apa-apa, orang-orang Yatsrib pun malam itu tidur di tenda-tenda. Di penghujung malam, satu per satu mereka keluar lalu berkumpul di Aqabah. Mereka berjumlah 73 orang, dengan rincian 62 orang dari suku Khazraj dan 11 orang dari suku Aus.

Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Negara Islam Modern (2017: 74-75) menceritakan:
Riwayat Ka’ab bin Malik Al-Anshari, salah seorang yang melakukan baiat di Aqabah kedua, mengandung rincian penting: Kami berangkat bersama jamaah haji, saat itu kami sudah melaksanakan shalat dan memahami agama. Kami pergi melaksanakan ibadah haji dan berjanji kepada Rasulullah saw. untuk bertemu di Aqabah pada pertengahan hari Tasyriq.

Saat sepertiga malam berlalu, kami keluar menuju tempat perjanjian bersama Rasulullah. Kami menyelinap laksana merpati dengan sembunyi-sembunyi, hingga kami berkumpul di Aqabah.

Kami berkumpul di jalan kecil menanti Rasulullah sampai beliau mendatangi kami bersama Abbas bin Abdul Muthalib. Saat itu Abbas masih menganut agama kaumnya, hanya saja ia suka menghadiri urusan keponakannya dan bertindak dengan penuh kepercayaan untuk beliau.

Setelah duduk, Abbas bin Abdul Muthalib adalah orang yang pertama kali berbicara. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah ada dalam kekuatan (perlindungan) kaumnya, Bani Hasyim. Hanya saja beliau ingin berhijrah ke Madinah. Untuk itu, Abbas ingin memastikan perlindungan Anshar untuk beliau.

Orang-orang Anshar memohon agar Rasulullah berbicara dan mengambil untuk dirinya dan Tuhannya syarat-syarat yang diharuskan. Beliau bersabda, “Aku membaiat kalian agar melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian.”

Al-Barra bin Ma’rur memegang tangan beliau sambil berkata, “Ya, demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, kami pasti akan memberikan perlindungan sebagaimana kami memberikan perlindungan dengan kekuatan kami. Karena itu, wahai Rasulullah, baiatlah kami. Demi Allah! Kami ahli perang dan pemilik senjata. Kami mewarisinya dari generasi ke generasi.”

Peristiwa inilah yang dikenang sebagai Baiat Aqabah kedua atau Baiat Al-Kubra (agung) sebab perjanjian besar ini sudah menegaskan arah hijrah ke Madinah, yang menjadi titik balik kejayaan Islam.

Keinginan mengajak Rasulullah berhijrah sama artinya bersiap menghadapi perang dengan suku Quraisy, itulah yang sangat disadari oleh orang-orang Yatsrib. Sehingga mereka tidak ragu berjanji akan membela dengan nyawa, dan terang-terangan menyebutkan kemampuan mereka dalam berperang.

Pada baiat inilah orang-orang Yatsrib (Madinah) terbukti layak disebut Anshar (penolong) sebab mereka yang rela berkorban jiwa raga demi Rasulullah dan kaum muslimin. Pembelaan mereka terhadap Nabi Muhammad diikrarkan layaknya membela anak-anak dan istri sendiri.

Menariknya, dalam Baiat Aqabah yang monumental itu, juga dihadiri oleh dua perempuan, yakni Nasibah binti Amr atau dikenal sebagai Ummu Ammarah dari Bani Najjar dan Asma binti Amr atau digelari Ummu Mani’ dari Bani Salamah. Dengan segala risiko besar yang mengintai, makanya kehadiran dua perempuan agung ini patut diapresiasi. 

Keduanya turut berikrar membela Nabi Muhammad dan agama Islam, yang kemudian hari dibuktikan dengan sangat heroik. Ummu Amarah Nasibah bin Ka’ab ikut perang Uhud dengan dua belas luka di badannya, sedangkan  Asma binti Amr tak kalah dahsyat perjuangannya di berbagai bidang.

Muhammad Ali Quthb dalam buku Perempuan Agung di Sekitar Rasulullah Saw. (2009: 189) menjelaskan:

Ummu Ammarah berkata, pada malam Baiat Aqabah, kaum lelaki menjabat tangan Rasulullah saw. dan Abbas ibn Abdul Muthalib memegang tangan Rasulullah. Pada saat hanya aku dan Ummu Mani’, suamiku Arbah ibn Amr berteriak, “Ya Rasulullah, di sini ada dua orang wanita yang ikut bersama kami, ingin berbaiat kepadamu.”

Lalu Rasulullah saw. menjawab, “Aku telah membaiat keduanya sebagaimana aku telah membaiat kalian, tetapi aku tidak berjabat tangan dengan perempuan.”

Akhirnya, baiat yang sembunyi-sembunyi itu pun bocor sehingga musyrikin Quraisy pun mengejar orang-orang Yatsrib. Mereka berhasil meloloskan diri hingga pulang dengan selamat. Sa’ad bin Ubadah sempat tertangkap dan dipukuli tapi kemudian dia berhasil juga pulang ke Yatsrib.

Kejadian itu makin membulatkan tekad orang-orang Yatsrib untuk mati-matian membela Rasulullah, sekalipun risikonya adalah perang. Namun, untuk tegaknya agama Islam mereka sudah ikhlas mengorbankan diri.

Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh dalam Buku Pintar Sejarah Islam (2014: 39) menerangkan:

Selesai baiat, Nabi memberitahukan rencana hijrah para sahabatnya ke Madinah, dan kaum Anshar diminta menyambut hangat dan menyediakan tempat tinggal dan makanan mereka. Kaum Anshar pun menerima dengan senang hati. Saat waktu hijrah tiba, mereka benar-benar menepati baiat dan ikrarnya kepada agama Allah dan Nabi-Nya.

Ketika meneliti biografi orang-orang Anshar yang mengikuti baiat Aqabah kedua di sejumlah kitab, kami mendapati bahwa ke 73-nya mati syahid di medan perang; sepertiga dari mereka pada masa Nabi dan sisanya lagi sesudahnya. Kami juga mendapati bahwa setengah dari mereka menghadiri semua majelis Nabi; 33 orang dari mereka selalu di sisi Nabi di semua peperangan beliau; dan sekitar 7 orang dari mereka mengikuti perang Badar.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah