post image
KOMENTAR

"PAHALA tertinggi bukan dari banyaknya porsi mengerjakan ritual ibadah, namun apakah nilai ibadah mampu terwujud nyata."

Kalimat tersebut ditulis Dr. Abdul Hamid Mursi dalam buku SDM Produktif, Pendekatan Alquran dan Sains.

Kehidupan manusia di dunia memang bukan semata untuk mengerjakan ibadah yang menjadi tonggak hubungan manusia dengan Penciptanya. Ada kewajiban untuk bergerak dan berusaha (bekerja) agar manusia bisa meraih rezeki dari Allah Swt. dan hidup dengan layak.

Pun dengan Rasulullah saw. yang menganjurkan umatnya untuk bekerja. Bukan asal bekerja, melainkan bekerja yang dilakukan sebaik mungkin.

Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad mengatakan bahwa Allah Swt. mencintai hamba yang berkarya (bekerja).

Siapa yang bekerja dengan giat, yang bersikap profesional dalam pekerjaannya, Rasulullah bahkan menyandingkannya dengan jihad.

Bagaimana mungkin bekerja disamakan dengan jihad?

Banyak dari kita kadung mengartikan jihad dengan perang dan mati syahid. Padahal selain perang senjata, jihad juga mengandung makna berjuang dan bersungguh-sungguh.

Seorang kepala keluarga yang bekerja dengan bersungguh-sungguh untuk menghidupi keluarga, maka ia adalah pejuang di jalan Allah. Demikian pula seorang ibu yang bersungguh-sungguh menjalankan perannya sebagai madrasatul ula bagi putra-putrinya, bagaimana mungkin dia tak disebut sebagai seorang pejuang?

Apa pun profesi yang dilakoni seorang Muslim dalam kehidupan ini, dia harus mampu menunjukkan kualitas terbaiknya. Dan kualitas terbaik itu hanya bisa tercipta dari kesungguhan untuk bergerak dan berkarya.

Sungguh merugi seorang Muslim bila banyak waktu dihabiskan untuk menjalankan ibadah wajib dan sunnah secara rutin namun etika bekerja dan etika sosialnya nol.

Dia enggan bekerja karena berdalih telah beribadah sekuat tenaga dan yakin bahwa Allah akan mencukupkan kehidupannya.

Dia bahkan memilih untuk meminta-minta, memohon belas kasihan orang lain, tanpa tergerak untuk melakukan sesuatu. Padahal jelas-jelas, Allah menjamin rezeki bagi setiap hamba yang mau berusaha.

Dalam surah Al-Mulk ayat 15, Allah Swt. berfirman, yang artinya, "Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah (Markaz Ta'dzhim Al-Qur'an ) di bawah pengawasan Profesor Fakultas Al-Qur'an Universitas Madinah Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz menyebutkan bahwa Allah telah memberikan bumi dan seisinya untuk hamba-Nya.

Allah menjadikan bumi mudah untuk ditapaki, maka berjalanlah ke segala penjurunya untuk mencari nafkah dan rezeki. Carilah nikmat-nikmat Allah yang ada di bumi.

Sebelum seorang Muslim kembali kepada Khalik-nya, maka dia mestilah meraih rezeki dari Allah dengan bekerja. Itulah yang dimaksud dengan bersikap profesional. Wallahu a'lam bishshawab.




Aa Gym: Prank Itu Dusta, Haram Hukumnya

Sebelumnya

Menjaga Diri dari Meminta-minta

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur