KOMENTAR

ULTIMATUM "Long Hours at High Intensity, or Leave" dari Elon Musk yang berakhir tenggatnya pada Kamis (17/11/2022) waktu Amerika Serikat diperkirakan bakal membuat Twitter kehilangan ratusan karyawannya.

Rabu pagi, Elon Musk telah mengirim email kepada karyawan Twitter, mengatakan: "Ke depan, untuk membangun terobosan Twitter 2.0 dan berhasil di dunia yang semakin kompetitif, kita harus bekerja sangat keras".

Email tersebut meminta staf untuk mengklik "ya" jika mereka ingin bertahan. Mereka yang tidak menanggapi hingga pukul 5 sore pada hari Kamis akan dianggap telah berhenti dan diberikan paket pesangon.

Dari sekitar 3.000 karyawan, Elon Musk sebelumnya bahkan telah memecat setengah dari SDM Twitter termasuk manajemen puncak. Setelah itu, ia memberi ultimatum untuk para staf memilih antara "jam panjang dengan kecepatan yang intens" atau "berhenti".

Elon Musk menyatakan bahwa dia tidak khawatir dengan pengunduran diri banyak orang karena dia yakin orang-orang terbaik akan tetap tinggal.

Dia pada Kamis malam bahkan mengklaim baru saja mencapai titik tertinggi dalam penggunaan Twitter. Meski demikian, dia tak menjelaskan perihal "titik tertinggi" itu lebih jauh.

Elon Musk juga telah menemui sejumlah karyawan top management demi meyakinkan mereka untuk tetap di Twitter.

Lebih dari 110 karyawan Twitter di empat benua telah mengumumkan pengunduran diri lewat tweet mereka. Di lain pihak, belasan karyawan di bagian penjualan iklan menyebutkan niat mereka untuk tetap bertahan.

Sementara itu di saluran internal Twitter pada Kamis malam, Reuters melaporkan lebih dari 500 karyawan menulis pesan perpisahan.

Jajak pendapat di aplikasi Blind, yang memverifikasi karyawan melalui alamat email kantor mereka dan memungkinkan mereka berbagi informasi secara anonim, menunjukkan 42 persen dari 180 responden memilih "Mengambil opsi keluar, saya bebas!"

Seperempat mengatakan mereka dengan "menetap dengan terpaksa", dan hanya 7 persen dari responden yang memilih "ya, saya menetap, saya termasuk garis keras."

Melihat perkembangan terkini, belum diketahui jumlah pasti karyawan yang berniat keluar dari perusahaan. Manajemen Twitter pun menolak untuk memberikan komentar terkait hal itu.

Banyak programmer yang bertanggung jawab untuk perawatan layanan ikut 'cabut' dari Twitter. Hal itu tentu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kestabilan platform tersebut di masa depan.

Laporan tentang pemadaman Twitter meningkat tajam dari kurang dari 50 menjadi sekitar 350 laporan pada Kamis malam, menurut situs web Downdetector, yang melacak pemadaman situs web dan aplikasi.

Dalam obrolan pribadi di Signal dengan sekitar 50 staf Twitter, hampir 40 orang mengatakan mereka telah memutuskan untuk keluar.

Dan di grup Slack pribadi untuk karyawan dan mantan karyawan Twitter, sekitar 360 orang bergabung dengan komunitas baru berjudul "PHK sukarela", demikian dikatakan seseorang dalam grup Slack kepada Reuters.

Jajak pendapat terpisah di aplikasi Blind meminta staf untuk memperkirakan berapa persen orang yang akan meninggalkan Twitter berdasarkan persepsi mereka. Lebih dari separuh responden memperkirakan setidaknya 50% karyawan akan keluar.

Tak ayal, emoji blue heart dan salute membanjiri ruang obrolan internal Twitter pada hari Kamis, untuk kedua kalinya dalam dua minggu saat banyak karyawan Twitter mengucapkan selamat tinggal.

Mereka yang hengkang termasuk Tess Rinearson, yang ditugaskan membangun tim cryptocurrency di Twitter.

 




Komnas Perempuan: Saatnya Pekerja Rumah Tangga (PRT) Dihormati dan Diakui Hak-haknya Selaku Warga Negara Indonesia

Sebelumnya

Palang Merah Indonesia Berkomitmen Melanjutkan Layanan Kesehatan Keliling di Kamp Pengungsian Khan Younis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News